Ketika aku gagal melakukan sesuatu, pada siapakah aku akan mengadu?
Apa sih yang biasanya kalian lakuin kalau ada sesuatu yang belum siap, padahal kalian sudah waktunya untuk masuk sekolah?
Sudah pasti kalian akan bertengkar atau membentak ibu karena dia tidak bisa menyiapkannya dengan baik.
Sebelum untuk membentak ibu kalian lagi, aku hanya ingin kalian membaca sebentar cerita yang kualami...
Ibuku meninggalkanku bekerja saat aku berada di kelas 2 sekolah dasar, saat aku masih didesa bersama nenek dan kakekku, aku hidup di keluarga yang disiplin dan jarang berbuat hal yang bisa dibilang tidak disiplin.
Setahun berlalu aku pindah dari desa ke kota, saat itu aku tidak tahu apa" , yang aku tau aku senang karena ayahku membawaku ke kota.
Padahal, itu adalah awal dimana semua pengalaman pahitku dimulai.
Semenjak aku pindah ke kota, Aku selalu menyiapkan semuanya sendiri.. Aku selalu dihadapkan pada pilihan yang mau tidak mau aku harus memilihnya. Sederhana saja saat mencuci baju, ketika aku malas.. aku mendapatkan pilihan dimana mau tidak mau aku harus mencucinya atau tidak punya lagi baju yang kupakai, Atau ketika aku tidak bisa bangun pagi sendiri aku akan terlambat ke sekolah dan malu.
Tidak ada yang mau tau tentang apa yang kurasakan semenjak dahulu, yang aku tahu saat aku tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik, itu akan menjadi kesalahanku.
Kalian harus bersyukur ketika masih ada orang yang peduli dan menyiapkan segala sesuatu untuk diri kalian.. Karena tidak semua orang bisa merasakan itu. Salah satunya adalah aku, ketika aku tidak bisa menemukan kaos kakiku aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri karena aku lupa meletakkannya dimana?, Sedangkan kalian? Mungkin kalian hanya bisa marah ke ibu karena tidak bisa menyiapkannya dengan baik.
Bahkan terkadang aku membenci temanku yang tidak mau makan bekal yang dibawakan ibunya ke sekolah hanya karena tidak ingin makan atau tidak sesuai menu yang diinginkan. Kenapa aku membencinya? Simple, karena aku tidak bisa merasakannya, aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dibawakan bekal sesuai apa yang aku mau..
Aku hanya bersyukur ada nenek yang kadang membawakanku bekal meskipun itu hanyalah makanan sederhana apa adanya tapi dia masih mengusahakannya mengemas makanan itu untukku.
Saat aku disekolah dasar, sudah biasa aku terbangun di jam yang seharusnya aku sudah siap karena tidak ada yang membangunkanku dan selalu menangis karena melihat seragamku masih tergantung di luar, terkadang aku masih bisa melihat tetesan air jatuh yang menandakan pakaianku belum kering karena aku baru sempat mencucinya kemarin malam, dan aku segera menyetrikanya bahkan saat air mataku masih mengalir karena aku tidak ingin orang melihatku sebagai orang yang tidak terawat hanya karena seragam yang tidak rapi.
Saat aku beranjak ke sekolah menengah pertama, aku kira akan semakin membaik.. Ternyata tidak, sama saja ini tidak ada bedanya.. Hanya saja aku lebih tua dari kemarin saat di sekolah dasar.
Kini, aku kembali dan memasuki ke jenjang lebih dewasa yaitu berada di sekolah menengah akhir..
Aku harap ini tidak akan terulang kembali,aku sudah mempersiapkan diriku lebih baik, namun hari ini aku merasakannya kembali karena seragam yang seharusnya kupakai tidak bisa diantar tepat waktu oleh orang loundry di tempatku, padahal aku sudah memberitahunya dari kemarin. Itulah kenapa jangan berharap / bergantung pada manusia, karena akan sakit sekali saat tau realita tidak sesuai dengan ekspetasi kita.
Bayangkan saja betapa hancurnya hatiku saat mengendarai motor dan berusaha mencari pinjaman seragam dari temanku.
Yang aku tahu tidak semuanya adalah kesalahanku, aku sudah mengusahakannya tetapi entah mungkin dunia terlalu kejam kepadaku.
Hari ini aku bukanlah anak" Lagi.. Aku sangat malu ketika aku harus datang terlambat dengan alasan konyol, aku berada di salah satu sekolah ternama dan itu akan membuatku sangat malu dan tersiksa saat aku gagal menjadi murid yang disiplin.
Dan terakhir, aku ingin mengatakan sesuatu..
"Pantaskah aku selalu membayar sesuatu yang bahkan tidak semua berasal dari kesalahanku?"
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar