Fatimah Rasyida

Arsip. Kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan jari jemari Fatimah Rasyida, sesuai dengan nama akun ini. ps. arsip di-upload sesuai dengan keinginan...

Selengkapnya
Navigasi Web

Being A Human (18)

Chapter 18

Tengah malam. Tepat dua belas jam sebelum wisuda. Tiba-tiba saja pihak kampus mengumumkan nilai akhir kami dari skripsi dan segala nilai-nilai yang ada dikumpulkan menjadi satu. Lantai loteng menjadi bergertar aku tidak tahu apakah itu karena getara dari ponselku atau memang Hayakawa yang memukul-mukul sedang atap.

Dan karena itu aku langsung terbangun. Membuka ponsel, melihat banyak pesan yang member selamat dan grup angkatan menjadi sangat ramai bersamaan dengan itu, atap menjadi sedikit bergoyang karena ketukan cukup keras dari bawah. Tidak lain, tidak bukan. Hayakawa.

Aku membuka pintu loteng dan menongolkan kepaaku dari sana, “Nandayo? Besok pagi wisuda, aku ingin bangun cepat.”

Dia berkata sesuatu tentang website kampus, dan karena itu aku langsung mengeceknya. Bersamaan dengan banyaknya notifikasi pesan yang mengucapkan selamat padaku. Akhirnya aku mengerti. Nilai akhirku yang diatas rata-rata kebanyakan temanku, karena itu mereka mengucapkan selamat.

“Hah?”

“Pihak kampus tiba-tba memposting nilai akhir di website, tiba-tiba,” jelas Hayakawa. Aku menutup mulutku yang hendak berteriak senang. Cukup terkejut dan bersyukur dengan nilaiku. Tentu saja, nilai akhir Hayakawa juga bagus—lebih bagus dariku, dan hampir saja berada di deretan cumlaude. Namanya tepat berada di bawah mereka.

Aku tersenyum picik kearahnya. Bisa-bisanya dia dengan sengaja membuat nilinya tidak sampai dereta cumlaude, padahal Hayakawa sangat punya kemampuan untuk mencapainya

“Kenapa? Iri dengan nilaiku yang lebih bagus darimu? Ah, tapi kau juga bagus dari yang dibayangkan kok. Selama,” katanya.

“Ya. Selamat untukmu juga karena rencanamu sukses besar.”

“Berpura-pura bodoh padahal sebenarnya tidak. Kau pasti saat ujian sengaja menawab asal agar tidak ada di deretan cumlaude. Saat presentasi kau sengaja gugup sampai membuat sedikit kesalahan,” lanjutku.

“Kenapa securiga itu sih? Memangnya kenapa? Ak utidak butuh gelar cumlaud di hidupku, tidak akan terpakai,” jawabnya tak acuh.

“Hah, saatnya kembali tidur. Besok kau tidak boleh telat bangun. Kawamura! Jangan main ponsel sampai pagi,” serunya sambil berjalan ke kamarnya.

Pagi harinya kami bersiap. Hari itu, tiba-tiba kami menjadi akur. Hayakwa yang sangat payah mengenakan baju wisuda, sehingga harus aku yang membantunya. Dan kemudian saat ingin berangkat, aku melupakan topi wisudaku yang entah berada dimana. Jadilah kami berdua terburu-buru mencarinya, yang ternyata berada tersangkut di pintu loteng

Nama kami dipanggil satu-satu persatu. Pembawa acara dan para rector sepertinya sudah terbiasa dengan tradisi yang melelahkan itu.

Aku melihat tradisi itu dengan seksama, memperhatikan satu per satu mahasiswa yang ke depan panggung. Makin lama menjadi bosan dan akhirnya aku hanya bertepuk tangan disaat yang aku mau. Sedangkan Hayakawa sudah terlelap di kursi belakang. Dia benar-benar tak memperhatikan tradisi tersebut sama sekali. Ketika ia melihat seseorang yang merasa ia kenal maju ke panggung, Hayakawa menendeang kursiku dari bawah

Aku menengok ke belakang sambil berdecak Hayakawa berbisik, mulutnya bergerak dan membuat sebuah kalimat. Na..n..ti..Kau..harus..mene..mu..i…nya.

\aku tidak terlalu mengerti KESELuruhannya dan membuatnya mengulangiya beberapa kali hingga Hayakawa menyerah sendiri.

Hingga selesai acara wisuda. Dimana semua mahasiswa yang lulus ramai ber-swafoto dengan teman, keluarga, dan pasangan mereka. Hayakawa dan aku juga berpencar untuk beberaa saat. Dan aku mendapat banyak karangan bunga dan hadiah dari teman-teman dan adik kelasku, dan bahkan ada yang menangis karena aku sudah lulus

Orang tua kami berdua juga datang. Dan mereka sudah berkenalan dan member salam sebelum acara wisuda dimulai.

“Ibumu tinggi sekali, beda sekali denganmu,” celetuk Hayakawa saat pertama kali elihat ibuku.

“Ck aku sudah bosan mndengarnya. Dari tadi banyak yang bilang begitu padaku.” Aku menggerutu.

“ah, kau mirip ayahmu ya? daijoubu, kalau kau punya anak pasti dia akan tinggi juga seperti neneknya,” kata Hayakawa menyemangati.

“Ah tidak, terima kasih. Aku baru saja lulus kuliah beberapa puluh menit yang lalu, aku tidak ingin memikirkan hal-hal seperti itu,” tolakku.

“Ohya, kau sudah menemuinya?” tanya Hayakawa.

“Menemui siapa?”

“Mone Hayato, kenapa kau tidak bilang padaku saat itu?” tanya Hayakawa.

“Untuk apa kuberitahu namanya padamu.”

“Setelah itu dia bilang, aku tidak ingin bersamanya karena ada rumor aku tinggal dengan laki-laki, astaga.. kenapa bisa ada rumor yang seperti itu! Tinggal dengan siapa pun juga bukan berarti memiliki hubungan, kan?! Astaga,” lanjutku.

“Kau bilang dua kali 'astaga'. Sekecewa itu dengan pilihan yang kau pilih beberapa tahun yang lalu? tenang saja, setelah ini kita tidak tinggal bersama lagi. Kau juga sudah mendapat kerjaan di tempat incaranmu kan?”

Hai-haik, setelah ini aku akan pidah. Terima kasih untuk empat tahun ini, Kenji-kun,” kataku

“Bicarakan hal itu nanti saja setelah acara wisuda ini kelar,” kata Hayakawa.

“Shiraishi-chan tidak kesini?” tanyaku.

“Tadi dia kemari sebentar, setelah itu langsung naik taksi ke bandara,” jawab Hayakawa

“Kau akan LDR selama beberapa tahun ke depan ya? ganbatte nee.” Hayakawa melirikku, sejak tadi ia seperti memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan, tapi tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk membicarakannya.

“Sepertinya aku tahu kenapa kau diberi nama Hikaru oleh ibumu,” katanya. Yaampun, kukira dia akan sesuatu tentang hal lain.

“Sebenarnya ibumu saat masih di rumah sakit, Ibumu masih tidak tahu harus menamaimu siapa. Dan saat kalian berdua keluar dari rumah sakit, dan sinar matahari sangat menyinari hari itu, lalu kau diberi nama Hikaru,” kata Hayakawa. Aku menahan tawa, teorinya cukup jelas dan menyakinkan, tapi bukan itu.

“Memang ada sedikit hubungannya dengan ketinggian Ibuku itu, tapi bukan. Beliau maniak The Lion King, jadi Ibu mengangkatku tinggi-tinggi saat baru keluar dari rumah sakit, dan saat itu aku disinari oleh sinar matahari

“Itu lebih parah,”celetuk Hayakawa. Lalu kami berdua tertawa bersama. Taiyo-san dari jauh menunjukkan wajah tersenyumnya yang misterius, sedangkan Shin yang membawa kamera memotret kami. Dari jauh ia sedikit tersenyum miris ke arah hasil foto yang ia jepret. Karena dia tahu apa yang akan terjadi di masa depan kami berdua.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post