Fatimah Rasyida

Arsip. Kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan jari jemari Fatimah Rasyida, sesuai dengan nama akun ini. ps. arsip di-upload sesuai dengan keinginan...

Selengkapnya
Navigasi Web

Being A Human (9)

Chapter 9

Aku dan Hayakawa sudah mengalami berbagai hal bersama. Kami sudah cukup dibilang mengetahui masing-masing sifat dan karakter. Dan kami hidup bersama dengan rukun. Rukun disini bisa mencangkup berbagai hal. Kami jarang bertengkar.

Setelah empat tahun, aku tidak lagi memukul wajahnya. Tidak ada lagi yang seperti itu. Sekarang kami sudah cukup dewasa dan semakin malas bertengkar untuk hal-hal yang kecil.

Tapi sehari setelah itu, tepat dimana aku memukulnya kulitnya membiru dan membengkak. Dan membuat Hayakawa mengerang kesakitan setiap kali berbicara setelah dari rumah sakit. Setiap hari aku berhadapan dengan tatapan sinis darinya yang membuatku menyesal karena telah memukulnya. Dan beribu maaf sudah ku ucapkan.

Setahun kemudian—tiga tahun yang lalu dari waktu yang sekarang. Hayakawa meninjuku balik untuk pembalasannya. Tanpa aba-aba dan tanpa direncanakan. Dia memukulku saat hendak berangkat ke kampus. Aku ingat karena hari itu saat aku sedang ada ujian presentasi, dan karena pukulannya, ujian presentasiku dimundurkan. Aku dilarikan ke rumah sakit. Hayakawa meninggalkan tiga luka jahit di daerah mulut karena robek, dan hidungku patah.

Hayakawa benar-benar sialan. Untuk satu pukulan dengan puluhan akibat itu, dia sampai ikut latihan muay thai selama setahun. Dia benar-benar menyiapkannya. Dan aku ingat sekali saat menunggu mengantri rontgen, saat dia menceritakan kalau ia ikut muay thai diam-diam.

“Pantes kau sering pulang malam-malam. Kukira kau berpesta pora karena ingin coba diskors. Kenapa milih muay thai? Kan itu lebih ke kaki.”

“Kalau aku ikut boxing, lukamu itu pasti lebih dari ini. Tuh liat hidungmu bengkok gitu, mana lucu lagi bengkoknya gitu, hidungmu seperti habis kemasukan tomat cherry gitu, nge-gembung bengkak gitu, mana patahnya keliatan lagi.” Hayakawa tertawa melihat penderitaanku yang cenat-cenut sakitnya.

Tahun ini adalah tahun yang sibuk bagi kami yang mahasiswa tahun terakhir. bertapa di Lab dan menjadikannya seperti kamar kos kami sendiri. Pergi ke berbagai perusahaan untuk wawancara kerja. Tugas presentasi yang semakin hari semakin banyak materi yang harus dipresentasikan. Menulis jurnal, draft, dan lain-lain untuk skripsi.

Aku juga sama sibuknya seperti apa yang dituliskan di paragraph sebelumnya. Tapi aku seperti merasa yang paling sibuk sendiri dengan segala tugas itu. Teman-temanku malah terlihat santai-santai saja saat kami bertemu di café untuk mengerjakan tugas bersama. Mereka seperti tidak ada takut-takutnya. Dan itu membuatku malah semakin khawatir.

Apa presentasiku dilakukan dengan benar? Kok tanggapannya jadi beda dengan yang lain? Ini bener gak sih? Eh, bener kan ya begini? Ini benar kan ya, jurnal yang kubuat?

Hm? Apa? Hayakawa? Kalau dia jangan ditanya lagi. Justru dia malah terlalu santai dibanding teman-temanku. Tapi dia kalau di lab memang selalu terlihat sedang serius mengetik. Ketikannya yang cepat dan tepat. Di mejanya hanya ada selusin cashew milk yang belum dibuka segelnya, dan kacang-kacangan. Segala jenis kacang ada di lacinya. Mulai dari merk murah sampai yang mahal ada. Beruntung aku mendapat satu lab dengannya. Jadi aku bisa melihat wajah seriusnya kalau sedang mengerjakan tugas.

Dan saat Hayakawa dan aku sampai di rumah. Kami langsung tiduran di lantai ruang tv dan dengan mager salah satu dari kami menyalakan kipas angin. Musim panas kali ini sangat panas. Kami tiduran bersebelahan dan agak berjarak lima belas senti. Itu adalah jarak maksimalnya jika Hayakawa sedang bersebelahan denganku. Musim panas membuatku berkeringat dua kali lebih banyak dari biasanya, dan itu membuat badanku bau keringat ketika pulang ke rumah, dan yang selalu menderita adalah Hayakawa. Katanya bau keringatku seperti bawang putih yang sudah busuk yang dijadikan Ayahnya sebagai pupuk tanaman di rumah. Itu memang agak—menyakitkan, tapi seperti biasa, Hayakawa selalu meng-hiperbola-kan segala hal. Jadi itu sudah hal yang tidak terlalu menyakitkan lagi bagiku.

“Kau...apa yang ingin dilakukan setelah kuliah?” tanya Hayakawa. Sejak pagi Hayakawa memang terlihat sedang memikirka sesuatu hingga sarapannya tidak dimakan dan dijadikannya bekal untuk dimakan di Lab.

“Bekerja. Semoga perusahaan yang kemarin menerimaku~ atau paling tidak perusahaan pilihan kedua, pilihan ketiga, atau empat deh. Salah satu dari keempat perusahaan itu,” jawabku.

“Kau?”

“Hmm apa ya? Aku jadi apa sajalah, yang penting cukup untuk makan dan keperluan sehari-hari. Kalau tidak makan juga tidak apa-apa sih, tidak jadi apa-apa juga tidak apa-apa. Aku bebas,” jawab Hayakawa.

“Lalu kenapa kau milih jurusan bisnis? Kau asal pilih juga?”

“Tidak. Jadi anak kedua itu melelahkan untuk melihat kerja keras anak pertama. Malu, dan merasa tidak berguna jika tidak diandalkan. Setidaknya aku punya kegunaan untuk mengurus keuangan apartement nantinya. Itupun kalau aku memang dibutuhkan.” Hayakawa menghela nafas, disusul aku setelahnya.

“Kita..sama-sama membutuhkan liburan Golden Weeks! Cepatlah datang kepada kami! Tolong kami untuk merefresh otak dari kejenuhan,” seru ku.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post