Fatimah Rasyida

Arsip. Kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan jari jemari Fatimah Rasyida, sesuai dengan nama akun ini. ps. arsip di-upload sesuai dengan keinginan...

Selengkapnya
Navigasi Web

Aku, Kau, Bulan, dan Rindu

Lampu remang-remang, oranye warnanya. Menyelimuti kamar petak kecil, ventilasi yang kecil membuatnya jauh lebih pengap dari biasanya. Suara-suara dari kamar-kamar sebelah begitu terdengar. berbagai macam suara, dan lengkingan. Kali ini sang Istri dari kamar atas terdengar membuat suara keras, membentak suaminya yang pulang malam, bentakan dibalas dengan teriak. Air dalam gelas terlihat berderak kecil. Tak ada yang bisa dilakukan, menghela napas pun menjadi usaha yang sia-sia.

Menatap kosong layar di depannya. Sesekali melirik post-it catatan di dinding. Tidak ada yang bisa dijadikan ide. Bangkit dari duduk diamnya, mengambil sebatang rokok dari kloset kamar mandi. Suara kamar atas pun semakin menjadi-jadi, hingga lampu remang-remangnya berceceran di lantai. Bertatih-tatih keluar dari kamar gelap gulitanya sembari meringis kecil, beberapa pecahan bohlam mengenai kaki.

Tak ada yang bisa dilakukannya, menegur pun tak bisa, apalagi mengadu. Malam menjadi musuhnya sejak kecil. Identik kesunyian dan gelap. Hal yang dibencinya sekaligus takut. Beruntunglah menemukan pemukiman sudut kota dengan kamar kos kecil, dan jarak dari kamar lain pun berdekatan. Malam-malam itu menjadi bising.

Sedikit berlari menuju lahan kosong di belakang pemukiman. Tempat yang selalu disinari oleh lampu-lampu pemukiman sekitar. Kala itu sedang musim dingin, bodohnya dia hanya menggunakan jaket setipis tisu. Mengusap-usap tangan sambil meniupinya. Tak sengaja melirik kegelapan di atas sana. Langit tidak lagi gelap, bulan menerangi sekitar. Bulan purnama dengan cahayanya persis bohlam lampu, putih. Menatapnya lekat-lekat. Entah sejak kapan dia tidak mendongak, memandang keindahan awan abu.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam… menghitung waktu menatap terangnya bulan. Tibalah di penghujung enam puluh. Seringai pun tergambar dari wajahnya.

“Hari ini, tiga menit,” ucapnya bersamaan dengan bulir-bulir es jatuh dari langit, menutupi sebagian lahan kosong dengan warna putih polos.

Pikirannya pun mulai berbicara. Entah di belahan bumi mana, kuharap ia juga menatap Bulan itu sama sepertiku.

Tatapan itu kosong. Menatap gedung-gedung yang lewat bergitu cepat. Langit sedang berwarna jingga. Kehangatan warna itu sedikit membuatnya tersenyum. Satu, dua, tiga, empat.

Hari mulai berganti, tapi pencapaiannya belum menyentuh enam puluh. Mendesah perlahan, mengganti tatapannya yang murung seraya menatap halte bus ketika ia turun. Biasanya ada seseorang yang menunggunya, duduk dengan kaki bergerak bergelantungan, menyapanya dengan berseringai—entah itu caranya tersenyum atau memang tidak tahu bagaimana caranya untuk tersenyum.

Menghela napas kecil. Ia tetap tidak bisa melupakannya. Semua tempat yang diinjaknya memiliki semua kenangan itu. tanah-tanahnya pun masih tersisa jejak-jejak kaki mereka bersama.

Meneguk sekaleng bir hingga tuntas. Memang sangat cocok untuk melepas penat setelah bekerja seharian. Sekaligus menenangkan pikirannya yang sudah tak terkondisikan itu. Entah sudah berapa teguk atau kaleng bir yang ia habiskan. Menatap Bulan bersinar putih dari depan toko kelontong. Semakin meneguknya, makin jernih pikirannya. Menetapkan sesuatu pada hatinya, yakin bahwa ia memang sedang Rindu.

Terbentang sejauh mata memandang. Tanpa batasan bidang. Memandang rendah makhluk-makhluk kecil di bawah sana. Dengan guratan-guratan cahaya buatan mereka. Menggeleng kecil ketika melihat tingkah laku salah satu dari mereka. Dua diantaranya saling terkoneksi. Secara sengaja atau pun tak sengaja, ketika mereka menatapku dari bawah. Menatap mereka berdua dengan sendu. Mereka berharap ia akan bergerak sesuai keinginan mereka, tapi apa kata Tuhan? Ia tak bisa bergerak mendekat atau pun menjauh. Berandai-andai dengan mimpi tak akan bisa diwujudkan. Andaikan saja aku bisa melakukan sesuatu untuk membantu mereka.

Wahai Bulan. Jangan bersedih. Tuhan menciptakanku bukan sebagai sekedar perasaan seperti angin lewat. Aku dihadirkan untuk menyatukan.

Tak perlu bersedih jika kau hanya menjadi perantara. Memang begitulah tugasmu. Tugasku adalah mempertemukan, seperti apa yang dikatakan Takdir.

Perasaan aneh itu semakin bertambah. Semakin lama tidak fokus dengan layar di depanya. Suara-suara itu dari sebelah tak lagi menjadi gangguan. Hanya pikirannya tak henti berucap. Mendesak hingga mengerang keras. Kemudian terdiam, mereka tahu ada yang tak beres dengan kamar remang-remang itu.

Pikirannya semakin tak bisa berpikir jernih. Semakin menghindar semakin datang ribuan kata yang enggan diucapkannya. Bulan menjadi aneh untuk ditatap, alih-alih menatap keindahan, ia malah membayangkan orang itu.

Pekerjaannya teralihkan. Sepersekian detik ia memandang ponselnya, dengan tatapan mengharap. Sepulang bekerja pun begitu, menatap kosong gedung-gedung yang berjalan cepat. Pikiran-pikirannya kembali menghantui. Pertanyaan-pertanyaan tak terjawabkan itu mengapung di dalam kepalanya. Ahh, aku Lelah.

Menatap kembali langit gelap itu, mencari-cari Bulan. Tertutup dengan salju yang turun, sulit memastikan antara butiran salju putih dan sinar putih Bulan. Menatap perkebunan di kegelapan itu, hampa. Orang lain bahkan tak tahu apa yang ia pikirkan. Bus yang ia tumpangi pun berhenti di pemberhentiannya. Bergegas turun tanpa menyadari seseorang menunggu.

“Woah!” Mereka saling bertatap. Seringai kecilnya terpampang dari mulutnya yang mengepul asap rokok. Menggandeng plastik hitam, memamerkan derik suaranya.

Ia yang baru saja turun, tak memahami situasi yang ada di hadapannya. Yang ia lakukan hanya berjalan beriringan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Aku sangat senang, hampir saja memelukmu tadi.” Ia memberanikan diri mengutarakan isi hatinya.

“Apa kau sedang menggodaku?”

Ia mengangguk pelan, dan dia berjalan lebih cepat darinya, berusaha menghindar. Membuatnya harus berlari kecil untuk mengejar kepulan asap rokok itu.

“Aku rindu padamu,” ucapnya sembari mematikan rokoknya. Tersipu malu.

Senyumnya kemudian merekah indah, “Kalau begitu, bukan hanya aku yang merasakannya.”

Satu, dua, tiga, empat, lima. Hingga detik ke seper-ratus. Mereka tersenyum menatap satu sama lain. Hari ini, kebahagiaanku tiga menit.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post