Fatimah Rasyida

Arsip. Kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan jari jemari Fatimah Rasyida, sesuai dengan nama akun ini. ps. arsip di-upload sesuai dengan keinginan...

Selengkapnya
Navigasi Web

Being A Human (10)

Chapter 10

Golden week telah tiba~ Golden week telah tiba, Hore! Hore! Hore~!

Golden week tahun ini adalah liburan dan golden week terakhir kami sebagai seorang mahasiswa. Tahun depan kami sudah menjadi orang kantoran yang selalu memenuhi kereta setiap pagi. Memakai jas dan berjalan dengan langkah yang besar agar cepat masuk kerja. Di satu sisi aku lebih ingin menjadi pelajar daripada menjadi orang dewasa betulan yang setiap hari selalu sibuk.

Dua hari sebelum golden week Hayakawa langsung mengajakku liburan ke rumahnya. di daerah camp ground di gunung yang terkenal dengan rusa liar yang berkeliaran. Dan yang mengembang-biakkannya adalah Taiyo-san, ayahnya Hayakawa. Dan dia juga yang mengajak kami kesana untuk menikmati liburan terakhir kami. Sebenarnya aku agak curiga dengan Hayakawa, karena saat kami tiba disana Taiyo-san cukup terkejut melihat kami datang untuk beberapa saat, dan kemudian ia menyadari sesuatu dan mempersilahkan kami masuk. Sepertinya Hayakawa mengajakku sebelum Taiyo-san tahu.

Aku ke kediaman Hayakawa sudah beberapa kali dan tetap saja jalanan berliku saat memasuki gunung masih membuatku mual meskipun sudah beberapa kali kesana. Aku dibesarkan di pulau, dan Hayakawa dibesarkan di gunung. Sudah terlihat Dari itu saja, kalian bisa tahu perbedaanya. Lingkungan gunung tidak terlalu cocok untukku sebagai orang yang selalu dicap sebagai anak pantai.

Kediaman Hayakawa benar-benar menyegarkan. Udara dingin segar, pepohonan yang masih rindang. Di malam hari bintang-bintang nampak di langit malam, karena itulah Banyak pengunjung yang sebagian besar adalah penyuka dan pengamat bintang. Taiyo-san benar-benar menjaga alam dengan baik. Beliau memaksimalkan pengunjung hanya sampai 100 orang setiap harinya. 75 orang untuk reguler yang langsung pulang, dan 25 orang Untuk yang menginap. Gunung itu seperti tempat wajib untuk para turis domestik dan nondomestik untuk yang membutuhkan waktu untuk relaksasi dengan alam.

Kegiatanku selama disana kebanyakan bercengkrama dengan para pengunjung dengan skill komunikasiku yang menganggumkan, menjadi pekerja dadakan yang membantu membersihkan kotoran rusa, memberinya makan, dan mengambil telur ayam di kandang . Sesekali diajak Taiyo-san untuk Membuat jebakan rusa. Hayakawa seperti sudah sangat terampil dengan membuat jebakan dan menelusuri jejak Rusa di hutan.

Hayakawa tidak jauh kegiatannya seperti di apartement. Tidur, baca buku, memperhatikan kebun, dan melamun. Tapi kegiatan tetapnya yang selalu ia lakukan dari kecil adalah mencari jamur dan bahan makanan liar di gunung sendirian. Tidak perlu disuruh pun dia akan pergi kesana sendirian. Tapi kali ini Hayakawa mengajakku bersamanya untuk mencari bahan makanan.

Hayakawa sangat lihai berjalan melalui bebatuan besar, sedangkan aku harus bersusah payah dan beberapa kali terperosot jatuh.

“Hati-hati kalau kau tidak mau mati terjatuh dari bebatuan dan terperosok ke jurang, aku tidak mau menjadi pelaku pembunuhan,” serunya di ujung. Aku hanya berdecak sambil merangkak maju.

“Oi! Ini bukan uji kemiliteran, merangkak seperti itu malah kelamaan, aku tidak mau menunggumu lho!” serunya. Aku hanya mendiamkan seruan Hayakawa dan berusaha merangkak dengan cepat hingga sampai ke ujung satu menit kemudian.

“Jadi? Kau mau mencari apa untuk makan malam?” tanyaku.

“Entah, kau mau apa? tinggal kucarikan bahannya,” jawab Hayakawa.

“Aku tidak tahu apa aja di hutan ini, apa saja yang enak lah,” JAWABKU. Hayakawa mendesah kesal, “Jawabanmu seperti wanita, ‘terserah kau saja lah, aku ikut.”

“Memangnya Shiraishi­chan juga gitu?” tanyaku. Hayakawa mengangguk samar. “terkadang sih.”

Ah, benar juga! maafkan aku! Aku lupa memberitahu kaliAn tentang Shiraishi-chan.dua tahun lalu—yang berarti bersamaan dengan saat Hayakawa latihan muay-thai. Dia bertemu dengan Shiraishi yang seorang pelatih disana. Shiraishi melatih Hayakawa dan menjadi dekat karenanya. Dan sebenarnya sudah kuduga kalau Shiraishi-chan yang mendekati Hayakawa duluan daripada Hayakawa. Dan selama dua tahun belakangan ini aku menjadi nyamuk untuk mereka berdua. Dan saat date mereka pun mereka bertiga. Aku dan Shiraishi-chan malah lebih banyak mengobrol bersama daripada Hayakawa. Dan Hayakawa seperti sedang menjada kedua anak kecil yang sedang bermain di taman bermain.

“Kenapa tidak sekalin mengajak Shiraishi kemari? bertemu dengan calon menantu dan calon ipar?” tanyaku yang sebenarnya hanya menggodanya.

“Gak, dia sedang sibuk dengan pekerjaanya, biarkan saja, aku tidak mau mengganggunya,” jawab Hayakawa. Aku langsung menahan ketawa. “Nandayo?”

“MAAF, TAPI KAU TERLIHAT SEDIKIT BERUBAH setelah bertemu dengan Shiraishi.”

“kau tidak ada niatan untuk menikahi Shiraishi setelah kuliah? Ahaha, aku ingin cepat-cepat dipanggi Paman Hikaru,” kataku. Hayakawa menatapku tajam, tapi aku bisa melihat telinganya sedikit memerah.

“Pft- telingamu merah! Rencanamu ketahuan ya denganku? Jadi kapan kau akan melamar Shiraishi?”

“Kalau saja ini sedang tidak di rumahku, bsa jadi aku aka mendorongmu ke jurang sekarang juga,” geramnya.

“dan juga kalau kau mendorong ke jurang sekarang, kau tidak bisa mengadakan pernikahan dengan Shiraishi, kan?” ejekku. Hayakawa berdecak dan meninggalkanku..

Dan setelah kami kembali ke rumah kediaman Hayakawa, makan malam seperti berbeda dengan yang lain. Lauk ku terlihat hijau semua. seperti makanan rusa.

“Oi! Kau apakan makananku jadi seperti pangan rusa gini, Hayakawa!”

“Tumbuhan yang biasanya ada di jurang,” jawab Hayakawa dengan santai. Aku menatapnya dengan sinis kemudian memakannya. Aku tidak membenci tumbuhan, tapi melihat semua orang makan daging membuatku sedikit iri. Aku memakanya sambil menatap Hayakawa, dan raut wajahku berubah setelah memakan sesuap dari lauknya.

“Gimana rasanya, huh? Seperti terjatuh dari jurang kan?” ejek Hayakawa. Aku menatapnya sinis sambil mengelap mulut dengan tissue.

Naa Hikaru, nih daging rusa kalau kau tidak mau makan itu.” Taiyo-san memberiku semangkuk daging.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post