Kebaikan Dalam Kejahatan #7 || Lagi-lagi Sepucuk Surat
Hati nuraninya mengatakan, ia harus melakukan apa yang di instruksikan dalam surat tak bertuan itu. Karenanya, Asma berjalan ke lemari besar dan mencari kertas serta pena yang katanya ada di dalam ,Asma menemukannya dan segera mengambilnya. Setelah itu ia mulai menulis jawabannya di kertas tersebut.
"Iya. Aku Asma. Nama lengkapku Al-Asma Fauziah Hafidzah. Aku memang pernah mendengar cerita tentang kakak laki-laki ku dari bunda. Tapi kata Bunda, kakak sudah tidak ada harapan lagi untuk dicari. Jadi sekarang, aku dianggap anak tunggal oleh ayah dan bunda. Kata bunda, kakakku di culik saat sore hari dan sejak itu tak pernah kembali..."
Itulah isi jawaban Asma yang ditulisnya dengan tangan gemetar. Ketakutan masih menyelimuti sekujur tubuhnya. Dinginnya malam tak ia hiraukan. Terlebih dengan suasana mencekam yang menyelimuti gedung itu. Asma melipat kertas dan menaruhnya dalam kantung. Setelah itu, ia mencoba untuk tidur. Asma berbaring di ranjang dan menatap langit-langit. Ia berharap, besok menjadi hari yang lebih indah.
Esoknya, Asma bangun dengan sekujur tubuhnya yang masih terasa pegal. Sinar mentari yang hangat menerpa wajahnya. Tiba-tiba ia teringat tentang surat yang kemarin ia jawab. Asma meraba kantungnya. Jemarinya menyentuh kertas yang ia maksudkan. Asma melempar pandangannya ke arah jam. Baru jam setengah 8. Ia memandang pintu dengan matanya yang sayu.
Pintu dibuka. Dan masuklah seorang wanita yang sudah kelihatan berumur. Wanita itu membawa sebuah bungkusan. Kelihatannya seperti bungkusan nasi padang. Asma memandang nya dengan kepingin. Ia memang sudah lapar dan haus. Wanita itu meletakkan bungkusan tadi di atas meja lalu menatap Asma dibalik kacamatanya yang bulat.
"Ini sarapanmu." Katanya singkat. Wanita itu sudah hendak melangkah keluar saat Asma memanggilnya.
"Maaf, anda siapa? Dan terimakasih untuk makanannya." Kata Asma.
"Panggil saja aku Mbak Tata." Jawab wanita itu tetap dengan singkat. Setelah itu, ia keluar.
Tanpa pikir panjang, Asma langsung memakan bungkusan yang tadi dibawakan oleh Wanita yang mengaku bernama Mbak Tata. Asma ingat pernah mendengar nama itu. Yaitu saat ia terbangun dalam mobil para penculik yang membawanya ke gedung menyeramkan itu.
Sambil makan, pikirannya melayang kemana-mana. Ia khawatir keluarganya dan Laila akan mencarinya kemana-mana. Bagi Asma gedung itu letaknya terpencil dan jarang dilalui orang. Karenanya, akan kecil kemungkinannya bagi orang-orang yang mencarinya menemukannya disini. Ia juga teringat pada cerita bunda tentang kakaknya. Asma tersadar, ia mengalami hal yang sama dengan kakaknya. Yaitu diculik. Apakah sekarang ia akan tetap terkurung dalam gedung menyeramkan itu selamanya seperti yang terjadi pada kakaknya?
Tiba-tiba Asma teringat pada surat yang kemarin malam. Asma menoleh ke arah jam. Oh tidak! 3 menit lagi ia harus menyelipkan jawaban dari surat tak bertuan itu ke celah di bawah pintu. Asma berjaga-jaga. Dan tepat jam 8, ia menyelipkan kertas jawabannya ke celah di bawah pintu. Setelah itu Asma melanjutkan kembali sarapannya.
Setelah sarapan, tak banyak yang bisa Asma lakukan. Karenanya Asma hanya berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit. Sesekali matanya terpejam karena memikirkan banyak hal. Sekitar pukul 9, pinti dibuka. Asma bangkit dan melihat salah seorang dari penculik. Ia adalah orang yang kemarin meletakkan kendi di atas meja.
Penculik itu meletakkan sepiring jajanan pasar di atas meja. Lagi-lagi ia keluar tanpa mengatakan apapun. Setelah melihat betapa banyak jajanan pasar yang disuguhkan padanya, Asma merasa dia diperlakukan seperti putri dalam dongeng. Meski begitu, Asma tetap merasa tak nyaman dengan suasana di gedung yang terlihat mencekam itu.
Untuk menenangkan perasaannya, Asma mengambil salah satu jajanan pasar yang terletak di atas meja. Asma memakannya. Tapi kemudian pandangannya menangkap benda yang seharusnya tidak ada di piring makanan. Segulung kertas kecil? Asmapun mengambil nya dan mulai menguraikan gulungan itu.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar