Stuck in The Clown
“Terjadi kecelakan di taman bermain kota. Kereta luncur yang luput pengecekkan membuat empat orang luka berat dan satu pekerja meninggal..”
Berita tentang taman wisata itu menjadi topik hangat di kota. Semua orang membicarakannya. Hingga taman bermain itu ditutup selamanya akibat bangkrut.
“Kau tau tentang rumor kostum kepalanya yang menghilang itu?”
“Sudah kubilang, dia bukan temanku, kami hanya rekan kerja.”
“Kabarnya dia masih menghantui tempat kerjamu dan meminta orang-orang yang datang untuk melepaskan kostumnya. Kau tau kan maksudnya apa?”
“Tidak.”
“Maksudku, bisa jadi dia datang menemuimu untuk meminta melepaskan kostumnya.”
“Aku tidak percaya takhayul.”
“Memangnya apa hubungannya rekan kerjamu yang meninggal itu dan kostum? Kau bekerja apa sih disana?”
Terdiam. Tidak ada balasan. Sudah ada di kontrak pengunduran diri untuk tidak membicarakan atau membocorkan informasi yang terjadi di hari itu.
***
Aku menatap pemandangan ibu kota di siang hari. Dari lantai empat angin sangat kencang, hampir saja menerbangkan jemuranku. Aku bertengger di balkon sambil mengisap sebatang rokok. Itu adalah bungkus keduaku hari ini. Bagaimana aku bisa berhenti jika masih dua bungkus per hari. Aku berdecak ketika melirik jam dinding. aku malas bekerja. Pekerjaan paruh waktu yang membuatku dibanjiri keringat. Bersikap seolah tokoh fiksi yang selalu bergembira, melambai-lambaikan tangan kepada semua pengunjung yang datang.
Menuruni tangga dan berjalan ke belakang gedung yang berbanding terbalik dengan tampak depannya. Kumuh. Lorong sempit dan gelap. Cahaya remang-remang lampu mengarahkanku ke tempat aku berganti pakaian. Bau apek menyuarak di seluruh ruang bawah tanah itu.
“Meng, kau gantian shift di wahana roller coaster, orang yang biasa disana gak dateng,” kata Petugas. Suaranya sedikit cempreng karena sambil menutup hidung ketika memasuki ruangan. Aku mengangguk kecil.
Terjebak di negara orang membuat namaku juga ikutan terjebak. Asal bandung yang biasa dipanggil mamang, beralih menjadi meng karena perbedaan ejaan. Mamang sudah cukup untuk semua orang memanggilku disini. Aku tidak menyukai namaku. Terlalu mewah dan tidak cocok untuk lidah orang bandung, apalagi orang-orang akan penasaran wajah seperti apa yang memiliki nama sekeren dan semewah itu. Aku tidak ingin mereka kecewa karena membayangkannya.
Menatap kostum yang tergantung di depan loker. Benar-benar pemilihan warna yang buruk. Apa ada harimau berwana hijau neon?
“Kostummu daritadi menyilaukan mata, Meng,” celetuk teman kerjaku.
Aku tertawa renyah, “glow in the dark.”
“Tapi lucuan kostum si pojok, dia memakai kostum princess.” aku melirik ke pojok. Rekan kerja yang selalu pendiam yang akhirnya dijadikan bual-bualan bagi rekan-rekan yang lain. Kostum princess berwara pink dan mengharuskannya untuk berdandan dulu. Cross dress sudah sangat awam dipekerjaan kami.
“Mom look! The tiger so cute.”
“What’s the color, honey?” tanya Ibunya.
“Green!” seru anak itu dan menghampiriku. Aku memeluknya dibalik kostum itu. Mereka berdua berfoto denganku.
Setiap wahana di taman hiburan memiliki maskotnya sendiri-sendiri. Begitu pula dengan harimau berwarna neon nyala ini. Warnanya ikonik untuk wahana roller coaster. Tugasku hanyalah menarik pengujung untuk mau datang dan menaiki wahana yang berada tepat di belakangku. Upahku bergantung dengan berapa pengunjung yang datang di wahana tersebut.
Sayup-sayup aku mendengar suara teriakan dari belakang. Yang terpikirkan di kepalaku hanyalah suara orang-orang berteriak karena menaiki roller coaster yang cukup mengerikan itu. Aku tidak melirik ke belakang. Aku takut ketinggian. Itu membuatku gemetaran ketika ada kereta luncur yang berputar-putar di ketinggian. Bisa-bisa aku tidak mendapat upah jika sibuk dengan ketakutanku.
Malam di taman bermain terlihat menarik. Cahaya lampu warna-warni di setiap wahananya. Begitu pula ada atraksi lampu untuk menarik pengunjung lebih banyak di malam hari. pekerjaanku selesai tepat pukul 12 malam. Bertepatan dengan sudah tidak ada orang yang berteriak di belakangku. Aku hendak membuka kostum kepalaku. Seharian memakainya membuatku pengap.
“Eh? Tak bisa dibuka,” kataku. Sekali lagi aku menariknya keluar dari kepalaku. Untuk kesekian kalinya tidak bisa.
“Tidak bisa dibuka!” seruku panik.
Aku tidak takut hantu, tapi melihat ada kejanggalan sedari membuatku was-was. Di ujung penglihatanku terlihat seseorang berkostum princess pink menatapku dari sore ketika ku bekerja. Dan ketika aku melihatnya balik kostum itu mulai berjalan mendekat.
Dengan keadaan panik aku berlari ke arah kostum itu, aku tahu di dalamnya ada si pojok, “get me out of this costume!” seruku.
“I can’t! Help me.”
Princess pink itu hanya terdiam. Dia tidak berkutik sama sekali ketika aku mendekatinya. Aku menatap orang yang di dalam dengan lobang mata. Tapi terlihat kosong dan gelap, seolah tidak ada siapa-siapa. Sesaat princess pink itu bergerak dan memelukku.
“Now, you can stay with me,” katanya. Aku melepas pelukan menjijikan itu.
“What the hell are you doing?!” seruku.
Percuma saja berbicara padanya, pikirku. Aku berlari menuju ruang ganti kostum. Kembali ke lorong gelap dan pengap itu.
Aku sampai. Tapi, hanya ada seorang saja disana. Aku menghampirinya, meraih tangannya ke kostum kepalaku.
“Help out of here!” seruku. Dan entah kenapa dia berteriak histeris. Berusaha melepaskan genggamanku dan berlari terbirit-birit keluar. Kenapa semua orang? Aku hanya ingin meminta tolong seseorang untuk membuka kostum kepalaku. Aku ingin bernapas!
Entah kenapa taman bermain menjadi tidak ada pengunjung selama seminggu. Hanya ada orang berjas hitam dengan kalung nametag ‘tamu’ yang aku tidak gubris. Tali dan selotip kuning berada dimana-mana. Entah itu di pintu masuk, dan ruang ganti. Yang paling banyak berada di area wahanaku.
Selama seminggu itu aku terus mencari seseorang yang kukenali untuk membuka kostum kepalaku. Tapi yang ada mereka selalu berteriak dan kabur, bahkan sampai ada yang pingsan. Repot-repot aku menggotongnya kembali ke klinik taman bermain yang jauhnya minta ampun.
Sebulan. Aku sudah memakai kostum harimau neon itu selama itu. Aku gerah. Keringatku sudah sangat bau. Aku ingin keramas. Mandi dengan kostum kepala yang masih terpasang membuatku risih seharian. Jangkauan penglihatan juga semakin menyempit itu mulai terbiasa.
Enam bulan. Aku masih tak menyerah untuk mencari dan meminta tolong seseorang untuk membuka kostum kepala. Aku terlalu gerah memakai pakaian kostum itu dan membukanya, kemudian mencucinya. Aku bisa melepaskan kostum kecuali bagian kepala. Sejak awal aku sudah tahu.
Memakai baju musim panas dengan kostum kepala yang masih menempel di kepala. Aku mengipas-ngipas karena kegerahan. Sudah tak peduli lagi dengan tugasku yang mendapatkan pengujung untuk datang ke wahana roller coaster. Mereka sudah tak lagi datang. lambat laun taman bermain itu menjadi sepi. Hingga salah satu tiang penyangga biang lala roboh. Saat itu aku baru saja menyadari sesuatu.
Pengujung semakin sepi semenjak satu tahun yang lalu. Hari ketika aku pergi bekerja. Mengobrol dengan rekan kerja dan menghisap rokok di rumah. Ah. Aku ingin pulang. Tapi aku tidak bisa pulang jika masih ada kostum kepala sialan ini. Ah. Aku ingin merokok. Sudah setahun aku tidak menghisapnya dalam-dalam.
Entah tahun keberapa dan hari apa. Aku sudah tidak mengingat tanggal. Yang aku tahu hanya makin banyak ilalang dan rumput liar di taman bermain. Aku mulai bosan. Arus listrik masih ada di tower. Setidaknya aku ingin bermain wahanaku sendiri. Roller coaster.
Menyalakan lampu malam yang beruntung masih menyala. Mengaktifkan power dan mengambil kunci wahana di ruangan petugas. Menaiki tempat duduk paling depan. Aku ingin menghilangkan akrofobia.
Perlahan kereta luncur mulai berjalan dan menanjak naik. Hingga ketika berada di puncak, aku melihat seseorang dari bawah. Seseorang dengan kostum princess pink. Itu si pojok!
Kereta luncur mulai meluncur ke bawah, dari yang awalnya pelan hingga kencang. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Lambat laun pikiranku kembali ke hari itu. Suara teriakan dan histeris yng sama memenuhi pikiranku. Samar-samar aku kembali mengingatnya. Jarak penglihatanku meluas, aku bisa melihat bercak merah samar di kostum yang kupakai. Dari atas aku melihat sesuatu yang menyala. Cahaya glow in the dark berwarna hijau.
Berlari ke arah cahaya hijau itu setelah menaiki roller coaster. Wahana itu memacu adrenalinku sehingga membuat tak kuat untuk berdiri.
Kostum kepala harimau hijau neon yang sedikit penyok. Itulah cahayanya. Aku mengambilnya dari balik semak-semak. Aku meraba kostum yang kukenakkan. Tapi entah kenapa tanganku kembali memegang pundak.
“Apa ini?”
Suara kerikil bergesekkan. Aku melirik ke belakang. Kostum princess pink berdiri mematung di belakangku.
“Ah. Kau sudah tahu, ya.”
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar