Varelta Sabrina Zuhliarto

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Iman Seteguh Baja

Iman Seteguh Baja

Karya : Varelta Sabrina Zuhliarto

VII A

Aku terus melangkahkan kaki kedepan. Sudah jauh ku berjalan sedari tadi. Berjam jam kuberjalan menjauh dari daerah tempat tinggalku yang terkena bencana. Rumahku hancur diterjang hujan badai dan banjir bandang. Aku sendirian. Berjalan tanpa arah yang pasti.Dingin, itu yang kurasakan sekarang.

Orang tuaku telah tiada sejak aku masih kecil. Dan selama ini aku dibesarkan oleh nenekku yang sudah lanjut usia. Nenek mengajariku untuk bisa menjadi anak yang mandiri.Beliau mengajariku cara memasak makanan, mencuci pakaian, menyetrika pakaian dan aktivitas rumah yang lain. Alhamdulillah, aku sekarang menjadi anak yang mandiri berkat bantuan nenek.

Namun, kabar duka tak disangka sangka datang kepadaku. Nenekku dikabarkan telah meninggal karena jatuh sakit. Saat itu aku berada di luar kota untuk melanjutkan pendidikan. Aku panik! Aku sedang berusaha untuk tenang, namun tidak bisa. Aku bergegas meminta izin kepada guru dan kembali ke rumah.

Bertahun tahun kemudian, aku tinggal sendiri dikamar kos dengan pekerjaan menjadi buruh di sebuah perusahaan. Sedikit demi sedikit, penghasilan yang kudapatkan dari pekerjaan ini mampu mencukupi kebutuhanku sampai saat ini. Aku terus bersyukur dan bersyukur kepada Allah swt. sang pencipta semesta alam. Hingga aku makin giat dalam beribadah dan lebih berhati hati terhadap segala sesuatu.

Suatu hari, Allah memberikan cobaan kepadaku. Aku di pecat dari satu satunya pekerjaanku untuk memenuhi kebutuhan sehari hariku dan dipecat tanpa alasan yang jelas.” Lalu setelah ini, apa yang akan aku lakukan diumur senja seperti ini?” , “Kenapa Allah memberikan cobaan kepadaku yang berat seperti ini?” Gumamku dalam hati.

Bahan persedian makananku mulai menipis. Tagihan kos yang menunggak selama dua bulan pun menjadi beban. “Apa aku coba saja memungut sampah sampah lalu menjualnya seperti apa yang dilakukan pemulung?” Ku bertanya pada diriku sendiri. Dan aku pun mengisi hari hariku untuk memungut mungut sampah dan menjualnya demi mendapatkan sesuap nasi.

Ku berjalan terus, menyusuri tiap tiap rumah. Dan mengambil sampah sampah yang layak didaur ulang. Melangkah maju dan terus maju, sampai sampah memenuhi kantong plastik besar yang kupikul di bahuku. “Aku harus kuat! Allah pasti menolongku.” Gumamku menyemangati diri.

Allah mengujiku dengan cobaan kedua. Penghasilan sebagai pemulung tentu hanya cukup untuk makan sehari hari. Itu pun terbatas. Sehingga tagihan kos pun semakin menumpuk. Ibu pemilik kos sudah seringkali mendatangiku dan menagih uang kos yang sudah berbulan bulan tak kunjung dibayar.

“ Tok! Tok! Pak Rofiq! Buka pintunya! “Perintah ibu kos.

“ Iya bu? Ada perlu apa mencari saya?” Aku bertanya kepadanya.

BRAK! Ibu kos membanting buku tebal yang dibawanya.

“Gausah banyak tanya ya kamu. Kamu tau ga tagihanmu itu udah nunggak tiga bulan belum kamu bayar sampai sekarang! Saya sudah capek sama kamu! Lebih baik kosongkan kamar ini sekarang! Saya gak mau tau. Pokoknya besok sudah harus kosong!”Cerocos ibu kos.

“ Maaf bu saya tidak bisa membayar tepat waktu, tapi saya mohon , tolong kasih saya sedikit waktu lagi untuk melunasi hutang saya.”Ujarku memohon kepada ibu kos.

“ HALAH! Saya gak mau lagi termakan janji manismu itu! Pokoknya saya gak mau tau, besok kamar ini harus kosong TITIK! Mengerti?” Ucap ibu kos dengan penuh emosi.

“ Baik bu.., Saya mengerti..” Kataku sembari menahan isak tangis.

“ Gitu dong daritadi..” ucap Ibu kos puas.

Malam ini, aku terus berjalan . Terus melangkah maju tanpa arah yang jelas. Kejadian ini berulang dua kali banyaknya. Yang dulu, aku juga pernah mengalami hal seperti ini. Tak punya tujuan, hampa, melangkah tanpa arah, dan kesepian. Ya, aku kesepian. Tak punya seseorang yang merangkul. Tak ada yang menghibur saat kesedihan menyambutku. Tak ada yang mendorongku untuk terus maju. Tak ada yang bisa membuatku tergar kembali untuk bangkit. Dan tak ada orang tua di sisiku.

Tapi aku masih punya Allah. Ya! Allah pasti akan membantuku. Allah pasti akan membuatku tegar dan bangkit kembali. Allah yang akan mendorongku untuk terus maju dan melewati semua ini. Allah yang merangkulku dan Allah yang sudi mencintaiku.

Ditengah rintik hujan yang terus menetes. Ku ambil sajadah dan berwudhu dengan air hujan. Kududuk diatas sajadah lebar yang kubawa. Lalu kuangkat tangan dan berdoa, “ Ya Allah, apabila kau datangkan ujian ini kepada hamba, hamba mohon kuatkanlah hamba dalam melewati semua ujian yang Engkau berikan. Ya Allah, hamba bersyukur masih dapat merasakan nikmat iman yang telah Engkau anugerahkan kepada hamba. Ya Allah ..Tegarkan diriku dan buat aku bangkit kembali kepadaMu Ya Rabb.. Semoga dengan ujian yang kau berikan ini, hamba jadi lebih bertakwa dan lebih beriman kepadaMu Ya Allah. Allahummaghfirli dzunubi waliwaa lidayya warhamhuma kamaa rabbayaani shogiiro, Robbana aatina fiddunyaa hasana wafil ’akhiroti hasana waqina ‘adzaa bannar, Washallallahu ‘alaa sayyidinaa Muhammad Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.” Do’aku memohon kepada sang penguasa alam semesta.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post