Husnul Bahri

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jejak pahlawan

Karya: Husnul bahri 9C

Sang mentari mulai menampakkan diri, diantara pegunungan diiringi dengan kicauan burung mengalun indah, kokokan ayam yang saling bersahutan, hembusan angin menerpa pepohonan.

Jalan yang kanan kiri diisi oleh hamparan sawah sawah milik petani, anak anak yang berlarian bermain tanpa mengenal lelah. Para orang tua yang berjalan membawa cangkul pergi untuk menanam padi. Siapapun yang melihat ini pastii akan iri oleh ketenangan hidup di desa.

Di sebuah desa kecil dan terpelosok di kaki gunung merapi, tinggal seorang pemuda bernama arga. Desa tersebut dikelilingi oleh hutan hijau rimbun dan sawah yang sangat subur. Masyarakat desa itupun di kenal sangat ramah dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi. Arga, ia tinggal sendiri, karena kedua orangtuanya telah berpulang sejak ia masih kecil, dan meski hanya seorang pemuda desa, tetapi ia terkenal karena dedikasinya dalam membantu sesama dan semangatnya dalam belajar tentang sejarah bangsa Indonesia.

Suatu hari dipagi yang cerah, saat arga sedang membersihkan halaman rumahnya, tak disangka, ia kedatangan tamu tak terduga. Seorang pria tua dengan jubah putih dan tongkat kayu berjalan menghampirinya. Wajahnya tampak terlihat bijaksana dengan kerutan yang mencirikan ia sudah tua, dan juga tatapannya yang tajam seperti elang yang sedang mengintai mangsanya.

“Selamat pagi, anak muda. Aku sedang mencari remaja bernama arga, apakah kamu mengenalnya?” kata pria tua itu dengan suara yang lembut namun tegas.

Arga mengusap keringat di dahinya menggunakan baju dan berdiri. “Selamat pagi, pak. Saya arga yang bapak cari. Ada yang bisa saya bantu?” Ucapnya

Pria tua itu tersenyum dan berkata. “Aku datang kesini untuk memberitahukanmu tentang sejarah pahlawan yang mungkin belum sama sekali kamu ketahui.”

Arga memandang pria tua tersebut dengan rasa penasaran. “Sejarah pahlawan? Maksud bapak?” tanya Arga dengan bingung.

“Ya, di desa ini, ada seorang pahlawan yang telah lama terlupakan dikarenakan orang orang merasa, beliau tidak mempunyai pengorbanan apapun dalam peperangan. Namanya adalah panglima sura, seorang pejuang yang pernah berjuang untuk kemerdekaan negri kita tercinta. Aku sendiri adalah salah satu orang yang masih mengenang kisahnya,” jawab pria tua itu dengan nada lirih.

Arga yang mendengar itupun merasa tertarik. “Aku ingin tahu lebih banyak tentang panglima sura, apakah bapak bisa menceritakan semuanya kepada saya?” Ujar arga semangat.

“Ya, aku akan menceritakan semuanya, tetapi sebelum itu ikutlah denganku. Aku akan membawamu ke sebuah tempat yang mungkin akan memberikan mu wawasan baru dan jawaban yang kamu inginkan.” Ujar pria tua itu sambil beranjak pergi ke tempat yang dituju.

Tanpa berpikir panjang, bintang segera ikut beranjak dan mengikuti pria tua itu. Mereka melewati jalan setapak dan hutan kecil, hingga tiba di sebuah situs bersejarah yang tertutupi oleh semak belukar. Disana, berdiri sebuah monumen sederhana dangan ukiran nama panglima sura.

“Anak muda, ini adalah tempat peristirahatan terakhirnya panglima sura,” kata pria tua itu. “Beliau adalah pahlawan yang dikenal karena keberaniannya melawah penjajah. Namun, Setelah kemerdekaan, kisahnya banyak dilupakan sehingga sekarang jarang yang ingat tentang pengorbanan panglima sura kala itu.

Arga mengamati dengan seksama monumen itu dengan penuh rasa hormat. “Kenapa kisah panglima Sura dilupakan, pak?”

“Setelah kemerdekaan negri kita, banyak hal yang harus dibangun dan diprioritaskan. Kisah kisah pahlawan sering kali kalah oleh cerita baru dan perkembangan zaman. Tetapi, kisah mereka adalah bagian penting dari sejarah kita.” Jelas pria tua itu.

Arga mendengar itu merasa terinspirasi dan tertantang. “Aku ingin menceritakan kisah panglima sura kepada semua orang di desaku, mereka perlu tahu tentang keberanian dan semangatnya.”

Pria tua itu tersenyum tipis. “Bagus sekali anak muda. Namun, sebelum itu, aku ingin kamu mendengarkan kisah tentang panglima sura secara lengkap,” kata pria tua itu sambil duduk di batu besar di dekat monumen panglima sura. “Duduklah dan aku akan menceritakan semua kisahnya.”

Arga segera duduk rapih, diam menunggu debgan penuh perhatian. Dan pria tua tua itu mulai bercerita.

“Panglima sura adalah seorang pejuang dari masa penjajahan belanda. Beliau lahir di desa yang engkau tempati ini, dan sejak panglima sura masih muda beliau menunjukkan bakatnya dalam berperang. Ketika penjajah mulai mengancam kemerdekaan negri ini, panglima sura lah yang memimpin pasukan lokal untuk melawan mereka. Dan panglima sura dikenal karena strategi dan kecerdikan dan keberaniannya di medan perang.” Ucap pria tua itu.

Arga menyimak dengan dengan seksama.

“hmm..apa yang membuat panglima sura berbeda dari pahlawan lain, bukannya sama saja seperti pahlawan lainnya yang memperjuangkan negara ini?” Tanya arga.

“Karena beliau memiliki kepedulian yang mendalam bagi rakyatnya dan berbeda dengan pahlawan lainnya. Tidak hanya berjuang di medan perang saja, panglima sura juga memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Beliau memastikan bahwa setiap kemenangan dalam pertempuran tidak hanya untuk sebuah kebebasan, melainkan untuk kesejahteraan masyarakatnya. Bahkan dalam keadaan yang sulit, beliau selalu mengutamakan keselamatan dan kebutuhan para rakyatnya,” lanjut pria tua itu dengan penuh Semangat.

“Wahh, itu luar biasa sekali,” kata arga, langsung terpesona oleh kisah panglima sura. “Jadi, apa yang selanjutnya terjadi pada panglima sura setelah selesai perjuangannya?” Ujar arga.

“Setelah kemerdekaan akhirnya tercapai, panglima sura kembali ke desa tempat asalnya dan terus melayani rakyatnya dengan cara yang lebih damai. Namun, panglima sura tidak pernah mencari pengakuan dan penghargaan dari rakyatnya. Dia lebih meilih untuk tetap rendah hati dan fokus pada membangun desa. Sangat disayangkan, setelah beberapa tahun, ingatan tentang jasanya mulai memudar seiring berjalannya waktu.”

Arga mengangguk paham, merenungkan cerita panglima sura. “Aku merasa terinspirasi untuk melakukan sesuatu untuk panglima sura, aku ingin menceritakan kisah panglima sura agar semua orang tahu betapa pentingnya jasa panglima sura.” Ujar arga bersemangat.

Pria tua itu tersenyum puas. “Itu adalah semangat yang tepat anak muda. Tapi ingat, kisah pahlawan ini bukan hanya tentang mengenang jasa mereka, tetapi juga meneruskan nilai nilai dan semangat mereka dalam kehidupan sehari hari.” Ujar pria tua tersebut.

Setelah perbincangan yang panjang dan memakan waktu, dan langit sudah terlihat jingga, matahari mulai menyembunyikan dirinya, arga dan pria tua iti kembali ke desa. Dengan semangat yang baru dan menggelora, arga mulai merancang bagaimana cara terbaik untuk menyebarkan kisah panglima Sura. Arga memutuskan untuk membuat pameran kecil di balai desa, di mana dia akan menampilkan foto foto, dokumen sejarah, dan cerita tentang panglima sura.

Tak terasa, hari pameran pun tiba. Arga berkerja keras mempersiapkan segala sesuatunya demi kelancaran acaranya. Arga juga mengundang beberapa orang tua yang mungkin masih ingat tentang panglima sura dan para penduduk desa untuk menghadiri acara tersebut. Malam tiba, ruangan di balai desa penuh dengan gambar dan tulisan yang menceritakan kisah kepahlawanan panglima sura.

Saat acara dimulai, arga berdiri didepan, memandang kerumunan orang orang dengan penuh rasa antusiasme. Dia mulai bercerita tentang panglima sura, Menggambarkan perjuangannya, kepeduliannya terhadap rakyat disana dan bagaimana panglima sura tetap rendah hati meski telah melakukan banyak hal besar.

Seiring dengan berjalannya waktu, arga melihat para penduduk desa mendengarkan dengan serius. Beberapa orang tua tampak mengingat kembali masa lalu dan berbagi cerita dengan anak anaknya. Atmosfer diruangan itu penuh dengan rasa kekaguman dan kebanggaan.

Sudah berlalu, malam pun semakin larut. Setelah pameran selesai, arga merasa sangat puas melihat perubahan di wajah wajah para penduduk desa. Mereka tidak hanya mengenal sejarah, tetapi mereka juga merasakan Kembali semangat perjuangan dan dedikasi yang telah dilakukan oleh panglima sura.

Di malam hari, setelah selesai pameran, arga duduk bersama beberapa penduduk desa di sekitar api unggun. Pria tua yang sebelumnya menemui arga juga hadir. Arga mendekati pria tua tersebut dan berkata, “pak, terimakasih atas cerita dan bimbingan bapak, tanpa bapak mungkin pameran ini tidak akan ada. Pameran ini berhasil dan semua orang terlihat sangat antusias.”

Pria tua itu tersenyum bangga, merasa bahagia sekaligus terharu. “Tidak anak muda, itulah hasil dari kerja kerasmu. Kamu telah menghidupkan kembali kisah seorang pahlawan dan menginspirasi orang orang di sekelilingmu. Itu adalah sebuah prestasi yang sangat berarti, panglima sura akan merasa senang atas dedikasimu mempersiapkan semuanya anak muda.”

Arga merasa terharu dan bersyukur. “Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan pak. Tapi saya berharap, bahwa kisah panglima sura akan terus selalu dikenang dan diambil sebagai suri tauladan bagi generasi mendatang.” Ujar arga.

“Itu adalah tujuan utamanya,” kata pria tua itu. “melalui cerita panglima sura, kita tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga membangun masa depan yang jauh lebih baik.” Jawab pak tua.

Keesokan harinya, arga mendapatkan kabar bahwa pemerintah desa ini akan mengadakan upacara penghargaan untuk menghormati para pahlawan pahlawan lokal. Arga merasa ini adalah kesempatan emas baginya untuk mengusulkan nama panglima Sura agar dikenal luas oleh orang orang. Dengan bantuan beberapa warga desa, arga menyiapkan proposal yang menjelaskan jasa jas panglima sura dan mengusulkan agar nama panglima sura di masukkan kedalam daftar penghargaan.

Beberapa Minggu kemudian, arga diundang kebalai kota untuk menghadiri upacara tersebut. Dan saat upacara berlangsung, nama pahlawan yang ia usulkan yaitu panglima sura diumumkan dan diakui sebagai pahlawan nasional. Monumen baru dibangun di desa bertujuan untuk menghormati jasa jasa panglima sura, dan Namanya dicantumkan di buku sejarah lokal sebagai salah satu pahlawan yang berjasa untuk negara ini.

Arga merasa dirinya sangat bangga dan terharu melihat perubahan yang ia inginkan. Para penduduk desa berkumpul untuk merayakan penghargaan tersebut dan mengingat kembali jasa jasa panglima sura. Acara itu dihadiri oleh pejabat pejabat penting dan juga anak anak sekolah yang mendapat kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang sejarah pahlawan mereka.

Selama upacara berlangsung, arga duduk di samping keluarga panglima sura yang kini berusia lanjut. Mereka berbagi cerita dan kenangan tentang panglima Sura, setta bagaimana beliau memengaruhi kehidupan mereka. Arga merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari momen bersejarah ini.

Pada akhir upacara, arga berjanji pada dirinya sendiri untik terus selalu menjaga semangat perjuangan dan dedikasi panglima sura. Arga tahu bahwa ada banyak pahlawan diluar sana yang perlu diingat dan dihargai, dan arga juga berharap bahwa upayanya untuk mengenang panglima sura dapat memotivasi orang lain untuk melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan.

Setelah semuanya selesai, arga kembali ke desanya, arga terus aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Dia mengadakan pelatihan sejarah di sekolah sekolah tempat tinggalnya dan mendorong generasi muda untuk memahami dan menghargai setiap perjuangan pahlawan pahlawan nasional. Arga juga bekerja sama dengan berbagai organisasi untuk melanjutkan pelestarian situs-situs bersejarah dan mendidik bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan budaya.

Suatu hari, arga mendapatkan kesempatan untuk berbicara di depan forum nasional tentang pentingnya pelestarian sejarah dan budaya di negri kita. Arga menceritakan tentang panglima Sura dan bagaimana hal itu telah menginspirasi komunitasnya. Terakhir pesan arga menyentuh banyak hati tamu undangan dan mendapatkan dukungan luas dari berbagai kalangan.

Di usia senjanya, Arga merasa dirinya sangat puas melihat perkembangan yang telah dicapai oleh dirinya. Kisah panglima sura tidak hanya dikenal di desa tempat ia tinggal saja, tetapi juga sampai di seluruh negri. Monumen dan penghargaan yang diberikan kepada panglima sura telah memperkuat rasa kebanggaan dan kesadaran akan sejarah yang ada di seluruh Indonesia.

Dalam kenangan terakhirnya, arga duduk di bawah pohon beringin di depan rumahnya, memandang ke arah gunung yang megah nan rupawan. Dia merasa bahagia telah melakukan bagian kecilnya dalam menghidupkan kembali kisah seorang pahlawan yang layak mendapatkan penghormatan. Dengan senyum di wajahnya, dia menutup mata, menikmati hembusan angin dan kicauan burung, merasa puas telah menyebarkan semangat perjuangan dan dedikasi yang diwariskan oleh panglima Sura kepada generasi yang akan datang.

Dan dengan begitu, kisah panglima sura akan terus hidup di hati setiap orang yang pernah mendengarnya, mengingatkan mereka tentang rasa keberanian dan dedikasi yang tak ternilai, serta inspirasi untuk meneruskan semangat perjuangan dalam setiap langkah kehidupan mereka.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post