Fatimah Rasyida

Arsip. Kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan jari jemari Fatimah Rasyida, sesuai dengan nama akun ini. ps. arsip di-upload sesuai dengan keinginan...

Selengkapnya
Navigasi Web

Benang Merah

Bertempatan di sebuah perpustakaan. Dari luar perpustakaan itu terlihat remang dengan minim penerangan. Begitu pun pintu putih berkaca yang jika ditarik mengeluarkan suara. Terkunci dari luar. Meninggalkan seorang anak sendirian di dalam, petugas tak sengaja melupakannya.

Mendekap di antara rak-rak kayu, berserakan buku yang hendak dibacanya di lantai. Sibuk dengan dunianya tanpa mengetahui ia dikunci dari luar. Tapi tak apa, kala itu Jumat siang. Sesekali cekikikan sendiri tanpa sebab, bergoyang-goyang badannya menikmati kesendirian.

Tanpa tahu seseorang membuka kunci. Memasuki perpustakaan yang sudah lama dikenal, yang sudah menjadi kenangan baginya. Mengambil sembarang buku di rak buku remaja yang tepat di samping rak anak itu. sesekali melirik di antara buku-buku. Menatap anak itu sambil tersenyum kecil.

Yang sedang membaca tak merasa terganggu. Ia pun tahu bahwa ada seseorang di samping rak buku. Tanpa berpikir panjang pun tahu, dan tak ada rasa takut sekalipun karena anak itu mengenalnya.

“Lagi baca buku apa?” tanyanya.

“PBC, abis ini KKPK.” Ia melirik di antara celah, buku-buku berserakan di antara kakinya. Mengenal semua buku tersebut.

“Belum pulang?”

“Hari Jumat kan pulang siang,” jawab anak itu. Ia pun terkekeh dengan pertanyaannya yang retorik.

“Gimana?” tanya anak itu sembari menaruh buku dipegangnya ke tumpukan bagian kanan. Mengambil acak buku di bagian kirinya.

Ia hanya tertawa setelah mendengar pertanyaan itu, “Secara garis besar gimana?” tanya anak itu lagi.

“Menantang, tapi bisa dilewati.”

“Segitunya?” Ia mengangguk, anak itu berdecak.

“Kenapa emangnya?”

“Takut gak bisa.”

“Bisa kok.”

“Kenapa gak main benteng sama yang lain di lapangan?” tanyanya mengganti topik.

“Males, minggu depan aja. Soalnya pas istirahat, aku dapet banyak harta karun, abis itu aku simpen di sini buat dibaca sekarang,” jawab anak itu.

“Kenapa baca buku sampai segitunya sih?” tanyanya.

“Gak tau, tapi tempatnya enak,” menjawab tanpa panjang lebar. Jawaban itu pun menjadi pemikirannya sekarang, jawaban yang ia cari sejak lama, dan dijawab segampang itu oleh anak kecil.

“Udah mulai suka nulis?”

Anak itu mengangguk sumringah, “Tau gak, aku lagi buat cerita satu buku tulis, belum selesai sih, tapi tulis tangan semua dong,” bangganya. Ia tersenyum kecil menatapnya.

“Gimana ceritanya?”

“Ceritanya tentang super power gitu. Empat orang sahabat yang punya kekuatan tapi baru tahu pas udah lama gitu, jadi tahunya pas lagi mereka lagi main bareng gitu, abis itu gak sengaja muncul deh. Ada yang tanah, api, air, udara. Tapi gak ada karakter utama, empat sahabat ini karakter utamanya. Terus mereka tahu kalau musuh geng mereka ini juga punya kekuatan juga, akhirnya mereka kayak bertarung gitu, sama tanpa sengaja karena make kekuatannya kelebihan, mereka dapet peliharaan. Yang api itu singa, yang air itu pinguin, yang angin itu burung elang, yang tanah itu sigung.”

“Bukannya kalau diceritain semuanya jadi gak seru?” tanyanya.

“Tapi ceritanya seru, aku udah bilangin ke guru sama temen tentang ceritanya,” kata anak itu.

“Terus apa kata mereka?”

“Mereka gak bilang apa-apa sih.” Tatapannya jauh berbeda ketika menceritakan ceritanya itu. Berbanding terbalik. Ia pun ikut termenung. Permasalahan pun ditemukan.

“Kalau bikin cerita lagi mau dikasi tahu ke orang lain, gak?” tanyanya. Anak itu ragu, tak lagi membaca buku yang ia pegang.

“Emangnya ngaruh ya? Emangnya mereka mau baca ceritaku? Kalo gak ada yang peduli gimana?” Ia tertegun. Pertanyaan itu masih tak bisa ia jawab sampai saat ini, tak ada jawaban yang pasti.

“Pasti ada yang peduli, entah itu kapan, tapi pasti ada. Bikin aja terus yang banyak,” jawabnya.

“Udah banyak, capek tulis tangan.”

“Nanti dibeliin laptop kok.”

“Kok tahu?” tertegun sekali lagi dengan jawabannya, tak seharusnya menjawabnya seperti itu.

“Mungkin aja, siapa tahu kan?”

“Berarti nanti pas gede mau jadi penulis?” tanyanya.

“Hmm gak tahu, iya mungkin. Soalnya yang paling gampang dijawab, ya, penulis.”

“Kenapa gak kayak yang lain, astronot gitu, atau dokter, guru, apa kek.”

“Tapi bukannya cita-cita itu pekerjaan yang dilakukan dari hobi? Kalau misalkan suka main dokter-dokteran pasti cita-citanya jadi dokter. Tapi, aku kan gak suka main dokter-dokteran,” jawab polos anak itu.

“Berarti kalau suka nulis, gedenya jadi penulis?”

“Kalau gak penulis apa dong?”

“Iya juga sih. Tapi yakin sampe gede masih suka nulis?”

“Gak tahu, tapi kayaknya iya. Kalau gak gitu, emangnya aku bisa selain nulis? Aku kan cuman bisa nulis.” Ia pun tertawa terbahak-bahak. Jawaban anak itu sama persis dengan apa yang ia juga jawab.

Derap kaki sendal khas terdengar mendekat. Bayang-bayangnya berada di depan pintu. Mendengar suara itu, ia pun panik.

“Berarti semua yang berhubungan sama nulis cerita gitu, kamu suka? Pelajaran Indonesia suka?” Anak itu mengangguk.

“Kalau nanti pas gede kan kuliah dulu, mau milih apa?” tanyanya.

“Yang berhubungan sama Bahasa Indonesia ada gak?”

“Ada.”

“Yaudah, itu aja deh. Tapi emangnya bisa?”

Terdiam sebentar, sunyi menatap bayangan tersebut yang mulai membuka kunci. “Bisa.”

“Kalau gak dapet? Kan kita cuman bisa nulis doang,” kata anak itu. Pertanyaan yang tak ditemukan jawaban.

Pintu kaca itu menyapa, seseorang pun masuk. “Yaah, nulis lagi sampe bisa, kan kita cuman bisa nulis,” membalikan pertanyaan anak itu.

“Kamu bisa, pasti ada yang peduli nantinya. Nulis yang banyak aja dulu,” katanya.

Seseorang menyalakan lampu perpustakaan, tak lagi remang-remang. Begitu pula orang itu, ia juga tidak ada.

“Lho, kamu kekunci lagi dari dalem?”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

MasyaAllah..

12 Aug
Balas



search

New Post