Dalam Sunyi, Aku Ada
Leros menatap pantulan dirinya di cermin. Tatapan kosong, wajah yang hampir tak dikenalnya lagi. Sudah lama ia merasa seperti ini—seperti orang asing di dalam tubuhnya sendiri. Ia punya keluarga, punya teman, tapi entah kenapa, ada yang selalu kosong di dalam dirinya. Seolah dirinya bukan dirinya sendiri.
"Leros, udah siap belum? Jangan sampai telat!" suara ibunya terdengar dari luar kamar. Nada suaranya, seperti biasa, penuh perintah, penuh aturan. Seolah hidup Leros hanyalah sekumpulan jadwal yang harus ia patuhi.
"Iya, Bu," jawabnya singkat.
Ibunya, Bu Rina, adalah sosok yang perfeksionis. Segala sesuatu harus sesuai dengan keinginannya, termasuk hidup Leros. Dari kecil, ia dibentuk seperti boneka. Harus begini, harus begitu. Tak boleh salah, tak boleh melenceng. Ibunya selalu bilang, "Ibu tahu yang terbaik untuk kamu." Tapi benarkah begitu? Benarkah ibunya mengenalnya? Atau selama ini hanya menciptakan versi dirinya yang diinginkan?
Leros turun ke meja makan, duduk di kursinya seperti biasa. Ayahnya sibuk membaca koran, adiknya asyik dengan ponselnya. Ibunya? Seperti biasa, sibuk mengomentari segala sesuatu.
"Sarapan dulu, jangan main HP melulu," tegurnya ke adik Leros. "Leros, nanti pulang sekolah langsung les, jangan main nggak jelas, ya."
Leros hanya mengangguk. Percuma menjawab. Semua yang ia katakan akan dipatahkan juga. Kalau ia protes, ibunya akan bilang, "Ibu capek ngurusin kamu, tahu nggak?" atau "Kamu nggak tahu, Ibu berjuang buat kamu." Kalimat-kalimat manipulatif yang membuatnya merasa bersalah jika menolak.
Di sekolah, Leros bukan anak yang tertutup. Ia punya teman, bahkan bisa dibilang cukup populer. Tapi tetap saja, perasaan itu tidak pernah hilang. Perasaan sendirian. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang ia rasakan. Tak ada yang tahu bagaimana hidupnya diatur sedemikian rupa hingga ia nyaris kehilangan jati dirinya sendiri.
"Bro, nanti nongkrong, nggak?" tanya Aldi, sahabatnya.
Leros tersenyum kecil. "Nggak bisa, bro. Ada les."
Aldi menghela napas. "Gila, hidup lo isinya belajar doang. Nggak capek?"
Capek. Sangat. Tapi ia tak bisa bilang. Bahkan mungkin kalau ia bicara pun, tak ada yang benar-benar mendengarkan.
Sepulang sekolah, Leros kembali menjalani rutinitas yang sama. Les, belajar, lalu pulang. Ia duduk di meja belajar, menatap buku-buku di hadapannya. Lalu, perlahan, ia menutupnya. Ia sudah muak.
Tangannya meraih ponsel, membuka aplikasi catatan, lalu mulai mengetik.
“Apa rasanya menjadi orang lain di dalam tubuh sendiri? Aku ingin berbicara, tapi tak ada yang mendengar. Aku ingin menolak, tapi tak ada yang peduli. Aku ingin menjadi diriku sendiri, tapi siapa aku?”
Leros menatap kata-kata itu lama. Lalu menghapusnya. Tak ada gunanya. Tak ada yang akan mengerti.
Di luar, ibunya mengetuk pintu. "Leros, jangan lupa belajar buat ujian minggu depan, ya!"
Leros memejamkan mata. Sunyi. Lagi-lagi sunyi. Tapi dalam sunyi itu, ia masih ada. Entah sampai kapan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar