Being A Human (13)
Chapter 13
“Haah, tadaima.”
“Gimana presentasi skripsimu?” tanya Hayakawa. Aku langsung melepas dasi dan jaketku, mengacak-acak rambut hingga berantakan.
“Uuh, dame da. Kayaknya gak bakalah daah, bye bye Hayakawa, sepertinya aku bakal gak lulus,” kataku pesimis
“Segitunya kau gugup saat presentasi? Bukannya kau sudah latihan persiapan tiap hari menyuruhku menjadi audience hingga akunya hafal sendiri apa yang kau presentasikan itu? omae.. ma-ji-de?”
“Latihan denganmu it malah makin memperburuk, tidak sesuai yang kuharap saat presentasi tadi.”
“Meh, itu urusanmu bukan urusanku. Cepetan makan! Hari ini aku yang buat makanannya,” kata Hayakawa dengan soknya.
“ittadakimasu.”
“Bagaimana dengan kau?” tanyaku. Gaimana
“Aku? apanya?”
“Persiapan kau itu lho, kau terlihat santai melulu, sesekali khawatir gitu kek,” kataku. .
“Apa yang harus dikhawatirkan? Presentsi doang,” jawab Hayakawa dengan enteng..
“Ck, iina~ kau bisa santai seperti itu, jadi pengen seperti dirimu~”
“Jangan. Jangan jadi sepertiku. Jadi dirimu sendiri saja. Jadi diri sendiri saja belum tentu kau lakukan dengan baik,” kata Hayakawa sambil makan..
“omae- tumben bisa bijak begitu,” celetukku.
“Jangan banyak tanya lah, aku juga lagi mempersiapkannya juga. Kan bukannya aku bilang, kau dan aku itu berbeda. Mau sampai kapan pun kita tidak sama. cerewet sekali seperti ibu-ibu,” seru Hayakawa, ia menyelesaikan makanannya dan pergi ke kamar.
“Gokurosama, kau yang bagian mencuci, aku sedang malas.” Hayakawa menutup pintu kamar dan menguncinya.
“kenapa dah dia? Nanka atta ka naa?”
Setelah itu Hayakawa lebih sering berdim diri di kamarnya hingga hari H-nya dia presentasi skripsinya. Wajahnya tidak terlihat gugup, tapi deru nafasnya terdengar olehku. Nafasnya berantakan akibat gugup
“Wajahmu gak usah gitu dong, kalau gugup ya gugup aja, gak usah disembunyiin,” eceletukku sambil makan cereal. Aku sudah tidak peduli apa skripsiku bakal dinyatakan lolos apa tidah, yaah setidaknya ku sudah melakukannya sebisaku, seperti yang ayakawa katakan sebelumnya..
“Aku tidak gugup,” ujarnya.
“Cih, tidak jujur dengan diri sendiri, dasar tsunder,” ejekku. Hayakawa berdecak, sedng tidak ingin melanjutkan perdebatan.
“Yang semua kau persiapkan sudah selesai kan?” tanyaku. Hayakawa mengangguk ragu.
“g- gambarimasu.”
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar