Case Closed! (Bab 5)
—Tak’kan ada yang mampu mengalahkan...—
“Maayyy! Katakan padaku!”
“Aku bilang tidak, berarti tidak,” May kembali menghabiskan makanannya. Kami sedang makan bersama di kedai dekat alun-alun kota.
Aku mengembuskan nafas kasar. Astaga... Padahal keterangan dari May bisa sangat membantuku memecahkan teka-teki ini.
“May... Katakan padaku, karena ini semua berkaitan dengan para penembak jitu itu,” aku menatapnya tajam, mulai muak.
“Aku malas bicara. Tanya saja pada Fian atau Alan,” May balas menatapku dingin.
“Aduuh....” aku memilih melanjutkan makan saja.
Di sela-sela kegiatan makan, aku membuka handphone, memutuskan untuk bertanya pada Fian dan Alan.
Alan Tantrum
Woi
Penembak jitu saat itu sebenarnya siapa?
Penembak jitu mana dah
Mulai deh, pura2 nggak tahunya
Oh, yang itu. Em, apa ya?
Tanya May atau Fian saja
Lagi lagi, aku mendengus kesal. Okelah, opsi terakhir.
Fian Kulkas
Hei
May bilang apa saat aku masih pingsan?
10 menit kemudian...
“Ini anak slow respon banget dah,” gumamku. Makananku dan May sudah habis.
Fian Kulkas
Yang kapan?
Yang saat kita diserang penembak jitu
Ooh, itu, sebentar
15 menit kemudian...
Fian belum menjawab pesanku. Sedang apa sih dia?
“Sudahlah, lebih baik kita sambil jalan saja,” ajak May. Dia bangkit dari kursinya.
Aku juga berdiri. Aku sudah cukup kesal dengan dua anak ini.
“Nah, kan, kubilang apa. Mereka berdua di sekitar alun-alun.”
“Uhh, iya deh.”
Dua suara yang kukenal. Aku dan May refleks menoleh. Dan alangkah terkejutnya kami, Fian dan Alan sudah berada di belakang kita, dan ada... Albert?
“Eeh?!” aku berseru kaget.
“Hehehe..” Alan dan Albert menyengir.
“Bagaimana kalau kita duduk saja di bangku sana?” ajak Albert.
* * * * *
“Haah? Ada pelacak di jam tangan ini?” aku menatap Albert sambil menunjuk jam tangan yang dia berikan pada kami.
“Umm, iya, oleh karena itu, aku tahu kalian berdua sedang di alun-alun,” Albert hanya nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya.
May menepuk dahinya. Ada-ada saja Albert ini, kenapa harus dipasang pelacak segala. Kami mulai berdebat panjang kali lebar kali tinggi kali waktu. Kata Albert, agar dia bisa mengetahui posisi kami kalau ada apa-apa. Alan mendukung Albert. Sementara aku dan May berpendapat sebaliknya, karena itu adalah privasi kami. Dan Fian hanya menyeruput minumannya sambil menonton perdebatan kami yang kian memanas.
“Berisik. Bagaimana kalau kita membahas perkara yang ingin Fidel ketahui itu? Berdebat di sini hanya membuang waktu. Bisa dilakukan di lain waktu.” Fian memotong perdebatan kami.
Aku dan May setuju. Sedangkan Alan dan Albert hanya menurut saja. Mereka berdua mulai menjelaskan satu-persatu. Mulai dari perkara paling awal, yaitu...
“Eeh?! Kalian bertiga dari keluarga yang sama?!” untuk kesekian kalinya, aku berseru terkejut. Kali ini sambil menatap May, Alan, dan Albert bergantian.
“Sstt!!” Alan menempelkan telunjuknya di bibir.
“Jadi, apa hubungan keluarga Ruger dan penembak jitu?” tanyaku penasaran.
“Um, sekitar 9 tahun yang lalu, di kediaman Keluarga Ruger. Letaknya di pinggiran kota Teren, jadi kejadian ini tidak terlalu terekspos. Lalu...”
Cerita Alan dan Albert sama persis dengan cerita Pak Tua. Tapi, Albert menambahkan...
“Korban pertama, adalah kakaknya May...” ucapnya pelan.
May memalingkan muka.
“Aku ke toilet dulu,” lirihnya. Belum pernah kulihat May seperti itu.
“May selalu bersikap sensitif kalau sudah membahas kejadian masa lalu. Karena itu, dia tidak ingin bercerita banyak. Saat kejadian penembak jitu itu saja, dia hanya membahas sebagian kecil dari insiden ini,” Alan menghela nafas.
“Jadi, kalian ini saudara jauh?” Fian membuka mulut.
“Iya, tapi kami tidak ingat seperti apa silsilah Keluarga Ruger. Dulu, setiap rumah memiliki satu sisilah, tapi semuanya sudah hangus,” Albert menjelaskan.
“Penembak jitu yang saat itu adalah kelompok yang sama dengan yang menyerang kediaman kami. May mengingat dengan jelas wajah para penembak yang ia panggil ‘teroris’ itu.”
Penembak jitu, teroris, keluarga Ruger, 9 tahun lalu, keluarga, dendam. Aku mencatat semua kata kunci itu dalam buku catatan.
“Tolong antarkan aku ke lokasi kebakaran 9 tahun lalu itu,” ucapku ketika kami berlima hendak pulang.
“Tiba-tiba banget?”
“Letaknya jauh, kita mau naik apa ke sana?” tanya Albert.
“Kalau naik mobil, kira-kira sekitar 5 jam perjalanan. Aku coba tanya ayahku dulu,” tawar Alan.
Alan menelepon ayahnya.
“Kabar baik. Ayahku mau mengantar kita. Albert, kamu mau ikut juga?”
“Mungkin. Sudah lama sejak insiden itu. Orangtua angkatku mungkin memperbolehkan.” Albert membuka handphone-nya. Albert sudah kehilangan semua kerabatnya, dan dia diasuh oleh orangtua angkat setelah sempat tinggal di panti asuhan.
“Bagaimana dengan kalian? Fidel, May, Fian?” Alan menoleh pada kami bertiga.
“Ibuku pasti membolehkan, aku tinggal mengirim pesan padanya. Ayahku masih di luar kota.” Fian menjawab singkat.
“Sepertinya aku harus menelepon Mama dulu,” aku menyahut.
“Kedua orangtuaku pasti membolehkan,” kata May.
Alan mengangguk.
Setelah memastikan mendapat izin dari orangtua masing-masing, ayah Alan datang ke tempat kami singgah di alun-alun. Tanpa berlama-lama, kami langsung pergi menuju kediaman keluarga Ruger yang sudah dibumi hanguskan itu.
Sangat buruk. Sebenarnya tidak enak dilihat, tapi aku masih penasaran dengan tempat ini.
“Apakah kalian tahu mengapa mereka menyerang tempat ini?” aku menoleh pada May, Alan, dan Albert.
“Aku tidak tahu. Yang jelas, mereka menemui kakakku terlebih dahulu dan sepertinya mereka sempat berbincang. Aku yakin ada sesuatu.” May menjawab.
Aku mengangguk. “Apa kamu masih ingat letak rumahmu?”
May menatap bingung padaku. Aku bahkan tidak tahu kenapa melontarkan pertanyaan itu. Wilayah ini sudah hancur, mana bisa mengetahui rumah ini punya siapa, yang itu punya siapa, sedangkan materialnya saja sudah tercampur?
“Itu pertanyaan paling aneh yang pernah aku dengar darimu, Fidel,” Alan nyengir.
Aku menggaruk kepalaku. “Yah, mungkin saja ada petunjuk di rumah May, seperti catatan harian dari kakaknya, atau apalah.”
“Oh, kakakku sudah punya rumah sendiri setelah menikah. Dan lokasinya lumayan jauh dari rumah kami. Sepertinya rumah itu hanya sedikit mengalami kerusakan. Letaknya berada paling luar di wilayah ini,” May menyahut. “Aku ingat tempatnya.”
Kami semua—kecuali ayah Alan yang tetap di mobilnya, tertidur—berjalan mengikuti May. Setelah beberapa menit berjalan, kami sampai di rumah kayu yang cukup besar, dengan hanya sedikit sekali bagiannya yang hangus dan rusak.
“Saking jauhnya dari pusat keributan, rumah ini masih tetap berdiri kokoh, ya,” Albert melongo.
“Boleh masuk?” Fian bertanya.
“Masuk saja, cari yang kalian butuhkan,” May menjawab tak kalah dingin dari Fian.
Aku tersenyum simpul. Dua orang ini, juara satu kulkas berjalan.
“Di mana kamar kakakmu?” aku menoleh pada May.
“Di pojok sana, dekat ruang keluarga.”
Aku membuka pintu ruangan yang ditunjuk May. Pengap. Aku membuka jendela yang cukup besar. Kamar ini seperti kamar tidur biasanya, luas, dengan tempat tidur besar, lemari pakaian, cermin, meja, kursi, dan dekorasi-dekorasi yang tampak berdebu dan sangat kotor.
“Apa sih yang kamu cari?” Albert heran melihatku yang mengecek isi kamar.
“Kalau memang kakak May kenal dengan para penembak jitu itu, seharusnya dia punya catatan atau semacamnya. Apa kakakmu punya buku harian, May?”
“Kakak sangat suka menulis, seharusnya dia punya. Entahlah, dia suka menyembunyikan banyak hal. Kami saja tidak tahu apa yang dia kerjakan di dalam kamarnya sebelum menikah. Kakakku suka mengurung diri di kamarnya.”
Aku mengangguk. Dibantu May, kami berdua mencari buku harian itu. Dan ketika aku membuka laci meja, ada sejumlah buku dan secarik kertas di dalamnya.
“Buku apa ini?” aku mengangkat buku-buku itu, ada tiga jumlahnya. Usang, banyak debu di permukaannya.
“Ah, aku ingat, dulu, Kakak selalu membaca buku itu di waktu senggangnya. Keluargaku tidak tahu buku apa yang sedang dia baca, karena judulnya ditutupi oleh kertas. Kakak selalu menyembunyikan buku itu di kamarnya, dan kami tidak bisa menemukannya. Ketika membaca, dia terkadang mengerutkan dahi, membolak-balik halaman, lalu melanjutkan membaca dengan wajah tenang,” May berkata panjang lebar.
Aku membuka salah satu buku. Sontak, mataku terbelalak melihatnya.
“Ada apa?”
“Buku ini, kosong...”
Fian, Alan, dan Albert mendekat. Mereka juga terkejut. Lalu, apa yang Kakak May baca? Aku membuka dua buku lainnya. Sama, kosong.
“Ini bukan buku yang biasanya Kakak baca. Walau warna sampulnya sama, tekstur dan ketebalannya berbeda dari yang aku lihat dulu,” May meraba buku-buku itu, lalu menepuk dahinya.
“Jadi ini bukan buku yang kakakmu baca?” tanya Albert.
“Entahlah, bisa jadi tidak, bisa jadi iya. Mungkin kakak menyalinnya, karena dulu dia meminjam buku itu dari perpustakaan daerah sini.”
Kalau memang disalin, kenapa buku ini malah tidak ada tulisannya? Tintanya menghilang? Bagaimana caranya?
“Hm, pinjam sebentar buku itu,” Fian tiba-tiba menyahut.
Aku menyodorkan salah satu buku. Fian membuka buku itu, dan mencium kertasnya.
“Apa yang kamu lakukan?”
Fian meraih dua buku lainnya. “Kalian ingat, penciumanku tajam. Dari tadi aku mencium sebuah aroma ketika buku ini dibuka. Dan kalian tahu, kertas ini berbau lemon.”
“Lemon?” Albert menatap Fian heran.
“Mungkin Kakak May menumpahkan minuman lemon pada buku itu,” Alan hanya nyengir.
Kami berempat menatapnya gemas.
“Apa? Bisa saja, kan?”
Tidak, itu hanya sebuah pemikiran sederhana yang kemungkinan benarnya kecil. Aku berpikir keras, maksud dari aroma lemon pada kertas di tiga buku bersampul merah itu.
Le..
..mon?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Lemon? Teknik 'itu' kah?
hehehe