Strangers
Aku tak berhak untuk bertanya. Karena aku bukan siapa-siapa.
Bertanyalah, semua orang bebas bercerita di negara kapitalis ini.
Tak ada yang akan mendengarkanku.
Ada. Aku, jawabnya.
Tapi kita bukan siapa-siapa. Aku tidak tahu kamu siapa.
Aku juga tidak tahu kamu. Tapi, emang benar, kita bukan siapa-siapa dan tak saling mengenal. Tapi bukankah itu menjadi sebuah hal yang simpel? Karena aku tidak tahu kamu. Tak saling mengenal pun adalah salah satu cara untuk saling mengenal.
Terkesan seperti orang aneh jika menatapnya langsung ke sorot matanya, tetapi perkataannya membuat kupu-kupu bertebangan di dalam tubuhnya. Pemandangan di sekitar mereka membuat obrolan itu kian syahdu. Langit biru memanjakan dengan titik-titik putih awan berterbaran. Kupu-kupu kuning terbang melewati mereka dan hinggap di dahan pinus tinggi.
Aku tidak tahu harus mulai dari mana, sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Senyuman itu tidak dapat dijelaskan. Terkadang lucu juga, ada orang yang ingin ceritanya didengar, tapi tidak tahu harus bercerita dari mana. Ujung-ujungnya, pemandangan indah ini tidak berguna kalau suasananya canggung.
Menghela napas sedikit. Mengomentari ucapan angkuh orang asing di sampingnya dalam hati.
Beberapa waktu ini, aku merasa berada di freeze mode. Ketika sedang dibebani tekanan sana-sini, otak dengan sendirinya mengalihkan diri ke sesuatu yang lain untuk menjaga diri dari stress. Karena itu, jadi sering mageran, parahnya sampe nunda-nunda pekerjaan hingga keterusan. Jadi gak fokus pas kerja, tugas-tugas pun berantakan. Sampe akhirnya aku mutusin buat cuti bentar, dan sampailah aku di sini.
Apa yang terjadi?
Pertanyaan yang sesungguhnya hanya tiga kata dibubuhi tanda tanya, tetapi dengan intonasi yang berbeda maka berbeda pula maknanya. Kira-kira seperti itu yang bisa menjelaskan pertanyaan dengan suara lembutnya itu.
Aku diutus sebagai ketua acara dengan anggotaku yang masih dibilang belia, mereka baru saja terjun dalam pekerjaan. Tidak jelas niatnya, masih main-main, ego-nya pun tinggi. Ketika sesuatu yang terjadi dengan persiapan acara tersebut, keluar semua karakter aslinya. Menghilang. Menyalahkan aku, menjadi ketua yang tidak bisa mengkoordinasi para anggotanya. Entah dari rekan kerja, junior, bahkan atasan yang terus menekan, menyuruhku membereskan segala hal.
Intonasi suaranya makin lama menjadi berantakan. Deru napasnya pun makin cepat. Tatapan matanya mengarah ke pemandangan di bawah sana. Undakan sawah berbentuk tangga-tangga besar, bebatuan gunung besar membelakangi rumah saung anyaman, dengan dua orang turis berjalan tak acuh dengan pemandangan yang dijajakan. Membuatnya ingin memaki mereka untuk menatap sawah dan bebatuan tersebut dengan keindahan.
Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bukan berada di pihak atasan yang ingin agar persiapan acara berjalan sempurna. Aku juga bukan berada di pihak anggotaku yang terus menerus merasa dihiraukan oleh atasan. Dan aku juga bukan di pihak luar. Aku bukan siapa-siapa, dengan orang-orang di sekitar yang seperti itu, bercerita kepada orang lain yang tak mengerti keadaanku untuk apa? Jelas tidak ada gunanya.
Tatapannya ketika menatap tak dapat dijelaskan, tetapi yang pasti ada tatapan iba di antara semua rasa yang ada. Tapi kamu sudah mencoba menyelesaikannya?
Aku sudah muak mencoba segala cara, aku sudah mencoba segala cara. Ekspresi mereka kemudian berbeda, menyindir dari depan dan belakang. Mungkin saja sekarang mereka sedang mencomooh dalam hati.
Ia menggeleng. Menahan tangan-tangan itu untuk menarik rambutnya sendiri. Menggenggamnya dengan erat. Gak. Gak ada yang tahu, kalau kamu bilang mungkin, maka bisa besar kemungkinan pula yang mereka pikirkan tidak seperti yang kau pikirkan, mereka tidak melakukan itu. Mendengar ceritamu, kau pasti orang bertanggung jawab dan berdedikasi dalam pekerjaan. Makasih udah bekerja keras, terima kasih sudah mencoba segala cara untuk menyelesaikannya sendiri, terima kasih sudah bertahan.
Tanpa sadar, air matanya menetes. Baru saja tersadar, ia sudah bertahan hingga saat ini. Begitu pula mencoba untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Satu kata tersebut terus menerus terngiang di kepalanya. Terima kasih.
Daun kecil kekuningan pun jatuh mengenai kepalanya. Ikut pula menenangkannya. Wujut teriknya terselip di antara ranting-ranting, menerpa mereka dengan sinar hangatnya. Hewan berkaki delapan, entah itu laba-laba atau tarantula. Diamati pun terdapat tiga, sedang bergoyang-goyang di dahan masing-masing, seolah menyemangati. Pepohonan rindang di sekitar diterpa semilir angin. Mereka tak punya penglihatan tapi terus menatap sekaligus mendengar percakapan.
Lalu ku harus apa? Bertanya dengan suara isaknya.
Kamu sebenarnya sudah tahu jawabannya, hanya saja terus teralihkan. Seolah meragukan, padahal akan sangat membantumu.
Hm. Tidak, aku tidak tahu.
Kamu tahu, kamu nya saja yang mengelak.
Tidak, gak tahu. ngomongin apaan sih?
Hah? Astaga. Orang asing ini benar-benar menyita waktuku. Katanya sambil berseringai, kemudian mengacak-acak rambut lawan bicaranya.
Suara alam saling bersaut-sautan. Jangkrik-jangkrik sangat menikmati paginya, para kambing pun ikut menyapa keramaian. Burung-burung kecil meliuk-liuk di udara menikmati langit biru pagi itu. Begitu juga dengan mereka.
Terima kasih sudah mau mendengarkan, orang asing.
Jangan memanggilku orang asing, Paman. Namaku Shiva, aku adalah Shiva.
Namamu Shiva?
Ya, enggaklah.
Lalu siapa namamu?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar