Malam Penyambutan Terakhir
Malam itu, kuburan itu muncul. Di perbukitan bersama 500 anak tangga. Bersama cahaya bulan yang berubah arwah untuk bernaung dengan tenang di kuburan itu.
Malam penyambutan telah tiba. Kuburan yang berpayungkan pohon beringin itu menyusutkan aura kelamnya, lalu tumbuhlah aura yang berpelangi. Aura yang memeluk cahaya bulan, gemerlap malam, siulan angin, elusan akar ...
Dan sosok penghuni kuburan itu.
Aku tak tahu siapa penghuni kuburan itu. Aku menyaksikan sendiri mengejutkan itu. Lalu merenungi sendiri kenapa aku bisa berada di sana saat itu. Kakiku gemetar nyaris tak cakap melangkah entah alasan apakah itu.
Lalu, buatlah yang misterius akan diminum nanti menjadi kemunculan kedua. Di malam penyambutan yang baru saja tiba. Dengan menghadiahi setangkai dahlia sebagai persembahan kepada penghuni kuburan.
Makhluk itu bersembunyi di malam hitamnya.
Bermata merah.
***
Aku menyaksikan anak-anak bermain di bawah pohon beringin dan di perbukitan yang sama. Hanya saja, tak ada kuburan dan makhluk misterius di perbukitan itu. Mereka hilang di pagi hari sejak orang-orang tua dari lembah bukit mulai memanjat anak tangga untuk mengambil sumber air sumur pada puncak bukit.
Aku menikmati masa-masa menonton anak-anak yang bermain riang tanpa ada gangguan itu. Mengingat makhluk misterius kemarin, aku sempoyongan ingin melarikan diri dari kenyataan bahwa aku benar-benar melihat makhluk itu.
“Hei, anak-anak. Kakak boleh ikut main?”
Tak ada jawaban dari mereka. Mereka mungkin menikmati keseruan dari permainan itu. Entah apa nama permainannya.
Anak-anak menggores lingkaran oval di tanah tepat kuburan itu tertanam. Mereka menimbun oval itu dengan batu-batu kerikil, lalu ditaburi berbagai macam bunga. Mereka menyiramnya dengan air, lalu bermainlah mereka. Menginjak-injak medan oval, membasahi diri dan tanah, menebari bunga-bunga, dan mengores-coret batang pohon beringin. Semua itu mereka lakukan dengan riang.
Aku senang melihatnya. Hanya saja, aku baru menyadari anak-anak sekarang merusak keharmonisan letak kuburan. Bisa saja penghuni kuburan masih terkubur di sana, meski kuburannya hilang.
Pada dasarnya, penduduk yang ada di lembah bukit memang tak pernah tahu ada kuburan yang tertanam di lapisan bukit. Pasalnya, kuburan itu akan menghilang pada pagi hari saat matahari terbit—ketika orang-orang mulai aktif melakukan aktivitas. Seperti dahlia yang menutup diri dari keramaian dan menyenangkan diri di malam yang penuh sambutan.
Malamnya, anak-anak menuruni anak tangga dan pulang ke rumah masing-masing. Karena langit mulai gelap.
Dan kuburan itu muncul lagi! Bersama residu-residu bekas mainan anak-anak yang berhamburan di bawah pohon beringin sehingga kuburan itu terlihat kotor.
Ya ampun. Harusnya aku bilang ke anak-anak untuk membuang sampah-sampah itu.
Aku menepuk jidat, kemudian menengadah ke langit seraya menimang-nimang butir-butir kesendirian yang tersisa di malam ini. Aku seperti ditimpa alienasi, yang mana bintang-bintang tak lagi semarak bermain bersama bulan. Sepi, semuanya gelap tertimbun awan. Tak ada binar malam yang menyejukkan suasana untuk menghapuskan teror seramnya malam tanpa cahaya.
Dan makhluk misterius itu menjadi kemunculan kedua.
Refleks, aku bersembunyi di balik pohon beringin tatkala makhluk misterius itu muncul. Ternyata, makhluk itu membereskan semua sampah-sampah mainan anak-anak. Aku nyaris tepergok karena hampir ingin berteriak ketakutan.
Tak lama kemudian aku mengintip lagi. Makhluk itu menghilang. Mungkin ia akan kembali, atau tidak?
Kuburan itu bersih sekarang. Malam itu, pertama kali aku berdiri lebih dekat dan bernaung bersama kuburan itu. Ia tanpa cahaya, tanpa keharmonisan kalbu. Nisannya yang tanpa nama menyatakan dirinya yang tanpa identitas.
“Salam, penghuni kuburan,” tuturku melisankan salam, membuka suatu percakapan kecil.
“Mungkin aku bukan siapa-siapa. Tapi, kuburanmu seakan menjadi penyambutan malam untukku. Entah antara rasa gembira atau takut yang harus kuungkapkan, aku tak tahu. Karena hari ini kau tak menunjukkan aura cerahmu yang pernah kau tunjukkan kemarin. Apa karena makhluk misterius tadi kau menyembunyikannya?”
Aku tak tahu harus bertingkah apa. Pertanyaanku meracau.
Oh, tentu tak sopan rasanya mengunjungi penghuni kuburan tanpa persembahan. Tanganku mencabut akar-akar gantung beringin muda dan melingkarinya pada kuburan itu. Setidaknya, ini bisa menjadi tanda dan peringatan untuk anak-anak yang biasa bermain di sini.
Tanpa kusadari sejenak, makhluk misterius kembali muncul. Sosoknya yang mencengangkan persis di hadapanku dengan membawa setangkai bunga dahlia. Ia hanya seekor kucing hitam!
Di saat yang sama, hadir suatu momen yang tidak tepat. Seorang kakek tua melihat kuburan itu dengan tingkah ketakutan. Ia menemukan hal yang tak pernah dilihat orang-orang, yaitu penampakan kuburan ini.
Lalu hal gempar terjadi. Anak-anak tak lagi bermain di bawah pohon beringin dan orang-orang tua tak lagi memanjat anak tangga mencari sumber air. Hanya aku yang tersisa, yang tiap hari menunggu malam untuk disambuti.
Dan malam itu adalah malam penyambutan terakhir.
Kucing hitam itu bisa bicara. Ia pernah berucap panjang bahwa dirinya ditinggalkan majikannya yang meninggal 5 tahun lalu. Kuburannya tertanam di bukit ini, persis di hadapanku dan si kucing. Kuburan itu dikutuk akibat melawan aturan suci bahwa tak boleh ada pemakaman di bukit ini, hingga pada akhirnya kuburan itu hanya muncul pada malam hari. Dan tidak seorang pun yang bisa mengetahui asal kuburan itu, kecuali atas kehendak si pengutuk.
“Bagiku, tiap malam adalah waktu yang istimewa. Aku bisa menghadiahinya bunga dahlia favoritnya,” kata si kucing hitam memelas pelan.
Malam. terasa istimewa juga bagiku. Rona indah kuburan itu terpancar saat malam hari. Dan aku menyukai keajaiban itu, seakan malam menjadi tradisi penyambutan.
“Selama majikan meninggal, aku menangis tiap hari hingga mataku merah. Aku tahu kau pasti ketakutan melihatku pertama kali,” tutur si kucing lagi seraya tertawa kecil.
Menurutku, ia sudah terlalu berlebihan. Majikannya pasti meluapkan kasih sayang yang besar terhadapnya.
“Kau tahu siapa majikanku?” tanyanya lagi, “Ia sekarang berada di sebelahku, sedang mendengarkan ceritaku di hadapan kuburannya sendiri. Kouno.”
Aku membelalak.
Aku lupa semua tentang hal itu. Aku sudah mati! Dan kali ini, aku baru mengingatnya.
Benarkah itu? Berarti dia kucing hitamku! Dan aku adalah penghuni kuburan.
“Tuan Kouno, aku punya permintaan. Itulah alasan mengapa Tuan tidak bisa pergi ke dunia selanjutnya.”
“Lalu, apa permintaanmu?”
Kucing hitam itu tersenyum. “Tolong ucapkan bahwa Tuan mencintaiku seumur hidup. Aku ingin dengar itu sebelum Tuan Kouno meninggalkanku.”
Kucing hitam itu menangis. Pada tetesan air mata terakhirnya, aku menurut. Hingga tubuhku seperti dikepung sesuatu, cahaya.
“Aku mencintaimu, Mitsuo. Kucing hitamku. Kumohon, jagalah kuburanku.”
Lalu, aku tak dapat lagi menikmati keajaiban malam. Namun, aku adalah medium yang menjadikan malam menyambutku.
Malam penyambutan terakhirku.
Assalamu'alaikum. Semoga teman-teman suka ya, cerpennya. Cerpen ini pernah diikutkan dalam acara Festifal Cerpen Swalova dari penerbit Swalova dan akhirnya terpilih untuk dibukukan ....
😄
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Keren tulisannya. Saya suka saya suka...