Fatimah Rasyida

Arsip. Kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan jari jemari Fatimah Rasyida, sesuai dengan nama akun ini. ps. arsip di-upload sesuai dengan keinginan...

Selengkapnya
Navigasi Web

Pelaut Kecil

Jam besar itu berdenting empat kali. Suaranya yang menggema hingga seluruh ruangan di rumah. Membuat semua orang berhenti dari kegiatannya dan segera menuju ke ruang makan. Aku langsung merapikan buku-bukuku dan sedikit berlari di lorong. Entah kenapa aku tidak terlalu menyukai rumah yang kami satu keluarga besar tinggali. Terlalu banyak lorong dan ruangan yang entah gunanya apa. Terlalu luas hingga membuatku sedikit lelah setelah berlari dari ruangan belajar ke ruang makan.

Aula utama dengan langit-langit yang tinggi, terdapat sebuah lukisan yang menceritakan tentang kisah legenda Yunani yang selalu nenek ceritakan kepada kami—cucu-cucunya setelah makan siang. Cerita yang selalu sama, tapi kami harus mendengarkannya seolah kami belum pernah mendengarnya.

Aku mengambil secara acak dari meja makan yang memuat dua puluh orangan itu. Dan semua tempat itu terpenuhi disini. Pelayan-pelayan mulai menaruh makanan pembuka, hingga penutup secara berurutan. Ayah tidak menyukai yang tidak teratur, tapi beliau memperbolehkan kami mengobrol sambil makan dengan saudara-saudara. Itu membuat ruangan besar itu penuh dengan gelak tawa dan dentingan piring dan sendok. Aku menyukainya. Itu membuat rumah menjadi hidup. Dari sarapan, hingga makan malam.

Menu makanan dengan warna yang selalu beragam. Membuat imajinasiku muncul dan mulai membayangkan sesuatu yang baru ketika sedang makan. Aku yang paling diam di meja panjang itu, tapi aku bisa saja tertawa terbahak-bahak sendiri ketika sedang berimajinasi. Wortel yang dipotong seperti trapesium yang membuatnya seperti perahu. Kumpulan buah yang sudah dipotong-potong itu seperti sebuah pulau.

Aku seorang pelaut yang sedang menuju pulau unik. Bertemu dengan berbagai macam rintangan di laut. Ikan tuna dan salmon yang sudah tidak berbentuk tapi buas. Binatang yang seperti sayur yang menduduki setiap pulau yang aku lewati. Dan juga air terjun berwarna putih yang rasanya seperti susu. Bebatuan yang kujadikan sebagai pengikat perahu berbentuk seperti puff pastry. Dengan beberapa ekor kepiting rebus besar yang mendiami pulau itu. Aku sedang mencari harta karun. Sebuah pegunungan yang diatasnya terdapat es berwarna-warni yang rasanya sangat lezat. Krim dengan banyak bebatuan coklat.

Menikmati kudapan terakhir yang selalu menjadi favoritku. Aku menutup mataku sambil membayangkan aku sedang mendaki di pegunungan, menikmati bau harum coklat dingin yang kudapat dari es krim tersebut. Tidak menyadari kalau aku dilirik oleh seluruh keluarga di meja itu, mereka sedikit tertawa dan menikmati wajahku yang belepotan saus coklat.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post