Bab 19, Kerja Kelompok
Kerja Kelompok
Mengharuskan apa yang tidak diharuskan
…….
“Lu sekelompok sama siapa dah?’ tanya Zahra kepada Nay. “Gua sekelompok sama Kakel,,
Alhamdulillahnya Cewe sih,, kalau cowok, Mampus Doi gue kasian” ucap Nay seraya
memainkan ujung pulpen.“Kalau elu?” tanya Zahra seraya menunjuk kearahku.
Mataku membulat, tidak tau apa yang tengah mereka bicarakan.
“Ish wujud lo disini, tapi pikiran lo lagi trip kemana sieh” Kesal Zahra.
Nay sedikit menoyor kepalaku, “ Lu fokus dikit ngapa mba,,” Ujar Nay seraya tertawa
renyah.“Kalian ngomongin kelompok apa sih? Dai ga ngerti” Jawabku seraya membenahi
buku.Seketika Zahra sedikit menyubit kedua pipiku, “Kuping lu dimana tadi pas upacara,,
aduh”. Aku sedikit memamerkan sederetas gigi putihku. Zahra langsung menarik tanganku
menuju mading sekolah.“Nah, cari nama lo” ucap Zahra seraya menunjuk ke arah kertas
yang terpampang bebas dimading.“Membuat Artikel tentang Ilustrasi tahap tahap
perkembangbiakan hewan, Apapun.” Aku membaca tulisan bold hitam tepat di paling atas
kertas yang terpampang di Mading.“Zahra sekelompok sama?” tanyaku.
“ Sama temen sekelas doang,, tuh Si Fabian, harusnya tuh elu yang sekelompok sama
Fabian,, bukan gue” ucap Zahra seraya tertawa kecil. Aku hanya ber-oh ria seraya mencari
namaku. “Daaaai.. Daaaaii.. mana deh kok gaada” ucapku terheran heran.
“Ish! Lu bolot apa gimana dah, Nama asli lu kan bukan Dai,, aduh gue pengen nangis kalau
dah ngobrol sama lu, hari ini” Kesal Zahra seraya meremas kerudungnya.
Aku pun tertawa mendengarnya mengoceh tak jelas
“Yaudah sini gue bantuin nyari nama lu” ujar Zahra dengan mata berkeliling mencari
namaku di tabel tersebut.“Nah ini nama lu Dai,, Lu sekelompok samaa” ucapannya
terpotong. Seketika senyuman yang sedari tadi keluar kini hilang entah kemana, lalu
menatap kearahku. Tatapan nya begitu dalam, jika diartikan seolah olah dia meminta untuk
menghargai perasaannya. Karena penasaran, aku segera melihat tabel yang tepat didepan
Zahra. Aku bimbang antara ingin senang atau sedih, disisi lain aku senang jika bisa
disatukan dengan Fadhil, di sisi lain, aku juga tidak enak dengan Zahra yang sekarang
statusnya adalah Pacar dari Fadhil. Aku langsung tersenyum ke arah Zahra yang kini masih
menatap mataku erat erat. “Iyaaa, aku paham” ucapku seraya tersenyum kearahnya.
Tersenyum disaat hati hancur sangatlah menyakitkan. Seketika pancaran senyum sudah
nampak diwajahnya, “ Gapapa kok, lagi pula cuma buat tugas sekolah, gaada masalah
besar sih menurut gue” Ucap Zahra seraya menepuk pelan pundakku.
“Yaudah w duluan ya ke kelasnya, mau ngobrol sama Fabian dulu, siapa tau dia udah
punya ide buat artikel kali ini” Ujar Zahra yang kini telah jalan mendahului ku.
Aku terdiam, melihat punggung Zahra yang kini telah menhilang di sudut lorong sekolah.
“Apa yang harus Dai lakukan kalau berdua sama dia” ujarku dalam hati
……
“Dai” panggil seorang laki laki dari arah belakangku.Aku dan Zahra menoleh kearah sumber
suara. “Eh, ada kamu Zazah” ucap Fadhil sedikit mencubit pipi Zahra.
Pemandangan seperti ini yang dari dulu ku hindari, tapi mengapa aku harus melihat semua
ini di depan kepala mataku sendiri. Aku terdiam tak berkutik saat itu, lebih memilih
menghilangkan pandangan kearah lain.
“Dai,,” panggil Fadhil. Aku yang sedari tadi melihat kearah lain sedikit terkejut.
“Kita sekelompok bukan?” tanya Fadhil dengan seutas senyuman. Aku hanya menjawab
pertanyaannya dengan senyuman. “Oke. Nanti sore kita mulai,, aku yang dateng
kerumahmu ya” ucap Fadhil. Seketika Zahra hanya bisa tersenyum enggan kearahku dan
tak ingin menatapku. “Kamu boleh ikut kok zah, ajak aja yang sekelompok sama kamu”
ucap Fadhil sedikit memahami respon Zahra barusan. “Serius, boleh??” tanya Zahra
gembira. Fadhil mengangguk menjawab pertanyaan Zahra. “Ya, Yaudah,, nanti sore gue
kerumah lu ya Dai” ucap Zahra seraya tersenyum girang. Aku tak akan tau, sehancur apa
aku nanti. Aku segera mengangguk seraya tersenyum. “Yaudah, yuk pulang” ucap Fadhil
kepada Zahra yang masih girang. “Duluan ya Dai,, makanya cari pacar atuh” ledek Zahra
seraya tertawa kecil. Aku hanya tertawa mendengar ledekan seperti itu. “Jangan sampai lu
dibilang suka sama cewe ya! Jangan sampai ada gosip kayak gitu, Gue ga mau denger”
Omel Zahra yang sudah duduk di jok belakang motor Fadhil. “Siap Kapten-!”
“Yaudah duluan yaa” ucap Zahra.
…..
Panggilan Berlangsung
“Assalamualaikum umi”
“Waalaikumsalam Dai, kenapa?”
“Umi gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik. Dai sendiri gimana?”
“Alhamdulillah baik juga umi. Oh iya mi, Dai mau izin ga bisa ikut materi nanti sore, soalnya
Dai mau mengerjakan artikel bareng Ka Fadhil”
“Udah 2 hari kamu gak masuk materi loh Dai. Yaudah Umi izinkan, berarti Fadhil juga ga
bisa mengikuti pelajaran sore nanti ya?”
“Iya Umi, Maaf ya mi. Makasih umi, oh iya kemungkinan seperti itu.”
“Iya sama sama, semangat ya artikel nya”
“Semangat artikelnya apa Dainya??”
“Eh iya ya, Dai nya lah, masa artikel nya”
“Hahaha. Iya mi, makasih. Yaudah mi, silahkan dilanjut aktifitasnya, maaf menyita
waktunya”
“Iya sama sama, yaudah Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Panggilan Ended
Aku menghela napasku sejenak, merebahkan tubuhku lunglai di kasur springbed besar
milikku.
“Dai gak mau melihat mereka” gumamku seraya melihat langit langit kamar.
Tak lama, aku pun tertidur.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar