PINDAH SEKOLAH, DIBULLY MEMBUATKU TANGGUH
PINDAH SEKOLAH
“Hai semuanya nama ku Ziya, aku pindahan dari Bandung. Sekarang aku tinggal di Pondok Pesantren AL-FUTUHIYAH. Salam kenal ya eman-teman….” Ujar Ziya, anak baru di SD HARAPAN NUSA BANGSA.
“Nah, Ziya silahkan duduk di bangku kosong itu.” pinta bu Ina.
“Terimakasih Bu Ina” Ujar Ziya berterimakasih. Ziya pun berjalan menuju bangku kosong tersebut. Ternyata Ziya duduk di dekat Gista.
“Hai Ziya salam kenal, nama ku Gista.” sapa Gista seraya berjabat tangan dengan Ziya.
“Hai juga Gista…” ujarku seraya tersenyum kepada Gista.
“Anak-anak, Hari ini kita akan melakukan MOS, atau Masa Orientasi Siswa. Untuk ikut serta dalam kegiatan MOS yang dilakukan anak-anak kelas satu. Tugasnya adalah, kalian harus meminta tanda tangan seluruh guru di SD HARAPAN NUSA BANGSA, selain itu kalian harus melakukan budaya 5S.”
“5S itu apa aja bu?” potong seorang siswa berbadan tinggi.
“Adi… dengar dulu penjelasan bu Ina…, jangan memotong penjelasan guru” ujar seorang siswa berkaca mata.
“Terimakasih Reva…, jadi, 5S adalah Salam, Sapa, Senyum, Sopan, dan Santun. Kalian harus melakukan budaya 5S saat melakukan MOS. Jika kalian tidak mengenali guru yang akan kalian minta tanda tangan, kalian tidak boleh bertanya ke teman. Kalian harus bertanya dengan guru itu sendiri. Jadi kalian semua sudah paham?” jelas Bu Ina.
“Paham bu Ina..” seru siswa 4D secara kompak.
“Ada kah yang mau ditanyakan?” Tanya Bu Ina.
“Saya bu Ina” ujar seorang siswa seraya mengangkat tangannnya.
“Silahkan Tina..” ujar Bu Ina mempersilahkan.
“Kalau boleh tau ya bu, jumlah guru di SD HARAPAN NUSA BANGSA ada berapa ya bu?” Tanya Tina
“Ada… sekitar 53” jawab bu Ina
“Kita harus selesai dalam 1 hari bu?” Tanya Gista.
“Enggak dong.., waktu MOS nya 4 hari anak anak” jelas bu Ina.
“KRINGGGGGGG” Suara tanda istirahat berbunyi
“Nah anak-anak sekarang kalian bisa istirahat dan mengambil kertas untuk ditandatangani guru-guru saat MOS..” jelas bu Ina
“Yeaay istirahat…” sorak murid kelas 4D kompak.
“Gista yuk kita ambil kertas nya.” ajak Ziya.
“Aduh, bukan nya nolak ya Zi aku mau makan bekal sama Tia…” ujar Gista.
“Ohh oke deh, gapapa kok Gis” ujar ku. Gista pun menuju ke meja milik Tia, sahabatnya.
Kukira Gista bakal jadi sahabat pertamaku di sini, ternyata sulit juga buat beradaptasi di sekolah baru.
‘Deuuh jadi inget sama Mai” batin Ziya dalam hati
“Hei Ziya.., ngapain kamu bengong aja? Kuy ambil kertas sama aku” ajak seseorang membuyarkan lamunannya Ziya.
“Eh, sorry ya ziy kalau ngegas, emang udah logatnya aku begini” ujarnya seraya berjabat tangan denganku.
“Nggak papa kok…, kamu dari Medan ya?” Tanya Ziya
“Yup betul sekali, nama ku Rana dan ini teman ku nama nya Bila dari Demak” ujarnya seraya menunjuk temannya. “Hai Ziya.., salam kenal” ujar Bila.
“eh, udahlah nanti istirahat nya selesai kita nggak bisa makan nanti..” ujar Rana seraya memegangi perutnya yang kelaparan.
“Yuuuk” Ujar Ziya dan Bila bersamaan.
Kita bertigapun bergegas mengambil kertas untuk MOS, dan berjalan menuju kantin sekolah.
==========
Di perjalanan menuju kantin Sekolah,
“Bruuuuuukk” suara orang terjatuh terdengar. Ziya pun refleks menoleh ke sumber suara.
“Eeeeh.., ada anak yang jatuh!” ujar Ziya kepada Rana dan Bila.
“Huuuuh… pasti si Marpa bikin gaduh lagi” ujar Rana kesal
“Kita harus bantu dong kayaknya anaknya luka tuh” ujar Ziya
“Iya , aku setuju sama usulmu Ziya..” ujar Bila menyetujui Ziya.
Mereka bertiga pun berlari menuju tempat kejadian.
“Heeey.., maksudmu apaan sih dorong dorong anak itu?!” tegur Ziya
“Emang ada masalah buatmu? Kamu itu cuma anak baru yang ngaku-ngaku kelas 4, padahal masih kelas 1” Jawab anak itu seenaknya dan disambut gelak tawa ejekan kawan-kawan yang lainnya
“Enak aja lah kau ni Marpa!” teriak Rana tak mau kalah
“Hey.. denger ya.. Marpa.., kamu itu gak ada bosen bosennya ya? Dari dulu Sukanya usil kayak gini, emang ada manfaatnya?!” Ujar Bila tak mau kalah
“Terserah aku lah.., “ ujar Marpa melawan.
“Udahlah Bil, Ran kan kita cuma mau bantu adiknya bukan ngomong sama anak ini” ujar Ziya seraya menunjuk Marpa.
“Huuuuh.. dasar pahlawan kesiangan!” ujar Marpa kesal.
Ketiga sahabat itu tidak mengubris perkataan Marpa, mereka hanya membawa adik kelas yang terjatuh itu ke UKS. “ Oh ya …, nama mu siapa ?” Tanya Ziya
“Mbak, anak baru yang di pondok kan? Nama ku Aulia” Jawabnya
“Iya aku anak baru yag di pesantren itu” ujar Ziya.
“Makasih ya mbak Bila, mbak Rana, sama mbak…,”
“ZIYA” ujar Bila dan Rana bersamaan.
“Eh bentar lagi MOS nya mau dimulai nih…” ujar Ziya.
“Yaudah ya lia kita mau ke kelas dulu” ujar Bila.
Ziya, Bila dan Rana bergegas menuju kelas.
“Huuh gara-gara si Marpa kita nggak jadi makan di kantin” keluh Rana.
“Iya.., dasar Marpa, si Biang Kerok sekolah” ujar Bila kesal.
“Udah deeeeeh yuk kita minta tanda tangan nya Bu Ina “ ajak Ziya.
“Eh Ziy, kamu nggak kesal diejek Marpa kayak tadi?” Tanya Rana penasaran.
“Dari kelas 1, aku udah biasa di-bully, biar aja ntar si Marpa juga bosen sendiri” ujar Ziya tenang.
“Aaaaah nggak mungkin lah Ziy, kamu belum kenal Marpa, si biang kerok Harapan Nusa Bangsa..….,”
Lagi asik ngobrol, tiba-tiba ada yang bertanya, “Ziya, Rana, Bila kalian nggak minta tanda tangan?” tanya seseorang kepada mereka bertiga.
“Laaaaah ini kita mau ke kelas Reva..” jawab Bila
“oohh hahahha,boleh gabung sama kalian?”Tanya Reva
“Emmmm, KENAPA NGGAK” jawab Ziya, Bila, dan Rana hampir bersamaan
“Oh ya Ziya, kan kamu dari Bandung ya, kalo aku dari Depok” ujar Reva.
“Siapa REV?” Tanya Bila
“Ya aku lah masak kamu” jawab Reva
“Siapa yang nanya” Ujar Bila dan rana bersamaan.
“HAHAHHAHHAHA” terdenar suara gelak tawa dari mulut Ziya, Rana, dan Bila, sedangkan Reva hanya cemberut, kesal dengan perbuatan mereka.
“Wooy berisik tau!” tegur seseorang
“Apaan sih kamu Put? Emang ini sekolah punya simbah mu?” ujar Rana.
“Tauk ah, dasar cerewet!” ujar Putra kesal.
“Eeeh yuk buruan kita minta tanda tangannya Bu Ina daripada kita ngurusin anak ini,“ ajak Ziya
“AYOO”. Mereka pun berjalan menuju meja kerja Bu Ina.
“Assalamu’alaikum, Selamat pagi menjelang siang Bu Ina” ujar Ziya, Bila, Reva, dan Rana mengucapkan salam dan menyapa Bu Ina.
“Wa’alaikumussalam anak anak, mau apa nih?” jawab bu Ina.
“Ummm, ini Bu Ina, karena hari ini ada kegiatan MOS, kami mau minta tanda tangannya bu Ina…, apakah boleh?” Tanya Ziya.
“Boleh nggak ya….?” Ujar Bu Ina menggoda.
“Boleh dong buu” ujar Reva.
“Baiklah anak-anak, mana kertas kalian?” Tanya bu Ina.
Dengan semangat mereka pun memberikan kertas yang sudah diberi nama. Bu Ina langsung menyiratkan tanda tangan nya ke kertas milik mereka berempat.
“Terimakasih Bu Ina…” ujar Ziya, Bila, Rana, dan Reva berterima kasih.
“Sama-sama…” Ujar Bu Ina. Berempat mereka pun pergi meninggalkan meja Bu Ina, dan berjalan menuju kelas 4A.
“Siapa ya guru kelas 4A?” Tanya Ziya yang belum mengerti Guru-guru di SD HARAPAN NUSA BANGSA.
“Eh kan nggak boleh tanya ke temen Ziy. jadi kamu harus tunggu di pintu dulu, nanti kalo kita udah minta tanda tangannya bu Yaaa,”
“Reva ngapain kamu kasih tau?”potong Bila dan Rana.
“Eh iya keceplosan, kamu belum tahu kan namanya bu guru itu Ziy?,” tanya Reva seraya menoleh ke Ziya.
“Iya deh.., aku belum tahu kok. Yaudah sana kalian masuk ke kelas 4A.
“Oke, yuk kita ke kelas 4A.” ajak Bila.
“Berangkaat” ujar Rana.
Mereka ber tiga pun langsung masuk ke kelas 4A dan mendekati meja Bu Yanti, sedangkan Ziya menunggu di balik pintu masuk.
“Assalamu’alaikum…, selamat siang Bu Yanti” ujar Bila, Rana, dan Reva kepada bu Yanti.
“Wa’alaikumussalam, kenapa ya?” jawab Bu Yanti sekaligus bertanya.
“Kami boleh minta Tanda Tangan bu Yanti?” Tanya Bila seraya menunjuk Rana dan Reva.
“Boleh” jawab Bu Yanti singkat padat dan jelas. Bila, Rana, dan Reva pun memberikan kertas untuk ditanda-tangani Bu Yanti.
“Terimakasih Bu Yanti.., kami izin pamit ya..” ujar Rana berpamitan dengan dilanjutkan anggukan kepala Bila, dan Reva.
“Eee.., Assalamu’alaikum Bu Guru… Saya Ziya, murid baru di kelas 4A. Ibu, Saya boleh tau namanya siapa?” Ujar Ziya bertanya kepada Bu Yanti. “ eeh, Wa’alaikumussalam. Kamu anak baru dari bandung itu ya?” Jawab Bu Yanti sekaligus bertanya.
“Iya bu…, “jawab Ziya singkat
“Nama ibu Dwiyanti, kamu bisa memanggil ibu, Bu Yanti” jawab Bu Yanti
“Oooh terimakasih Bu Yanti, apakah saya boleh minta Tanda Tangan nya Bu Yanti? Saya ada tugas untuk berkenalan dan meminta tanda tangan ke semua guru di Sekolah” Tanya Ziya kepada Bu Yanti.
“Boleh dong, kenapa tidak” jawab Bu Yanti singkat. Ziya pun memberikan kertas untuk ditanda-tangani Bu Yanti. Setelah selesai menandatangani , Bu Yanti pun memberikan kertas nya kepada Ziya.
===============
“KRIIIIIIIIIIIING” Bel yang menandakan waktu pulang sudah berbunyi.
“Haaaaah perasaan baru aja 5 guru udah pulang aja” ujar Rana.
“Iya yaaaah“ Ujar Ziya, Bila, dan Reva serempak.
“Yaudah yuk kita ke kelas“ Ajak Ziya seraya berjalan menuju kelas 4D.
Tiba-tiba terdengar teriakan keras dari kejauhan. “Heiiii.. Bocil! urusan kita belum selesai!!!
“Heh Marpa, siapa yang kau maksud Bocil itu?” tanya Rana
“Teman kamu lah, yang datang datang udah bikin masalah!” ujar Marpa
“Bukannya kamu ya, yang bikin masalah?” tanya Ziya
“Heh denger ya, aku itu udah lama di sini, dan kamu cuma anak baru yang buat masalah” ujar Marpa.
“Udah lah terserah kamu mau ngapain…,” ujar Ziya mengalah
“Halaah bilang aja nggak berani sama aku.., dasar cemen, lemah!” teriak Marpa.
“Ngapain sih kamu jail banget?, mau aku laporin ke bu Ina?” ancam Bila.
“Ciiiiih dasar pengadu, gitu aja udah ngadu ke Bu Ina.” ujar Marpa meremehkan Bila.
“Udah lah Bil, biarin aja dia mau ngomong apa. Nanti juga capek sendiri” bisik Ziya kepada Bila.
“Huuuuuuh dasar pengecut, lemah banget!” teriak Marpa
“Udah biarin aja” bisik Ziya, kepada Bila, Rana, dan Reva.
“Kok kamu nggak marah sih Ziy digituin?” tanya Rana.
“Iya, walaupun kamu yang diejek tapi malah kita yang marah..” ujar Reva menambahkan.
“Perasaan kamu udah pernah nanya deh ran?” tanya Ziya kepada Rana.
“Habisnya aku heran,kamu digituin malah diem aja, kalem waeee kata orang Sunda. Iya nggak Ran?” timpal Bila
“Soalnya kata Bundaku, di setiap tempat itu pasti ada orang yang nakal,jadi kita nggak boleh langsung down,”
"oowwh"
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar