Bab 1: Pergi
"Dasar anak gak becus! emang anak kurang ajar kamu itu ya!" Kata-kata yang dilontarkan oleh orang tua kepada orangnya. Nara hanya bisa berdiam diri sedikit air mata berjatuhan ketangannya. satu tamparan melayang kepipi lembutnya "PLAK!". Nara memegang pipinya sambil meringis kesakitan.
"sekarang juga pergi kamu dari rumah ini!" bentak kedua orang tuanya. Tanpa berpikir panjang Nara langsung berlari keluar dari rumahnya. Tanpa menggunakan alas kaki Nara berlari sambil menangis tersedu-sedu. Ia terus berlari tanpa tujuan. Bajunya sudah kotor dan kumal tetapi Nara tak peduli. Ia teringat keluarga yang begitu membencinya meskipun begitu Nara tetap sayang kepada keluarga. Nara tidak tahu mengapa keluarganya begitu membencinya.
Beberapa saat kemudian Nara merasa kakinya sangat sakit. matanya pun sudah bengkak. Nara melihat sekelilingnya ternyata dia berada di hutan yang sangat lebat. Ia hanya melihat seberkas cahaya bulan. "Sepertinya sudah malam, disini sangat dingin," ucap Nara sambil mengusap kedua tangannya. Nara menyandarkan tubuhnya ke sebatang pohon besar untuk melepaskan penat semantara. Nara kemudian termenung dan berpikir ia merasa tidak berguna, ia tidak bisa membuat orang tuanya bangga, ia merasa tidak bisa membahagiakan keluarganya. Nara benci dirinya.
Tapi Nara bukanlah anak yang ingin berlarut dalam kesedihannya. Akhirnya Nara terus melanjutkan perjalanannya yang tanpa tujuan itu. Tak lama kemudian nara melihat rumah tua "Bagaimana bisa ada rumah di dalam hutan yang lebat ini," batin Nara penasaran dan juga takut. Ia berpikir bagaimana jika nanti di dalam rumah itu ada yang penjahat yang berbadan besar dan menyeramkan seperti cerita-cerita dibuku fantasi. Tapi rasa penasaran Nara lebih besar dari rasa takutnya. Ia melihat sekeliling pekarangan rumah itu. Rumah tua yang di atapnya tumbuh tanaman menjalar yang sangat panjang dan lebat.Nara mengetuk pintu rumah yang bertuliskan 'ROXELANA'.
Tok tok tok.
Tidak ada jawaban. Nara mencoba mengetuk kembali pintu rumah tersebut "halo apakah ada orang didalam?". Tiba-tiba saja pintu rumah itu terbuka dan kemudian muncul seorang wanita tua berwajah keriput yang tubuhnya sudah sangat bungkuk. pakaiannya sangat lusuh dan compang-camping. Nara sedikit terkejut awalnya tapi ia tetap menjaga sikapnya. "oh! halo maaf sebelumnya saya Nara," kata nara dengan sedikit ketakutan "ya ada apa?," kata wanita tua itu dengan wajahnya yang sedikit terlihat menyeramkan itu. "Ahh begini saya diusir dari rumah saya dan sekarang saya tidak tahu harus bagaimana, untuk sementara waktu bolehkah saya beristirahat dirumah anda?,"ujar Nara. " Hmm ya masuklah" kata penyihir itu sambil tersenyum ramah.
Nara pun masuk kedalam rumah penyihir tersebut. Rumah kayu itu sangat sempit dan mungil, bahkan langit-langit rumahnya hanya berjarak 3 cm dari kepala Nara. Rumah itu berbentuk persegi dengan satu ruangan dapur yang terpisah dibelakangnya. di sisi kanan rumah itu terdapat cerobong asap tua yang sepertinya sudah lama tidak digunakan. Kemudian disamping cerobong tua itu terdapat kursi kayu yang sudah rapuk. di dinding kayu yang berwarna ungu terdapat sebuah sapu terbang yang kira-kira sudah berumur puluhan tahun. "Apakah anda seorang penyihir?," tanya Nara. "Ya tapi itu dulu kira-kira 50 tahun yang lalu," jawab penyihir itu. "tapi mengapa anda berhenti menjadi penyihir?" "entahlah aku hanya ingin menjadi manusia normal seperti dirimu"
Kemudian wanita tua itu membentangkan sebuah tikar yang sudah usang didekat perapian tua. "Kau bisa tidur disini," kata wanita tua itu. "Emm, tapi aku tidak berniat untuk tidur disini," ujar Nara segan. "Aku hanya ingin beristirahat sebentar saja," lanjut Nara. "Tidak apa, lagi pula ini sudah malam kau bisa istirahat dulu disini.”
"Terima kasih, tapi dimanakah anda akan tidur?" "Saya bisa tidur disana," tunjuk wanita itu kearah sofa tua yang kulitnya sudah di grogoti rayap. "Oh, ngomong-ngomong bagaimana saya harus memanggil anda?" lanjut Nara "Panggil saja aku Roxelana" "Oke baiklah penyihir Roxelana" gurau Nara
Setelah itu Roxelana pergi ke dapur mungilnya. Nara langsung membaringkan alas di atas karpet. Tapi tiba-tiba Nara teringat dengan keluarganya "apakah mereka mencemaskanku? apakah mereka mencari ku? Ah tidak mungkin," ucap Nara pelan. "Sudahlah lupakan saja, lebih baik aku tidur saja." Tak lama kemudian, Nara sudah tertidur lelap dalam kegelisahan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar