Ilia Zakyfa

Laksana angin malam yang berpusar...

Selengkapnya
Navigasi Web

Whisper of Loneliness (Prolog)

Sebentar lagi, kediaman sederhana itu kembali menyambut sepi.

“Kau sudah berkemas?” tanya Ji di sela mengunyah menu makan malam.

Gadis di seberang meja mengangguk. “Sudah, Prof.”

“Bagus. Besok, bus rute pusat kota akan berangkat pukul enam. Tiba di alamat yang kutulis, kau tahu harus melakukan apa.”

Si gadis mengangguk lagi. Setelah itu, suara alat makan mengambil alih.

Saat isi piring hampir habis, barulah Ji menangkap sesuatu yang ganjil. “Kau tidak suka hidangannya, Kazumi?”

Gadis itu melirik porsinya yang masih utuh, tersenyum—lebih mirip meringis—canggung. “Suka, Prof. Maaf, aku melamun.”

“Tidak apa. Sebaiknya habiskan sebelum dingin.”

“Baik.” Ia mulai meraih sendok.

“Kau tampak cemas,” ucap Ji sekembali dari wastafel. “Soal perjalanan itu?”

Gerakan Kazumi terhenti. “Bagaimana Anda tahu?”

“Hanya menebak. Remaja, usia rentan berpikir terlalu banyak.”

Kazumi menunduk. “Bagaimana jika aku gagal, Prof?”

“Apa yang membuatmuberpikir begitu?” Ji bertanya lembut.

“Aku tidak pernah membayangkan menjadi penumpas. Meninggalkan kota, melawan monster di bawah sana … menyentuh senjata pun tidak.”

Ji terus mendengarkan, membiarkan gadis itu mengeluarkan keresahannya.

“Satu bulan berlatih dengan Anda, kukira tidak akan sampai pada tahap bergabung dengan aliansi. Mereka lebih dari hebat. Melindungi Celestia. Aku ragu dapat melakukannya.”

Ji menyentuh pundak Kazumi. “Lihat aku, Nak.” Gadis itu tetap menunduk.

“Ragam peristiwa hingga hari ini sejatinya tidak pernah terbayangkan. Fenomena meteor, anomali geografis, mutasi genetik. Tambahkan para monster di permukaan. Siapa sangka. Kita beruntung termasuk manusia yang bertahan.

“Latihan panjang menunggumu di sana. Misi menuntut kesiapan matang. Tapi tak ada salahnya bergerak perlahan. Pelindung Celestia? Percayalah, kau layak menjadi salah satunya.” Ji mengusap pelan bahu Kazumi sembari tersenyum hangat. Netra keduanya bertemu tidak lama kemudian.

“Terima kasih banyak, Prof. tapi, apa yang membuat Anda begitu yakin?”

Ji terdiam sejenak lantas tertawa kecil. “Kau mirip dengan anak yang pernah kudidik.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post