Di Antara Bayang dan Cahaya
Di sebuah kota kecil yang diselimuti kabut pagi, hiduplah seorang remaja bernama Niero. Ia tinggal dalam sebuah rumah dengan dinding yang penuh harapan, meski tak jarang terasa seperti penjara yang tak bisa ia lari dari dalamnya. Di luar, dunia tampak indah dan penuh peluang, namun di dalam hatinya, Niero merasa ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Niero tumbuh di tengah keluarga yang sangat menjaga norma. Ayahnya seorang pria yang keras, ibunya penuh dengan harapan besar yang tak pernah terucapkan, dan saudara-saudaranya yang tampaknya hidup dalam kesempurnaan. Namun, di dalam dirinya, Niero merasakan kekosongan yang tak terdefinisikan. Ia mencintai, tapi bukan dengan cara yang diharapkan. Ia mencintai dalam diam, dalam bayangan yang hanya bisa dilihat oleh mata hatinya sendiri.
Setiap malam, ia terjaga, matanya menatap langit yang terbungkus bintang. Langit itu begitu luas, dan dalam kesunyian malam, Niero sering kali merasa seolah-olah ia hanyalah sebutir pasir di pantai waktu. Dunia tidak peduli padanya. Apa yang ia rasa, siapa yang ia cintai, tampak seperti rahasia yang tak boleh diketahui. Namun, dalam hatinya, ada harapan kecil—sebuah cahaya yang ia coba genggam meskipun selalu menghilang saat ia mendekat.
Niero mencoba melarikan diri dari bayang-bayang pikirannya. Musik menjadi tempat perlindungannya, di mana setiap alunan nada membawa dirinya ke dunia lain yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupannya. Namun, meski musik itu memberi kebahagiaan sementara, setelah suara itu hilang, kesendirian itu kembali menyelimutinya. Ia kembali merasakan betapa gelap dan beratnya dunia yang harus ia jalani.
Ia mencari pelarian lain—teman-teman, kebersamaan, bahkan hubungan singkat yang sesaat terasa seperti jawaban. Namun, setiap kali ia merasa ada cahaya yang menyentuh hatinya, bayang-bayang gelap itu kembali datang, menutupi segala yang terang. Niero merasa terjebak dalam dirinya sendiri, seolah-olah ia berjalan di jalan yang tak pernah berujung.
Suatu hari, ketika hujan turun dengan derasnya, Niero berjalan sendirian di sebuah taman yang sepi. Di sana, di bawah pohon yang hampir gundul, ia berhenti. Air hujan menetes di pipinya, seperti air mata yang selama ini ia sembunyikan. Di saat itu, ia merasa dunia mengerti, meski hanya sejenak. Sebuah perasaan aneh mengisi dadanya—sebuah kedamaian yang tidak bisa ia jelaskan.
"Kenapa harus lari?" Niero bertanya pada dirinya sendiri. "Kenapa selalu berusaha menghindar dari yang sebenarnya ada di dalam diriku?"
Di tengah kebingungannya, Niero mulai menyadari sesuatu. Mungkin, kebahagiaan itu bukan sesuatu yang bisa dicari di luar, bukan sesuatu yang datang seperti cahaya yang menerangi kegelapan hanya untuk menghilang. Mungkin, kedamaian itu ada di dalam dirinya sendiri, dalam penerimaan akan semua perasaan dan ketakutan yang selama ini ia sembunyikan.
Dengan langkah yang lebih ringan, Niero pulang ke rumah. Ia masih belum tahu jawabannya, masih banyak yang perlu ia pahami tentang dirinya, tentang hidupnya. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa ada secercah cahaya yang bersinar di dalam dirinya, meski samar. Ia tidak lagi mencari kebahagiaan di luar, karena ia tahu sekarang, kebahagiaan sejati datang saat ia menerima dirinya apa adanya.
Dan meskipun hari-hari masih dipenuhi dengan tantangan dan kebingungannya, Niero belajar untuk berdamai dengan pikirannya, untuk tidak takut menghadapi bayang-bayang yang selalu menghantuinya. Ia tahu, perjalanan ini panjang, namun setiap langkah yang ia ambil adalah bagian dari menemukan kedamaian dalam dirinya—dan mungkin, suatu hari, kebahagiaan itu akan datang, bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai bagian dari dirinya yang telah ia terima.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar