Being A Human (11)
Chapter 11
Mari kita habisi satu chapter ini untuk menceritakan tentang hubungan Hayakawa dan Shiraishi. Setiap kali aku membicarakan mereka, aku menjadi sangat bersemangat. Yang kuceritakan ini mungkin baru sedikit dari segala kepribadiannya, Hayakawa lebih dari yang aku ceritakan. Hayakawa itu sangat-sangat cool, aku dan Shiraishi terkadang membandingkanya dengan batu. Karena setiap kami mengobrol selalu hanya mendengarkan dengan tampang rata. Meskipun dia seperti kek—“Hm. Eh? OOH. BENERAN?”—dengan tampang muka yang tetap rata. Nada suara dan mukanya tidak sesuaI. Tidak sinkron.
Pertama kali aku bertemu dengan Shiraishi setelah mereka berdua berpacaran tiga bulan. Tiba-tiba Hayakawa mengajakku pergi ke USJ—Universal Studio Japan—yang berarti di osaka, dan itu pertama kalinya Hayakawa mengajak ke tempat hiburan yang aku saja tidak berekspektasi Hayakawa akan mengajak, karena- ya tidak mungkin. Tiba-tiba ngajak dadakan, sembilan jam sebelum berangkat. Tengah malam, Hayakawa mengajakku, di saat iklan televisi sedang ditayangkan.
“Kawamura, besok kau free?”
“hooh, pengen keluar tapi gak ada yang ngajakin,” kataku, sedikit mengkode kepadanya, karena selama tinggal bersama, kami tidak pernah liburan bersama. Dan juga karena saat itu awal bulan, yang berarti uang bulananku belum kupakai sama sekali.
“Yaudah, berarti setuju ya ke USJ besok pagi.” Aku menatap kearahnya, kantukku hilang setelah mendengar perkataanya.
“eh?”
“Kenapa? Kau tiak mau ke USJ besok? Kan kau bilang tadi tidak ada kegiatan esok.” Hayakaawa berkata dengan wajah santai.
“I-iya sih, tapi kenapa tiba-tiba?”
“Kau mau apa tidak? Aku sudah beli tiketnya. Jadi kau tinggal menggantinya denga biaya perjalanan dengan mobilmu.”
“Kok tiba-tiba sekali mengajaknya.” Hayakawa tidak menjawab dan berdecak. Tanda sudah tidak ingin melanjutkan obrolan ini dan bagianku untuk mengalah atau setuju dengan ajakanya.
Pagi-pagi sekali Hayakawa membangunkanku, menggedor-gedor atap ruang TV dengan tongkat baseball. Menyuruhku untuk bersiap-siap, padahal baru jam delapan.
“Uruse!! masih pagi, jangan menggangu tidurku!”
“Kita kan mau ke USJ! Ayolah! Jam sembilan sudah harus berangkat!” aku mengangkat alis, menyadari ada keanehan dari Hayakawa aku membuka pintu loteng dan menampakkan kepalaku dari sana.
“Jam sembilan? Kau tadi malam bilangnya hanya pagi-pagi kan? sejak kapan kau mengharuskan untuk berangkat jam sembilan? Kau- mengajak orang lain selain aku ya? Hayakawa.. jangan-jangan kau punya kareshi?”
Hayakawa tidak menjawab. Hanya diam. Tidak mengangguk dan tidak menggeleng. Berarti terserah apa yang kupikirkan. Kami terdiam beberapa saat dan menoleh bersaaan disaat bel pintu berbunyi. Aku tersenyum simpul dan meloncat dari loteng, menyerobotnya yang hendak membuka pintu.
Aku mengintip dari dalam. Saat menyadari kalau yang menunggu di uar adalah wanita, aku langsung melirik Hayakawa dan memberinya senyuman mengejek. Hayakawa menghela nafas, sepertinya ia sudah menyiapkan mentalnya untuk ini.
Aku bukakan pintu. muncullah seorang wanita mungil dan imut yang sulit ditebak umurnya di balik pintu. aku sedikit terkesima dengan tipe wanita Hayakawa.
“Ah, hajimemashite, aku pacarnya Hayakawa, Shiraishi Akari. Kalau tidak salah anda Kawamura-kun teman satu rumahnya Haya-kun?” saat itu aku benar-benar tidak tahan untuk tertawa dan tekerjut disaat yang sama. wajahku saat itu seperti orang aneh. Wanita itu terlalu kawaii, dari wajah, penampilan, dan suaranya.
“Ha-haik, so-sou desu.” Aku sudah seperti orang gagap.
Hayakawa menyuruh Shiraishi masuk dan duduk di ruang makan. Aku langsung buru-buru ke kamar mandi dan mandi secapat kilat.
“gomen, nunggu Kawamura siap-siap dulu baru berangkat,” kata Hayakawa dengan datar. Dari kamar mandi, sayup-sayup aku bisa mendengarkan mereka sedang mengobrol. Tetang aku yang tidur dimana, memuji rumah karena terlihat sangat rapih untuk dua orang laki-laki yang tinggal bersama. Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan yang kudengar.
Sebenarnya aku sudah selesai mandi sejak tadi, tapi aku menunggu hingga mereka tidak nyaman dan Hayakawa menyuruhku untk cepat, tapi yang seperti itu tidak kunjung datang. Dan akhirnya aku mengintip keluar. Melihat mereka sedang bermain catur. Pantas saja!
“Oi! Kau ngapain ngintip-ngintip? Cepetan beres-beresnya, kami hanya tinggal menunggumu saja,” kata Hayakawa menatap kearah pintu kamar mandi. Aku langsung keluar dari kamar mandi sambil cengengesan, berjalan ke arah ruang TV, menaiki tangga sambil menatap mereka Dengan cengengesan.
“dia gak usah dihiraukan, emang gitu orangnya,” kata Hayakawa.
Shiraishi menggeleng, “tidak kok, aku hanya cukup terkejut kau bisa tinggal dengan orang yang kepribadiannya beda 180 derajat denganmu, bagaimana kalian bisa tinggal bersama? Satu kampus?”
“Ya, satu jurusan juga. aku memungutnya dari jalan karena dia tidak punya tempat tinggal,” jawab Hayakawa. Klian tau, meskipun atap apartement—yang berarti yang dijadikan lantai loteng. Aku tidak tahu apa sebutannya—meskipun cukup tebal, tapi masih dapat mendengar suara dari bawah, dan aku mendengar semua obran mereka.
“Omatase~! Ayo jalan!” seruku. Kami bertiga ke underground parking, menuju mobil kecilku yang susah payah kubeli dengan gaji part-time pertamaku—ditambah uang tabungan sejak smp. Kami memasukkan barang-barang ke bagasi dan makanan ringan di bagian belakang. Hayakawa dan aku bertatapan sengit kemudian suit dimulai. Yang menang jadi sopir, dan aku kalah! Hayakawa dengan cepat merebut kunci mobil dan menyalakannya. Aku menagmbil tempat duduk di samping sopir dan Shiraishi di belakang.
“Ah, mari kita ulangi perkenalan kita. Domo, boku wa hikaru Kawamura, teman satu rumah, satu jurusan, dan satu kampunya Hayakawa, anata wa?” kataku dengan sopat. Terlihat Hayakawa memasang muka jijik dan Shiraishi kebingungan.
“Etto, watashi wa Akari Shiraishi, yoroshiku onegaishimasu,” katanya sambil menunduk.
“Anda sudah berapa bulan berpacaran dengan sopir ini? Dan bertemu pertama kali dimana?” tanyaku.
“Kami sudah tiga bulan, dan bertemu di club muay thai, aku coach disaa soalnya,” jawab Shiraishi
“Ara, nanto! Jadi anda yang mengajarkannya muay thai? Cukup mengejutkan,” kataku.
“Hentikan aktingmu yang seperti ibu mertua kerajaan itu! kau tidak cocok dengan peran seperti itu,” kata Hayakawa.
“Soalnya Keki-san yang mainin perannya,” kataku.
“Idih jadi itu motifmu nonton dorama, gara-gara ada Keki-san?” aku mengangguk antusias. “Keki-san itu siapa?” tanya Shiraishi tiba-tiba.
“Keiko Kitagawa-san disingkat jadi Keki, proounce-nya seperti ke-ki (cake in japanese),” jawabku. Shiraishi langsung ber-oh mengerti.
“Apa Kawamura-san juga suka dengerin lagu breakerz? Aku suka lagu-lagu mereka,” tanya Shiraishi, aku mengangguk antusias.
“iya! Pertamanya aku iseng-iseng lihat di internet dan pas denger lagunya, ternyata cocok dengan selera musikku,” jawabku. Dan akhirnya selama perjalanan kami berdua menjadi akrab karena memilki selera musik yang sama dan karaoke di mobil saat macet.
Saat sampai di USJ, kami makin akrab. Berkali-kali menaiki permainan yang sama karena kami menyukainya, hayakawa hanya menunggu sambil bermain permainan kecil yang ada. Aku malah mengambil waktu mereka untuk date di USJ. Yang antusias bermain di setiap permainan dan arena adalah aku dan shiraishi, dan Hayakawa juga menikmati waktu sendirinya dengan tenang. Dan saat aku menyadari keberadaan Hayakawa, sesekali aku menghilang dari pandangan, membiarkan pasangan muda itu menikmati waktu berdua.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar