Fatimah Rasyida

Arsip. Kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan jari jemari Fatimah Rasyida, sesuai dengan nama akun ini. ps. arsip di-upload sesuai dengan keinginan...

Selengkapnya
Navigasi Web

Potongan yang Hilang

Pemandangan yang aneh. Oleh karena itu orang-orang yang melewati meja kerjanya menatap aneh. Memandangi dan mengomentari apa yang dilakukannya dalam hati. Ia berdiri. Hanya berdiri. Sambil melakukan pekerjaannya dengan berdiri. Mengerjakan dan merevisi proposal-proposal yang diberikan atasan padanya.

Wajahnya tegang. Urat lehernya nampak jelas. Tampak tubuh dan pikiran melakukan dua hal yang berbeda. Jari yang masih fokus mengetik dan pikiran yang sedang nenahan sesuatu untuk tidak ke luar. Ia memaki dalam hati. Kakinya bahkan tak sanggup untuk melangkah bahkan bergerak. Terjebak dalam situasi serba salah.

Otaknya mulai mengerjakan peta tiga dimensi, rute paling cepat dan jarang dilewati banyak orang. Rasanya ingin pulang—terdengar dari hembusan nafasnya yang berat dan decakan kecil. Seseorang menghampiri, sudah sampai mana mengerjakan yang kuminta? Menoleh patah-patah ia lakukan. Dikit lagi, Pak. Jawaban paling singkat yang ia ucapkan selama bekerja di sana tiga tahun ini.

Kamu kenapa? Atasannya ternyata memperhatikan kerut wajah dan perilakunya yang tidak biasa. Hidungnya gatal, dan bersin. Ia merasakan sesuatu, pergerakan syaraf dan refleks otot yang sudah dilatih bertahun-tahun itu menahannya untuk keluar. Maaf Pak, izin sebentar, tak peduli lagi dengan aturan berbicara yang hormat dan santun bagaimana, masalah hidup dan harga dirinya tergantung berapa langkah ia bisa capai untuk sampai di tujuan.

Tujuan. Ia mencapainya. Saking bahagianya ia membanting pintu. Mulai mengeluarkan ilmu bertapa dan indra ketujuh, seperti mengeluarkan jurus kamekameha Goku. Sesuatu berhasil keluar dari lubang, sesuai dengan fungsinya. Air dan benda padat itu bertemu, menghasilkan suara kecil—ia bisa mendengarnya dengan jelas. Menghela nafas lega sekian detik hingga menyadari hal yang beda. Sesuatu masih tertinggal di dalam sana.

Ilmu bertapa dan semedi dipakai. Pikiran-pikiran yang tak perlu dipikirkan hingga out of the box datang disaat-saat sakral ini. fokusnya terhalang karenanya, tapi ia masih berusaha. Hingga seseorang mengetuk pintu depan. Ada orang! Serunya dengan suara serak.

Nafas putus asa terdengar. Menunduk menatap objek buatan dirinya mengapung ria di bawah sana. Ia tak bisa ke luar dari sana kalau permasalahan ini belum selesai, dan ia tidak mau kejadian ini terulang lagi. Rasa resah ia rasakan. Sampai kapan pun ia tidak suka melakukannya di luar tempat nyamannya—rumah.

Duduk. Berarti ia sudah selesai dengan urusannya. Belum kelar, gak bisa keluar, pikirnya. Duduk tak nyaman, takut akan sesuatu. Potongan yang tertinggal. Berak.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

hi kak!

01 Jan
Balas

Hii ! Salam kenal btw

13 Jan



search

New Post