Fatimah Rasyida

Arsip. Kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan jari jemari Fatimah Rasyida, sesuai dengan nama akun ini. ps. arsip di-upload sesuai dengan keinginan...

Selengkapnya
Navigasi Web

Aku Menemukannya !

Kata Ayah takdir itu gak usah dicari, nanti juga bakal ketemu sendiri. Masalahnya kapan akan bertemu? Seperti ide. Tidak perlu dicari tapi akan muncul secara tiba-tiba. Di saat yang terkadang tidak tepat untuk mendapatkan ide karena tidak dapat ditulis. Ide itu harus ditulis ulang seperti pelajaran, diikat biar gak kemana-mana. Eh? Kok jadi kemana-mana pembicaraanya.

Ya. aku sedang mencari takdirku. Meskipun seperti ini hidupku sudah lumayan secara financial. Meskipun tidak bekerja dengan jabatan yang tinggi, tapi aku cukup senang dengan pekerjaanku saat ini. Kalau misalnya mendapatkan diangkat ke jabatan yang lebih tinggi, aku akan bersyukur. Kesempatan gak boleh ditinggal gitu aja kan..

Dan ternyata kesempatan itu benar-benar datang hari ini. “Eh? Beneran Bu?” tanyaku untuk kedua kalinya.

“Tapi kantor yang akan kamu tempati ada di kota, bukan di kantor cabang di desa seperti itu,” jawab Ibu Bos.

“Di kantor pusat bu, maksudnya?”

“Belum sampai ke kantor pusat kok, masih di kantor cabang. Tapi perjalananmu untuk ke kantor pusat sudah berhasil satu langkah, tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapai kesana, jadi bekerja keraslah di kantor yang baru nanti, Erin.”

“Baik bu, terima kasih!” seruku. Dengar apa yang dikatakan Bu bos tadi? Aku akan dipindah tugaskan dari desa kecil ini ke kota! Bertemu lebih banyak orang dibanding disini. Berarti kesempatanku untuk bertemu takdir menjadi lebih besar daripada di desa. Tapi sebelum itu, aku harus menyelesaikan pekerjaanku disini dulu dan perlahan mulai membereskan barang dan kemudian pindah, dan juga harus mencari kost atau apartement disana dulu.

“Senior Mai! Tolong check mail, bagianku sudah kukirim disana,” kataku.

“Baiklah. Ini pekerjaanmu yang terakhir sebelum berangkat ke kota ya? Mulai senin kau sudah ada di kantor yang berbeda, mungkin aku akan merindukan suaramu yang ceria itu,” kata Mai.

“Yaah, tidak ada lagi suara krenyes-krenyes ayam lagi,” kata Erik, teman satu kampus, sama seperti senior Mai.

“Memangnya sesering itu aku membawa ayam goreng?”

“Kalau Erik bisa hafal suaranya, berarti memang sesering itu kau membawa ayam goreng,” celetuk Mai.

“Kami akan merindukanmu disini, selamat atas kepindahannya ya, semangat ya Erin!” kata Erik. Aku tersenyum pepsodent dan menepuk-nepuk pundak mereka berdua.

“Namaku Erin dari kantor cabang, senang bertemu dengan kalian sebagai rekan kerja,” kataku. Mendapat tepuk tangan yang cukup meriah dan sepertinya aku akan diterima dengan baik di kantor baru kali ini.

“Erin ini akan menjadi salah satu manager, kalau ada yang ingin ditanyakan tentang pekerjaanmu, kau bisa bertanya dengan seniormu. Baiklah semuanya, kembali bekerja!”

Aku mengambil box barang-barangku dan membawanya ke meja dimana seharusnya aku berada. Kali ini kantornya berbeda dari sebelumnya. Suasananya juga berbeda. Mereka semua terlihat focus dengan apa yang ada di depannya. Apa yang sedang mereka kerjakan. Dan tak terasa ada seseorang yang menepuk pundakku.

“Anu, maaf sebelumnya, ini meja kerjaku. Tempatmu ada di depan sana. Kau disini menjadi manager kan? Hmm, apa yang harus kukatakan padamu? Aku bawahanmu tapi juga lebih lama disini,” kata wanita paruh baya itu.

“Pakai formal saja jika bertemu di kantor. Dan maaf ya tentang mejamu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan pertama kali saat masuk ke kantor yang baru,” kataku jujur.

“Perkenalkan, aku Leila, kalau ada yang perlu ditanyakan tentang kantor atau orang-orangnya bisa bertanya denganku. Dan kalau butuh saran tentang pekerjaan, mungkin kau bisa bertanya dengan Pak Rein, karena beliau pernah menjadi manager sepertimu, dan juga karena mejamu dan mejanya tidak terlalu jauh daripadaku,” kata Leila. Aku mengangguk kecil, mndengar saran yang ia berikan.

Sudah setengah tahun. Setiap saat tidak ada waktu untuk memikirkan takdir atau yang lainnya. Naik pangkat membuat pekerjaan lebih bertambah dibanding sebelumnya. Sehingga setiap hari aku harus bisa focus sejak pagi agar bisa menyerahkan pekerjaan tepat waktu. Pulang selalu malam dan mengambil bus terakhir. Sesampainya di rumah sudah tidak bisa menonton TV atau bersantai, selalu tertidur karena capek.

Hidupku menjadi membosankan. Tidak punya waktu untuk berjalan-jalan berkeliling daerah tempat tinggalku selama enam bulan terakhir ini. Setiap pagi dan malam selalu ada yang namanya menghela nafas lesu

Untuk sekian kalinya, aku menghela nafas lelah. Tidak memiliki minat untuk ceria di siang yang ini. Rein terlihat melirik. “Oi, bukan waktunya untuk mengeluh,” serunya padaku. Aku mengangguk. Aku sendiri juga tahu itu, tapi itu tak bisa dihindari.

Malam itu aku hampir saja tertinggal bus terakhir. Tidak ingin tertinggal bus terakhir karena aku malas menggunakan uangku untuk membayar taksi. Seperti kebiasaan baru ketika baru saja tinggal di kota, aku menghela nafas lagi sesaat memasuki bus, dan juga sedikit terengah.

“Ck, tidak di kantor ataupun di bus, kau selalu mengeluh. Tidak baik untuk kesehatan. Cerialah sedikit seperti pertama kali kau datang ke kantor.” Suaranya seperti kukenali, aku melirik ke bangku paling belakang.

“Yo! Entah aku harus bilang apa, tapi kita selalu bertemu di bus yang sama. Ah, tapi mungkin kau tidak menyadarinya karena kau asyik mengeluh tiap mengawali dan mengahiri hari,” katanya.

“Ah, Pak Rein. sepertinya memang iya,” kataku, aku terlalu capek untuk melanjutkan obrolanku dengannya.

Erin. Si kaki baja. Sebutanku padanya, tentu saja aku tidak memberitahu kepada siapa-siapa tentang nama itu. Dia selalu berdiri di bus, padahal tujuannya berada jauh di pemberhentian terakhir, aku tahu itu karena tempat tinggalku berada di pemberhentian kedua terakhir. Dia jarang duduk di kursi penumpang meskipun banyak kursi yang kosong. Dan juga sejak satu minggu pindah, ia selalu mengeluh di pagi hari dan juga saat pulang. Aku malas mendengar keluhannya.

“Kalau capek, duduk di kursi penumpang. Atau saranku lebih baik kau mengambil cuti libur untuk berjalan-jalan keliling kota, di kota punya banyak hiburan jika kau mau mencarinya,” kata Rein.

“Tidak perlu, liburanku adalah tidur. Beristirahat sudah cukup untukku,” kataku menolak.

“Lho, Rin? Kau hari ini datang? Kukira kau cuti hari ini,” kata Leila.

“Aku belum mengambil cuti liburku sama sekali. Kata siapa aku cuti?” tanyaku.

“Pak Rein. Beliau sudah memberitahu Bos tentangmu, katanya kau nitip pesan sama dia,” jawab Leila.

Aku kemudian kembali teringat perkataan Ayah ketika aku meminta saran tentang seseorang yang kusukai saat kuliah. ‘Takdir gak usah dicari, nanti juga ketemu sendiri. Kadang di tempat yang kau tidak akan menyadarinya. Nanti ada saatnya kau menyerah untuk mencari takdir, padahal disaat itulah kau sudah menemukannya. Kan, tidak ada yang tahu cara seperti apa kau bertemu dengan takdirmu. Bisa jadi berbeda dengan Ayah bertemu dengan ibumu atau juga sama. Tidak ada yang tahu kecuali kamu sendiri’

Ayah! Aku sepertinya menemukannya!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post