Naufal naziful zacky

Saya siswa kelas 6 SDN SUMUR BATU 01 PAGI JAKARTA PUSAT...

Selengkapnya
Navigasi Web

Kisah Jenderal Soedirman Panglima Besar yang Pantang Menyerah

1. Awal Kehidupan: Anak Desa yang Tangguh

Jenderal Soedirman lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga, Jawa Tengah. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai agama dan moral. Sejak kecil, Soedirman dikenal sebagai anak yang disiplin, cerdas, dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Saat remaja, ia aktif di organisasi Pendidikan Nasional Indonesia dan kemudian menjadi guru di sekolah Muhammadiyah di Cilacap. Kepribadian tegas dan integritasnya mulai terbentuk di sini.

2. Menjadi Tentara dan Awal Perjuangan

Ketika Jepang menduduki Indonesia, Soedirman bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air), sebuah milisi bentukan Jepang. Namun, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk melatih kemampuan militer. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Soedirman segera bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (cikal bakal TNI).

Keberanian dan strateginya yang cerdas membawanya diangkat menjadi Panglima Besar TKR pada usia 29 tahun—menjadikannya jenderal termuda dalam sejarah Indonesia.

3. Perang Gerilya: Simbol Perlawanan Tak Terkalahkan

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada Desember 1948 dan menduduki Yogyakarta (ibu kota RI saat itu), Soedirman mengambil keputusan berani: memimpin perang gerilya meski sedang menderita tuberkulosis (TBC) parah.

Dengan kondisi lemah dan harus ditandu, ia memimpin pasukannya berbulan-bulan di hutan dan pegunungan Jawa. Strategi gerilyanya berhasil melemahkan posisi Belanda, menunjukkan bahwa Indonesia belum takluk.

Sikap pantang menyerahnya menjadi inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia. Slogan "Rawe-rawe rantas, malang-malang putung" (Siapa pun yang menghalangi, harus disingkirkan) mencerminkan tekadnya untuk tidak menyerah pada penjajah.

4. Kembali ke Yogyakarta: Kemenangan Moral

Pada Juli 1949, setelah berbulan-bulan bergerilya, Soedirman kembali ke Yogyakarta. Perjuangannya membuahkan hasil—Belanda akhirnya bersedia berunding, yang mengarah pada pengakuan kedaulatan Indonesia.

Meski kesehatannya semakin memburuk, semangat dan pengorbanannya menjadi simbol perjuangan yang tak kenal lelah.

5. Akhir Hayat: Wafat sebagai Pahlawan Bangsa

Jenderal Soedirman wafat pada 29 Januari 1950 di Magelang pada usia 34 tahun akibat penyakit TBC yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta, dan dikenang sebagai Panglima Besar TNI yang pertama.

6. Warisan Jenderal Soedirman

Jenderal Soedirman tidak hanya meninggalkan warisan militer, tetapi juga teladan moral dan keberanian. Namanya diabadikan di berbagai tempat, seperti universitas, jalan, dan monumen. Ia menjadi simbol bahwa dengan keyakinan dan tekad kuat, tidak ada kekuatan yang mampu menaklukkan semangat perjuangan rakyat.

Kisah hidupnya mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang tetap berjuang meskipun dalam kesulitan, dan yang mendahulukan bangsa di atas segalanya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post