Bab 2 (MAU BAGAIMANA PUN JUGA)
BAB 2 ( MAU BAGAIMANA PUN JUGA )
Petang yang telah datang, adzan maghrib yang mulai berkumandang, suara jangkrik yang terdengar lantang masih dijadikan tempat beriang-riang anak zaman sekarang, anak-anak yang baru saja beranjak menuju dewasa ini sedang bermain entah itu bisa di sebut bermain atau tidak yang jelas mereka terfokus pada handphonenya masing-masing di sebuah tempat makan sunda di pusat kota
“Da lu pulang kapan?” tanya seseorang di sampingnya yang terlihat berumur sama dengan dirinya
“yaudah sekarang aja yuk.” Ajak Nanda
“iya iya takut kemaleman di jalan,” lanjut Raina
Kemudian dua gadis itu pun berpamitan pada teman-temannya lalu melangkahkan kakinya menuju parkiran
“buruan Da” ucap Raina tergesa-gesa
“buru-buru amat si?” tanya Nanda
“yuk cepetan nanti di jalan di ceritainnya.” Jelas Raina
Kemudian mereka berdua pun menaiki motor yang di bawa Raina
“jadi sebenernya gua lupa kalo gua ijin ke mama tuh mainnya nyampe sore dan itu pun ke rumah lu,” jelas Raina yang mengendalikan setir motornya
“yaudah cari alesan apa kek biar mama nya percaya,” balas Nanda
“yakali gua boong”
“yaudah si serah orang cuma kasih saran doang” jelas Nanda
Kemudian suasana pun mendadak hening tidak ada lagi yang memulai perbincangan dalam motor hanya suara dari mesin motorlah yang memecah keheningan jalan yang mulai diterangi lampu jalan.
*****
Di depan sebuah rumah yang memiliki pekarangan bunga di depannya terlihat seorang wanita yang terlihat hampir menginjak kepala tiga sedang berdiri di depan pintu rumahnya memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang dengan pandangan khawatir.
“Raina.” Ucap wanita itu perlahan ketika melihat anaknya memasukkan motor melewati pagar rumahnya
Kemudian Raina turun dari motor dan memberi salam kepada ibunya lalu mengecup tangan ibunya
“kemana aja kamu?” tanya mama
“maaf ma,” jawab Raina
“udah berapa kali Na kamu bohong sama mama,” jelas mamanya
Raina hanya menundukkan kepalanya. Lalu seorang anak kecil berumur kurang lebih empat tahun pun menghampirinya
“kakak kemana aja dari tadi?” tanya anak kecil itu pada Raina
“kamu lihat Na, apa iya adikmu bisa mencontoh sikapmu,?” ucap mama yang terlihat kecewa, lalu menggendong Dania anak bungsunya dan masuk kedalam rumah
Raina terdiam sekejap dan memutuskan untuk duduk di teras depan rumahnya dengan memfokuskan matanya ke langit, tanpa ia sadari ternyata air mata menyulap pipinya menjadi basah, iya Raina menangis mungkin ia menyesali apa yang telah ia lakukan pada mamanya karena ia sebenarnya memang seorang anak baik tapi sayang ia memilih pergaulan yang salah.
******
Semua berawal ketika Raina masuk ke sebuah sekolah menengah pertama negeri yang bertempat di pusat kota sekolah yang ia impikan sejak lama, kenal dengan teman-teman baru, suasana baru, yang pastinya juga pergaulan baru, sayangnya Raina masuk dalam pergaulan yang kurang baik padahal ia baru saja menginjakkan kakinya menuju kelas tujuh.
*****
Malamnya Raina merebahkan tubuhnya di atas kasur mengingat kejadian tentang mamanya tadi
“gua mesti berubah,” ucap batin Raina
“tapi semua ini hal yang gua mau dari dulu,” lanjut batin Raina
Kemudian ia teringat sesuatu tentang janjinya besok dengan Nanda yang berniat untuk tidak sekolah tujuannya untuk menghabiskan waktu bersama, lalu Raina pun mengambil handphone nya dan menyalakannya .
Nanda_09
Nda, maaf ya kyaknya gua besok
ngk bisa deh
Lah kenapa ngk jadi?
Gua udah ada janji sama bu Sinta
buat bantuin beresin perpus
ayolah Na, please...
soal itu mah gampang lu titip
aja sama sapa gitu buat bilang kalo lu ngk bisa
bantuin
emmh gimana ya
ayo dong Raina yayaya please
liat besok aja deh
sip
read
kemudian ia pun langsung mematikan handphone nya dan berniat untuk tidur karena ia rasa dirinya telah dilanda kantuk yang sangat berat
*****
Pagi hari yang cerah bunga-bunga indah bermekaran di pekarangan rumah terlihat Raina yang akan berangkat ke sekolah, tetapi ada yang berbeda dengan hari ini ia diantar oleh ayahnya karena itu adalah perintah ibunya, sebelumnya ia pun heran kenapa tidak seperti biasanya ayah mengantarkannya
“ish harus gimana nih, nyari alesan apaan biar ngk sampe ke sekolah” batin Raina yang bingung karena ia punya janji kepada Nanda kemarin.
“Yah, mampir dulu ke toko buku ya, ada yang kakak mau beli”
“oke sip, tapi ayah ngk masuk ke dalem ya nunggu di luar”
“ayah nungguin?”
“iyalah kan mau nganterin namanya juga”
“emang bener punya ayah ngak bisa ngerti apa? gua tu nyari alesan buat bikin dia kesel nungguin terus bilang,duluan ya kak ayah ada urusan” batin Raina
“hehhe iya” jawab Raina
Kini yang berada dipikiran Raina adalah bagaimana caranya ia harus lari dari ayahnya ini lalu Raina pun memikirkan sebuah misi yang belum tentu berjalan atau tidak
“yah mampir dulu rumah Nanda ya soalnya dia minta bareng kesekolahnya, kalo ayah mau duluan ngk papa nanti kakak berangkat bareng Nanda”
“ngk kak! ayah tahu semua dari mama, sudah banyak sekali orang yang membicarakan mu bahkan sampai terdengar sendiri ke telinga ayah, udah cukup jangan sampai terulang lagi, kamu harus berubah seperti dulu ayah ngk mau kamu salah pergaulan kak.” Nasihat ayah dalam mobil.
Raina hanya menundukkan kepalanya tidak menjawab apa-apa, setelah ayah memberi nasihat keheningan pun menghampiri tidak ada yang membuka obrolan lagi tidak ada yang mengucapkan satu patah kata pun kecuali suara kendaraan yang berlalu lalang, kemudian mobil pun berhenti di sebuah toko buku
“sampe nih,” ucap ayah sampai menunjuk ke luar tepat ke sebuah toko buku
“ngk jadi deh nanti aja,” balas Raina
“bener nih?”
“iya bener yah, takut telat ntar kesekolahnya”
Ayah hanya membalas dengan senyumannya lalu menghidupkan kembali mesin mobil dan melajukan mobilnya, kini Raina pun pasrah menerima bahwa rencananya kini hancur tidak sesuai ekspetasi.
*****
Sepulang dari sekolah Raina langsung pulang ke rumah karena ia pikir teman-temannya pasti kecewa pada dirinya karena ia tidak menempati janjinya
“apa boarding? Ngk! Raina ngk mau pokoknya!” bantah Raina mendengar pembicaraan kedua orang tuanya di ruang tamu dengan memotong pembicaraan mereka
Saat Raina memasuki rumah dilihatnya ayah dan mama yang sedang membicarakan tentangnya yang berniat untuk memasukkan Raina ke sekolah boarding
“tapi kak,” ucap mama terpotong
“tapi apa ma? Apa? Karena Raina nakal iyh?!”
Mama tidak menjawab apa yang Raina ucapkan barusan, tetapi air matanya yang tertumpah mendengar anaknya berkata seperti itu
Kemudian Raina pun berlari menuju kamarnya dan menutup pintu kamar “Bruk!” terdengar suara pintu yang ditutup. Dengan air mata yang bercucuran Raina menghampiri jendela kamarnya dan memfokuskan pandangannya melihat langit, karena ini lah satu-satunya hal yang bisa menenangkan dirinya.
“tidak ini semua tidak akan terjadi!”
“aku suka hidup ku seperti ini!” batin Raina
*****
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar