Being A Human (17)
Chapter 17
Entah kenapa perkataanya terdengar sangat menyakinkan, seolah-olah hal-hal yang dia katakan itu beneran terjadi di kamar atas dan membuatku sedikit khawatir. Hingga beberapa lama kemudian, aku masih memikirkannya dan langsung mengecek kamar atas
“Ah, hikaru, doshite?” tanya salah satu orang di dalam kamar atas.
“Kau mau melihat penampilan komedinya? Lucu sekali! Dari tadi kami gak bisa berhenti tertawa,” kata yang lain.
“Kalian daritadi, kayak gitu terus?” tanyaku. Mereka mengangguk.
“Oh baiklah. Maaf mengganggu penampilan komedinya.” Aku langsung mentup pintu dan kembali ke kamar Hayakawa.
“Gak kenapa-napa kok mereka, kau aja yang kebanyakan nonton drama,” kataku
“hooh.”
“kau udah jalan-jalan? Kuy lah, daripada di kamar terus, sosialisasi lah sendikit, ngobrol-ngobrol sama yan lain,” ajakku
“Yang lain tuh siapa? Cuman kau doang yang kubisa ajak ngobrol daripada anak-anak seangkatan,” katanya.
“Kalau gak salah tadi aku liat teman-teman kita yang satu lab.” Aku mengambil cola di plastik di atas meja.
“Gak, terus nanti ngobrolin apa dengan mereka? Nanyain kabar presentasi? Mengenang masa-masa sibuknya nulis penelitian di ruangan yang sama? ujung-ujungnya juga bakal awkward gak jelas. Terus hanya mendengarkan semua obrolan mereka,” kata Hayakawa.
“ya- kau- ah terserah sajalah.” Aku tak berkata-kata. Tepatnya tidak tahu apa yang harus kukatakan agar Hayakawa bia bersosialisasi dengan orang lain.
“Nee kawamura, apa yang harus kulakukan pertama kali kalau mau ngomong sama orang lain?”
“Hm? Tumben kau minta pendapatku, jarang sekali.”
“Karena kau daritadi cerewet memintaku untuk pergi keluar, ngobrol sama orang lain, dan sebagainya. Kau tau, aku sudah jalan-jalan keliling danau tiga kali daritadi, mengelilingi tempat ini sampai aku sendiri bosan. Dan tadi aku juga lihat kau didekati anak fakultas lain juga.” Hayakawa memperlihatkan sebuat foto di ponselnya kepadaku.
“Oi! Hapus foto itu, Hayakawa!” seruku. Hayakwa tersenyum mngejek, seperti mendapat sesuatu tentang apa yang ia potret
“Kau tau, meskipun aku tidak kenal siapa-siapa di kampus, tapi setidaknya aku kenal wajah-wajah yang satu fakultas denganku. Jadi, dari fakultas mana perempuan itu?”
“Sastra Jepang,” jawabku.
“Nande? Jadi saat itu kau sedang- astaga. Hontou gomen, aku tidak tahu.” Hayakawa menunduk dalam-dalam.
“Tidak apa-apa. Tapi, kenapa kau bisa-bisanya memotretku pada saat seperti itu? Kau punya bakat dalam stalking. Uwah- bahaya sekali, nanti kuberitahu Shiraishi aja kali ya,” kataku berbicara sendiri.
“Ngapain kau bawa-bawa Akari di pembicaraan ini?!” serunya
“dan juga. *ekhem* jadi gimana? Kau terima? Sekarang kau punya pacar?” tanya Hayakawa blak-blakan. Aku hanya terdiam, menggaruk-garuk kepala karena tidak tahu harus jawab apa
“Jadi gimana? Anak sastra jepang lho itu, apa jangan-jangan kau digombalin pakai puisi atau pakai kata-kata indah?”
“Tidak. Cara yang biasa. Dia suka padaku sejak beberapa kali bertemu, lalu bertanya tentang ‘hubungan lalu dia memintaku berpacaran dengannya,” jawabku.
“Cih, tipe basa-basi dulu,” ejek Hayakawa.
“Lalu kau jawab apa?”
“Aku tersenyum. Terus bilang ‘terima kasih untuk perasaanmu padaku’, terus ku beri cola, ngobrol-ngobrol sebentar, kemudian selesai.” Hayakawa hampir meyemburkan minumannya ke arahku.
“Kau beneran jawab sesperti itu?”
“Memangnya kenapa sih? Tadi juga temanku bilang begitu. Memangnya ada yang salah dengan jawabanku itu?”
“Tentu salah! Gini-gini aku lebih berpengalaman tentang cinta daripadamu, Kawamura.”
“Itu berarti kau sebenarnya belum mau punya hubungan dengan siapa pun? Makanya kau tolak dengan lembut, lebih parah lagi kalau kau tadi pakai keigo,” kata Hayakawa.
“Nah, tadi aku juga hampir pake keigo.”
“Kau.. punya pengalaman buruk dengan masalah percintaan ya?” tanya Hayakawa. Itu- adalah pertanyaan yang sudah lama tidak kudengar dan tidak ingin kudengar dan kujawab. Aku tidak tahu harus jawab apa setelah ini
“Baiklah, aku mengakuinya. Aku memang payah soal memiliki hubungan dengan wanita,” jawabku.
“Cih, skill bersosialisasimu tidak digunakan dengan baik. Teman banyak tapi yang serius gak ada, kasihan sekali,” ejeknya.
“Aku tidak ingin mendengar itu darimu.”
“Payah maksudmu itu.. selalu punya masalah dengan pasangan? Tidak tahu harus bagaimana? Apa kau memang selalu berantem terus? Apa memang kau saja yang tidak peka?” Hayakawa benar-benar menjawab semua yang pernah kualami.
“Kau paranormal? cenayang?”
“Ah, semuanya benar, kah? Sial sekali kau,” ejek Hayakawa.
“Ck, uruse naa,” seruku..
“Jadi gimana? Apa yang harus kulakukan?” tanyaku. Hayakawa mengabaikan pertanyaanku, hanya mengetik sesuatu di ponselnya.
“Hah? Oh itu, hmm, tidak ada. Kau yang terburuk, kata Akari,” jawabnya
“kau yang terburuk, aku kasihan sekali dengan perempuan itu. Kalau aku jadi dia, mungkin sudah kutendang selangkangannya. Hikaru-kun tidak punya belas kasih. Tolong bilang padanya, Hikaru tidak peka! Begitu katanay.” Hayakawa membacakan pesan dari Shiraishi kepadaku. Kemudian ia membalasnya
“Kau jawab apa?” tanyaku.
“Kawamura memng tidak peka.” Aku berdecak, merebut ponsel Hayakawa dan mengetik sesuatu.
_______
Hikaru tidak punya belas kasih!! Tolong bilang padanya, ‘dasar tidak peka!
Kawamura memang tidak peka.
Terima kasih atas pujiannya, aku sangat tersanjung
-hikaru
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar