MENTARI YANG MENGHILANG
BAB II
MENTARI YANG MENGHILANG
Part 1
Semenjak hari pengumuman itu aku selalu mengikuti latihan secara rutin untuk maju ke tingkat kota, dan sekarang aku tinggal bersama ibu ku. Yah orang tuaku bercerai dua tahun yang lalu, aku memilih mengikuti ibuku karena ibuku sudah tak punya kerabat lagi dan kami hanya tinggal ber empat dengan aku dan adik adik ku. Setelah pulang sekolah biasanya aku membantu ibuku membuat kue dan menjualnya pada sore hari.
Aku tak akan pernah lelah membantu ibu karena ibuku selalu berusaha membuat ku tersenyum dan tertawa. Ibu selalu membuat aku dan adik ku tersenyum tanpa memikirkan luka yang iya rasakan selama ini. Aku selalu membantu ibu unuk menjual kue keliling. aku sangat bangga pada ibuku, beliau adalah pahlawan yang tangguh.
Aku tinggal di Pulau Panggang, rumahku terbilang sangat sderhana namun aku sangat bersyukur akan hal itu karena tuahan masih memberikan kami tempat yang layak untuk kami tinggali.
***
Hari ini adalah hari di mana hari terakhirku latihan duta literasi karena aku akan tanding menuju ke tingkat wilayah bersama teman temanku yang lain
“oke. Bagus semuanya, kita istirahat sebentar dan briefing”
kata tersebut terlontar dari sang pelatih kami yang bernama Asyraf Dirgantara namun kami biasa memanggilnya dengan sebutan kak Dirga.
“progres kalian sangat bagus, saya sangat bangga pada kalian, kalian hebat, kalian bisa dan kalian adalah juara. Minggu depan kalian akan mulai karantina duta baca selama selama satu bulan. Saya tidak berharap lebih tapi saya ingin salah satu dari kalian membawa piala penghargaan tertinggi.”
Kata kata itu mampu membakar sengat kami dan semnagat itu terus berkobar seakan akan kita akan memenangkan perang.
“terima kasih kak atas motivasinya” kami serentak
Kak Dirga hanya membalas kami dengan senyum yang mungkin buat cewek cewek akan kepincut.
“ ayok sekali lagi kita latihan setelah ini kita bakal pulang”
Kamu in langsung mengikuti intruksi dari kak dirga. Setelah selesai latihan, akupun langsung merapihkan barang bawaanku. Namun aku masih ada yang mengganjal di hatiku, aku pun menghampiri kak Dirga
“mohon maaf kak saya ingin bertanya.”
“tanya aja saka” kak Dirga
“jadi gini kak, untuk peralatan yang heus di bawa saya kurang sepatu pantofel kak, itu bagaimana kak?” tanyaku
“ukuran sepatu mu berapa?” tanya nya balik
“ 43 kak ” jawabku singkat
“kalau gitu kamu pakai sepatu saya aja, kebetulan ukuran sepatu kita sama” balas nya dengan senyum khas yang sering ia tunjukan pada kami
“beneran kak? Terima kasih yah kak”
Kak Dirga pun hanya mengangguk dan tersenyum simpul di wajahnya. Aku sudah menganggap kak Dirga sebagai kakak ku sendiri karena beliau selalu baik kepadaku.
***
Jam pun menunjukan pukul 4.00 wib menunjukan bahwa kami harus segera pulang. Entah mengapa badai pun turun, angin berhembus kencang, hujan gerimis pun menimpa kami yang menunggu kapal di dermaga. Kami menunggu badai reda agar kapal kecil kami bisa berlayar dengan selamat sampai tujuan.
Badai pun mulai reda, tak menuggu lama kapal kami langsung berlayar, karena kami khawatir badai ini akan kembali memburuk.setelah kapal kami keluar dari dermaga dan sudah di pertengahan jalan, apa yang kami khawatirkan pun terjadi. Badai kembali datang, angin bertiup kencang, obak bergulung seolah mengemukakan kemurkaannya pada manusia, dan hujan tiba tiba turun dengan derasnya.
Tubuh, barang bawaan, dan yang ada di kapal kami basah, bukan hanya karena air hujan tapi juga karena ombak yang memercikan airnya ke dalam kapal, rasa khawatir, cemas, dan panik pun muncul. Mulut kami tak henti hentinya berdo’a kepada yang maha kuasa dan mohon perlindungannya.
Setelah kapal sudah hampir sampai di tujuan, tiba tiba mesin kapal pun mati dan kapal tak bergerak. Kita terbawa arus dan teromabng ambing di atas kapal. “oh tuhan mengapa masalah ini tak berakhir” batinku berteriak, dan tak hentinya aku menyebut nama sang pencipta. Sang pengemudi kapal pun dengan cepat dan sigap memperbaiki kapal. Aku pun ikut membantu untuk mempercepat kapal untuk kembali berjalan.
“apa yang rusak pak?” tanyaku
“ini air pendinginnya gak bisa keluar, selangnya mampet” kata bapak pengemudi
“boleh saya bantu?” sambil melepas seragam sekolah yang untungya aku memekai baju kaos dalam.
“boleh, tolong ambilkan obeng di laci sana” katanya sambil menunjuk sebuah laci yang memiliki banyak perkakas
Aku pun langsung memberinya obeng tersebut dan ikut membantu mengeluarkan penyumbat di selang tersebut. Setelah itu kembali memasang selangnya dan menyalakan nya kembali. Awalnya belum bisa namun setelah di coba beberapa kali akhirnya mesin kapal pun menyala kembali. Dengan cepat kapal langsung tancap gas.
Kapal pun sudah sampai di tujuan rasa lega pun hadir namun ada beberapa hal yang membuat ku gusar, namun aku tak tahu apa itu.aku pun berlari menuju rumah ku.yah, rumah yang berdindingkan kayu, beralaskan tanah, dan atap nya masih sering bocor.
Sesampainya di rumah dadaku terasa amat sesak dan gusar, entah mengapa aku pun tak tahu apa ini. Aku pun terhenti dan menenangkan diriku di depan rumah sebelum aku masuk. Aku melepas sepatuku dan menyimpannya di rak sepatu yang aku buat berbahan kayu dari peti keranjang telur.
Aku pun masuk tak lupa memberi salam, alangkah kagetnya aku ketika masuk ke dalam rumahku, bulir air mataku lolos mengalir aku tak dapat membendung air mataku. Aku menangis melihat ibuku yang tiba tiba terbaring lemas di ranjangnya dan mengeluarkan bercak darah di hidungnya, wajahnya nampak pucat.
“kamu udah pulang nak?” senyumnya terpatri dari bibir nya
Aku masih diam dan belum menjawabnya
“kamu udah makan belum nak?”tanya nya lagi
Aku masih diam masih menitihkan air mataku. Tanpa aku sadari airmata ibuku juga mengalir dan beliau mengucapkan sesuatu yang agak samar namun masih bisa aku dengar
“emak benci sama diri emak, kenapa emak gak bisa bahagia in kalian, kenapa sekarang emak bikin kamu nangis” katanaya terputus masih dalam isakan tangisnya.
Mataku menatap wajahnya yang sendu. Hatiku terisris melihat ibuku sendiri mengucapkan hal ini
“emak gagal membuat kalian bahagia, maafin emak nak” katnya namun darah yang ada di hidungnya masih terus mengalir dan adik ku mengelapnya dengan sabar dan ikut enangis pula
“emak jangan ngomong kayak gitu. Aku seneng asalkan tetap bersama emak” air mataku mengalir tanpa henti
Ibu mengelus pipiku dan menghapus air mataku.
“kamu jangan nangis, kamu itu anak tertua di sisni” katanya terputus karena batuknya
“jika emak udah tiada, tolong rawat adikmu” senyum simpulnya terpatri
Seketika hatiku merasa tercabik dan asakit. Diriku mematung mendengar perkataannya. Bagaikan tersambar petir yang sangat dasyat. Tangisku pun semakin menjadi karen perkataan nya.
“kenapa emak ngomong kayak gitu? Jangan ngomong kayak gitu mak” sambil terisak tangis
“sudah nak, kamu makan aja, emak gak apa apa kok, emak udah masakin *ikan pepes kesukaan kamu. Lagi pula emak cuman kecapekan aja” tuturnya halus.
Sambil menangis aku mengangguk pelan, dan mulai melangkah menuju dapr dan menyantap makanan ku walaupun hatiku masih gusar setelah mendengarkan penjelasan dari ibu. Setelah iyu aku membantu mencuci pring dan langsung menjemur pakaianku yang tadi basah di dalam rumah.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
maaf yah kalau banyak typo atau salah ketik. semua saran dan kritik saya terima dan silahkan tuliskan di kolom komentar