SD Assunniyyah Kencong

Semangat belajar, jangan pantang menyerah!...

Selengkapnya
Navigasi Web
Pengorbananku yang Terbayar

Pengorbananku yang Terbayar

Hai! Nama ku Gristarey Alfa Pamukas panggil saja Rey, aku anak tunggal keluarga konglomerat Pamukas. Tentu aku punya harta yang melimpah, fasilitas terbaik. Sayangnya hal itu malah membuat aku menjadi orang sombong, pemboros, dan bebas berbuat seenaknya.

"Nona muda ayo bangun, sudah jam 07.32, nona sudah terlambat!" Ucap bibi lulis ART di rumah ku.

"Pagi-pagi kok ada suara hantu ya?" aku pun menimpali.

"Huh.. sabar." gumam bibi lulis sambil mengusap dada perlahan.

"Rey.. ayo sekolah, katanya mau meneruskan perusahaan papi." Ucap mami dengan lembut.

"Aku tuh capek mi, lagian papi kan bisa tinggal wariskan perusahaannya ke aku." jawabku acuh.

Sementara papi mengurungkan niat nya pergi ke kantor, dan malah menuju kamarku.

"Pagi-pagi kok sudah berisik?" Sergah papi.

"Gak papa kok pi, ini loh Rey tidak mau sekolah katanya capek." Jawab mami dengan sopan.

"Makanya mami jangan terlalu manjain Rey dong. Kamu juga kenapa capek?!, belajar saja tidak pernah bahkan nilai kamu nol semua. Jangan mimpi kamu bisa meneruskan perusahaan papi!." Tukas papi kesal.

"Kata siapa nilai ku nol semua, aku dapat nilai tertinggi di pelajaran seni yaitu 93." senyumku penuh rasa bangga."

"Dapat nilai 93 saja bangga!, lihat tuh Anna teman sekelas kamu yang paling pintar sampai ikut lomba internasional. Memang kamu tidak pengen?."

"Enggak tuh." jawabku sedikit tersinggung.

"Sudah-sudah! Kamu cepat berangkat sekolah sana, gara-gara kamu papi telat kerja!.

"Iya pi," ucapku, memilih untuk mengalah.

Usai ditegur aku pun memilih berangkat ke sekolah naik mobil pribadi, tidak menunggu lama sekitar lima belas menitan pun sampai, lalu segera bergegas masuk kelas.

"Loh Rey kok baru datang pukul jam 07.13?" Tanya bu Mona seorang guru bahasa Indonesia.

"Bukan urusan ibu. Nih! Uang 50 juta, tidak usah munafik ambil saja." Aku berkata sembari menyodorkan cek kepadanya.

"Sebenarnya saya tidak suka disuap loh, tapi kalo kamu maksa ya tidak apa-apa sih, silakan duduk." Menengadahkan tangan tanda menerima pemberian Rey.

***

Tet, tet

Bel berbunyi waktu istirahat tiba.

"Rey lu kok bisa telat sih?!" Ucap Fani sahabatku dari SMP.

"Tadi habis di marahi bokap gua, mana membandingkan gua sama Anna lagi, bikin bad mood saja!" Jawab ku kesal.

"Wah, tidak bisa di biarin ini, lu harus labrak dia!" Ucap Lily, ia juga sahabatku dari SMP.

"Oke, kita labrak dia sekarang juga!" Ucapku penuh dendam.

Begitulah aku disekolah, selalu sok jagoan dan siapa pun yang mencari masalah dengan ku, harus siap berhadapan dengan geng ku, setelah melabrak Anna esok harinya aku berniat untuk bolos sekolah.

***

Ketika sampai di rumah tak tampak pak Bonge dan bibi lulis. Pikiranku penuh tanya, apa lagi ketika melihat orang tua ku menunggu kepulangan ku dengan wajah murung.

"Mami papi, ke mana pak Bonge dan bibi lulis?" Tanyaku penasaran.

"Pak Bonge dan bibi lulis dipecat." Ucap mami.

"Loh kenapa, mereka bikin ulah?" Tanyaku sekali lagi.

Mami yang mendengar pertanyaanku pun tak kuasa menahan air mata.

"Papi punya hutang banyak yang harus dibayar sekarang, tapi papi belum ada uang, akhirnya papi jual rumah seisinya. Jadi sekarang kita mengontrak saja." Jawab papi meyakinkan.

"Gak mungkin!, harta kita melimpah pi, mana bisa lenyap hanya dalam sekejap." Ucapku menangis tersedu.

Aku sangat kaget menerima kenyataan pahit ini, terpaksa aku harus bisa beradaptasi dengan baik walau tidak mudah bagiku.

Karena ekonomi keluarga sulit, aku terpaksa pergi ke sekolah naik angkutan umum. Sesampai nya di sekolah, semua mata melihat ku dengan tertegun, lalu kedua sahabatku menghampiri, namun bukan untuk menemani melainkan untuk menghinaku sesuka hati setelah itu meninggalkan ku begitu saja seorang diri tanpa rasa empati, namun aku tidak menanggapi lebih tepatnya terlalu sakit hati. Semua teman yang mulanya begitu akrab kepadaku kini menjauh dariku kecuali Anna, dia tetap mau menerima ku meski saat ini aku terpuruk dan kehilangan harapan. Aku malu, padahal selama ini aku memperlakukan nya seperti musuh, sekarang aku sadar bahwa perbuatan ku selama ini salah.

Sejak kejadian itu aku telah ikhlas dan berusaha menjadi orang yang lebih baik. Aku rajin belajar hingga sering mengikuti lomba bersama Anna, bekerja paruh waktu dan mengorbankan hal tak penting yang biasa aku lakukan, bahkan aku menjadi lebih mandiri hingga orang tua ku bangga.

Bagiku, pengorbanan adalah tindakan yang didasari keikhlasan untuk sesuatu yang berharga dengan mengorbankan suatu hal.

Tak terasa waktu cepat berlalu, wisuda kelulusan ku akhirnya tiba. Setelah lulus aku melanjutkan ke Universitas ternama dan mengambil jurusan model sementara Anna mengambil jurusan PGSD. Setelah lulus aku pun berhasil menjadi seorang model dan Anna menjadi seorang guru. Walau kami jarang bertemu, kami tetap sering bertanya kabar lewat telepon genggam dan ketika ada hari libur menyempatkan untuk bersua.

Tentang Penulis

Hai! Namaku _Amanina Afiqah_ , umurku 11 tahun. Aku bersekolah di SD ASSUNNIYYAH (kencong), sekarang aku duduk dibangku kelas 5

Terima kasih ya sudah mau membaca cerpen ku🫶🫶

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post