Fatimah Rasyida

Arsip. Kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan jari jemari Fatimah Rasyida, sesuai dengan nama akun ini. ps. arsip di-upload sesuai dengan keinginan...

Selengkapnya
Navigasi Web

We Did It !

“Saya gak setuju dengan rancangan pentas seni kalian, terlalu banyak anggaran gak dibutuhin ada di proposal kalian,” suara tegas nan cempreng. Suara khas Bapak kepala sekolah yang ketika bicara kumis hitlernya gerak-gerak.

“Ibu kebayang sih bakal jadi apa rancangan pentas seni yang kalian buat, tapi kurang ‘wah’ gitu, soalnya kan pentas seni ini akan mengundang banyak orang, ada bintang tamu juga kan nanti, jadi harus nunjukkin kalau sekolah kita itu ‘pentas seni’-nya layak untuk ditunggu setiap tahunnya.”

Kami saling lirik. Rapat bersama guru-guru atasan membuat kami sedikit ketakutan. Apalagi semua guru itu adalah guru killer sekolah kami.

“Ini plan A doang yang dipresentasiin? Plan B kalian mana? Atau kalian belum buat?” tanya Bapak Kepsek.

“Sudah Pak, tapi kami belum mempersiapkannya untuk mempresentasikannya, karena yang kami tahu hari ini hanya mempresentasikan untuk plan A saja,” jawab Ketua.

“Oh, begitu baiklah, nanti revisiannya saya kasih setelah pulang sekolah ya, sekian.”

Keluar dari ruangan rapat, mencari oksigen untuk bernapas. Di dalam ruangan itu terasa sesak dan tidak ada oksigen yang bisa kami ambil untuk bernapas.

Kami masuk ke dalam ruangan OSIS dengan napas tertahan. Ketua melempar proposal sembarang.

“Ketua!” seru bendahara.

“Gimana kalau mau bikin Pensi yang meriah kalau anggarannya aja dikasihnya cuman dikit banget!”

Kami duduk dengan lesu dan bersender ke dinding. Sudah beberapa anggota yang menutupi kesedihan dari wajah mereka. Menutupinya dengan tangan.

“Bu wakasek juga gak jelas, katanya hari ini cuman presentasiin yang plan A doang.”

“Mereka berdua gak pernah koordinasi ya? Heran gue.”

“Gue mundur aja deh jadi ketua, gue kesian liat lu pada yang udah banyak usaha. Kita mundur aja,” kata Ketua.

Sekretaris menatap ketua dan menarik kerah baju ketua, “Coba bilang sekali lagi.”

“Gue mau mundur jadi ketua!” serunya.

“Bercandanya Ketua gak enak banget didenger,” kata Bendahara.

“Gue gak bercanda!”

“Kalau gitu buat apa kita capek-capek sebulan ini tiap hari bikin proposal, rapat sampe malem? Percuma gitu? Sia-sia gitu?”

“Ketu, liat anggota-anggota lu dong, yang juga capek tapi masih tetep ikutin dan maju bareng-bareng sama elu sebulan ini.”

“Kalau ketuanya kayak gini, anggota-anggotanya gimana? Perasaan anggota-anggotanya kayak apa?!” seru Sekretaris di depan wajah Ketua.

“Lu kira elu doang yang capek? Kita juga,” kata Bendahara.

Sekretaris menatap wajah Ketua. Wajahnya tegang dan urat-urat di daerah matanya terlihat, “Jangan jadi pengecut. Kalau gitu untuk apa lu nyalonin jadi ketua OSIS?”

***

Sore yang cerah untuk menggelar tikar di taman depan rumah. Di dekat pepohonan rindang, angin yang bersemilir menerbangkan dedaunan di sekitar. Beberapa motor, layaknya seperti konvoi memasuki lapangan, memarkirkan motor mereka di bawah pohon mangga untuk berteduh. Kami saling menyapa satu sama lain dan duduk melingkar.

“Jadi apa yang hari ini mau dibahas ges?”

“Bukannya pembukaan dulu?”

“Ketuanya aja masih beli minum dulu di warung, sabar ya.”

“Terus gimana?”

“Ya gak gimana-gimana. Noh, main aja sama anak kecil yang maen bola, ntar balik lagi kalo udah dateng ketuanya.” Sekumpulan laki-laki itu langsung meninggalkan lingkaran tempat duduk. Di tempat yang sama, sang empunya rumah berjalan tergopoh-gopoh membawa tempat minum tupperware satu liter dan gelas plastik.

“Dah yak, jangan ada yang nyuruh apa-apa lagi. Lu aja sana ke kamar mandi sendiri, jangan minta gue anterin,” katanya.

“Kan lu yang punya rumah.”

Knalpot vespa yang nyaring membuyarkan obrolan tikar itu, dan semua orang menatap ke arah si ketua yang membawa kantong plastik merah yang berisi air mineral.

“Beli air doang? Gak ada kayak coca cola gitu?”

“Mana uangnya?” sahut Ketua sambil menghampiri tikar.

“Woi! Mainnya udahan, ketua udah dateng. Balik, balik!” Ketiga lelaki banjir keringat itu memasuki tikar. Duduk sembarangan dan berebutan mengambil air hingga tak tersisa. Si punya rumah hanya menghela napas, teman sampingnya hanya bisa tertawa dan membantu menguatkan mental dengan mengelus pundaknya.

“Langsung mulai aja yak. Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Terima kasih untuk semua teman-teman yang sudah bisa bergabung dalam rapat harian kita, dan terima kasih juga untuk si yang punya rumah untuk bisa dipakai lingkungan rumahnya untuk repot-repot meminjamkan tikar rumahnya. Daripada menunggu lama lagi, langsung kita mulai saja ke pembahasan pertama..”

Mereka memiliki kegiatan dan tugasnya masing-masing. Diselingi dengan candaan dan gelak tawa dari si pembawa humor tim yang tak kunjung habis candaannya.

“Eh, tadi catatan yang ditulis tadi mana?”

“Bukannya sama elu ?”

“Tadikan dibawa buat Foto-Foto rencana tempat?”

“Yang kertas corat-coret itu? yaah, tadi gue kira itu sampah, jadi gue buang.” Menjawabnya terlalu polos dan membuat semua orang menatapnya sepersekian detik. Lalu terjadi kekacauan. Sekretaris yang hanya bisa mengelus dada, Ketua tersenyum miris, dan anggota-anggota yang sudah mulai gila.

PING. Pesan muncul dari ponsel Penanggungjawab acara. Membacanya sekilas kemudian memaki-maki ponsel yang tak salah apa-apa.

“Apaan?” ponsel dioper ke anggota lain dan membacanya keras-keras.

“Itu gak ada kasihan-kasihannya apa yak sama kita? Udah empat kali lho kita ganti bikin proposal,” kata Ketua.

“Yang direvisi dari minggu kemarin baru proposal plan A doang, yang plan B, dan plan C belum dibuka tuh kayaknya. PPT aja kalau satu proposal direvisi, ikutan juga diganti,” kata Bendahara. Sekretaris hanya bisa pasrah, jiwanya sudah hilang entah ke mana. Menaruh laptop dari pangkuannya ke orang sebelahnya lalu tiduran.

“Eet astaga, itu Sekre ampe begitu. Itu gak ada rasa pengertian dan kasihan kepada orang lain?”

“Ah, sudahlah. Ayo lanjutkan. Biarkanlah,” kata Sekretaris yang sudah lemas seperti tidak ada semangat hidup.

Menggelar tikar untuk sekian kalinya di tempat yang sama. entah itu jumlah anggota yang berbeda atau yang datang sedikit. Masih sama. mengerjakan proposal yang setelah satu bulan tidak selesai-selesai.

Dengan banyak momen sudah dilewati selama satu bulan penuh dengan lika-liku. Ketidakpastian yang sudah menjadi hal biasa, tapi masih tetap ketar-ketir untuk menunggu jawaban. Berusaha untuk tidak melewati batas, meskipun dilain hal semua orang sudah capek dan sensitivitas yang meningkat. Istilah senggol bacok sudah terjadi entah berapa kali. Menjadi lebih banyak mendekatkan diri kepada-Nya.

Pepohonan sudah seperti saksi bisu perjuangan kami dari bertanggungjawab atas apa yang kami perbuat dan lakukan. Bahasa kasar nan indah yang selalu diterpa oleh angin.

“Haha, jadi kangen lagi,” kata Ketua.

“Lah, kita kan memang sedang seperti yang dilakukan kemarin-kemarin, apa yang kangen?”

“Ngomong sama Sekre capek eyhh,” canda Bendahara.

Duduk melingkar di tikar dan kemudian berlari secepat mungkin menuju pos kamling. Hujan secara tiba-tiba mengguyur, tanpa berpikir panjang langsung membawa laptop dan ponsel.

“Tikernya woi, itu basah!” seru Sekretaris. Tidak ada yang ingin mengambilnya karena hujan deras, disusul angin kencang, dan petir yang menyambar. Kilatan panjang menyelimuti langit. Tangan sudah fokus menutup telinga dari suara petir.

Angin kencang yang membuat dahan pepohonan rubuh, membuat kami panik dan tertawa pada saat yang sama. takut dengan kilatan petir, suaranya yang membahana, dan melihat tikar yang semakin terseret oleh angin kencang.

“Tiker rumah gue~” Kami tertawa melihat tikar itu yang terseret hingga ujung lapangan.

Di saat-saat kebersamaan itu aku teringat sebuah dialog di sebuah seri televisi yang kutonton.

“I’m still thingking about my old pals.”

“I wish there was a way to know you’re in the good old pals, before actually left them.” Dalam beberapa pertemuan tim aku memikirkannya. Ketika kami menangis, kecewa, dan tertawa bersama.

“Apakah ini akan menjadi salah satu memori berharga bersama mereka?” Sebelum akhirnya aku tertawa mengikuti alur.

***

Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Penentuan dari segala tanggung jawab, usaha, dan tenaga yang kami curahkan dalam acara itu. Melirik banyak orang terhibur dan menikmati apa yang sudah dirancang sedemikian rupa. Hasil dari debat antar anggota dan kerja sama. melihat tatapan semua rang membuat rasa lelah itu sirna. Kami. Aku. Dan kau.

Teriknya matahari. Otot yang mulai menengang di beberapa anggota tubuh. Betis, pundak, lengan, dan jari jemari. Pegal tak bisa lagi dipungkiri. Keringat mengucur deras kemudian membuat ketiak basah. Melihat semua orang tertawa dan senang, 3L kami pun sirna. Lelah, letih, loyo.

Menatap satu persatu tim yang sudah berjuang bersama dari awal. Melewati banyak hal bersama.

“Kenapa sih Ketua ketawa-ketawa gak jelas?”

“Ketuwa, ketua ketawa,” celetuk Sekretaris.

Terlihat jelas dari mata kami, bening seperti kaca. Air itu keluar satu persatu dari mata kami ketika kami tertawa. Berkumpul di tengah. Saling merangkul.

“Jadi kayak telletubies gini, haha,” kata Ketua.

“Ih, jangan pegang-pegang gue, bukan muhrim!”

“Ngerusak suasana seneng bae lu, ah.” Kami tertawa, lalu terdiam. Mata kami semua bertemu, kemudian tertawa kecil.

“Gengs, we did it!” seru Ketua.

“Ketua jangan nangis~ jadi ikutan nih gue.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post