Elin Nurtobibah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
BAGIAN 2

BAGIAN 2

BAGIAN 2

DUNIA BARU

Sejak saat itu ufaira kembali tinggal bersama ibunya, setelah ibunya pulang dari luar negeri ibunya selalu memanjakan ufaira dengan berbagai barang-barang, mainan yang cantik-cantik. Segalanya dia lakukan demi mebahagiakan putri tercintanya.

“ibu, ufa gak perlu barang-barang ini, ufa gak perlu mainan sebanyak ini, karena percuma, itu semua gak akan bisa buat ufa kembali bahagia seperti sebelumnya. Cukup ibu dan ayah kembali bersama, kebahagiaan itu melebihi bahagia ufa bersama mainan-mainan ini”.

Ibunya hanya bisa tertunduk dan menangis, mengingat kembali perlakuan ayah ufaira yang telah menghianatinya. Namun apalah orang tua, mereka akan berbuat apapun demi kebahagiaan anak-anaknya. Waktu berjalan begitu cepat akhirnya ufaira pun lulus dari sekolah dasar. Kelulusannya ditemani oleh kedua orang tuanya. Kini ia kembali menjadi ufaira yang berbahagia. Dengan segala kebahagiaan yang ia miliki sepenuhnya. Namun bayang-bayang masa lalu tak mampu ia hapuskan dari memorinya, tetap saja tersimpan dengan baik, dan dia sempat berpikir mungkin sekarang tidak akan sebaik sebelumnya.

***

Setelah lulus dari sekola dasar, kedua orang tua Ufaira kembali bersatu. Ayahnya kembali kepada ibunya, dia menyadari kesalahan-kesalahannya pada ibunya, dia meminta maaf kepada ibu Ufaira dan seluruh sanak keluarganya.

Kebahagiaan Ufaira lengkap dengan kelahiran adik laki-lakinya yang bernama Umara Hussein. Seperti pada umumnya dia harus menjadi seorang kakak yang dapat menjadi contoh untuk adik-adiknya. Namun dia memang anak yang tidak banyak menuntut kepada orang tuanya, tidak banyak meminta dan tidak banyak macam-macam meskipun Dia dan keluarganya adalah keluarga yang sangat berkecukupan.

Kini saaatnya Ufaira menginjak bangku sekolah menengah pertama, untuk merundingkan masalah kemanakah dia akan melanjutkan sekolahnya, kedua orang tuanya menyerahkan keputusan itu kepadanya sepenuhnya, mereka akan mendukung keputusan itu selama masih dalam koridor yang wajar.

”Ibu, Ayah, Ufa mau melanjutkan sekolah kepesantren, Ufa mau sekolah yang berbasis pesantren, Ufa mau jadi santri. Boleh ya bu, yah”.

“boleh sayang, berarti sekarang kita tinggal mencari kamu mau ke pesantren mana ya. Nanti bersama ayah dan ibu yang carikan pesantren untuk kamu. Tapi itu juga tergantung kamu, pas atau tidaknya di pesantren itu”.

“Iya Ayah, ibu makasih yaa”.

***

Ufaira besama orang tuanya mencari pesantren ke berbagai daerah, awalnya ayahnya merencanakan Ufaira untuk pesantren di Tasik Malaya, namun ibunya yang menolak katanya itu terlalu jauh untuk Ufaira yang baru lulus dari sekolah dasar. Kemudian mencari lagi disekitaran Cianjur.

“Pak Hussein, kebetulan anak saya sedang pesanter di Cianjur, siapa tahu Ufa berjodoh juga pesantren disana bersama anak saya” kaat pak ustadz.

Pada saat itu ayah Ufaira ingin meminta pendapat kepada seorang ustadz dikampungnya perihal pesantren untuk anaknya. Meminta pendapat lah ayahnya kepada pak ustadz itu. Beliau adalah pak ustadz Abdullah, guru mengaji Ufaira sewaktu sekolah dasar, selain sekolah di siang hari, dia juga mengaji pada waktu malam hari di rumah pak ustadz. beliau adalah orang yang sangat tegas, ketika pengajiannya sedang berlangsung ada santri yang tidak memperhatikannya, beliau akan langsung menyuruh santri itu untuk berdiri di tempat. Atau ada santri yang tidur, beliau langsung menyuruhnya untuk menuju ke belakang dan kembali berwudhu. Tapi di sisi lain beliau adalah orang yang sangat penyayang, beliau juga orang yang sangat humoris. Tak jarang di sela-sela pengajian beliau selalu menyelipkan candaannya yang membuat santri-santrinya tertawa sampai-sampai yang tertidur kembali segar lagi karena gelak tawa.

Beliau membimbing santri-santri sudah sejak lama sebelum Ufaira mengaji dirumahnya. Beliau adalah orang yang sangat gigih dalam mendirikan berbagai lembaga pendidikan dirumahnya. Meskipun terkadang dengan bayaran seikhlasnya dari para orang tua murid\santrinya. Beliau begitu ikhlas membimbing santri-santrinya. Begitu pula dengan sosok istri pak ustadz, beliau adalah ibu ustj. Suadah. Berbeda dengan sikap pak ustadz, bu ustj. Sangatlah penyayang. Belau sangat penyabar, beliau juga salah seorang guru di sekolah dasar Ufaira, dan beliau adalah wali kelasnya pada saat kelas satu dan dua. Dengan telaten beliau membimbing murid-muidnya penuh kesabaran dan senyuman. Beliau adalah seorang yang selalu mencoba dan tak pantang menyerah dan pepatah itulah yang terus melekat dipikiran Ufaira sejak dia berada di sekolah dasar.

Pada saat Ufaira kelas dua SD, dia mengikuti perlombaan membaca sajak sunda. Beliaulah yang membimbingnya menuju perlombaan itu, dengan kesabarannya membimbing Ufaira sampai dia berhasil meraih juara dua tingkat kecamatan. Atas bimbingan ustj. Suadah dan atas usahanya yang mendapat genjotan dari ustj. Yaitu tidak boleh pantang menyerah.

Begitu pula anak-anak beliau, Ufaira sangat berterima kasih sekali atas kebaikka-kebaikkan mereka yang tanpa pamrih yang telah mengajarakan ilmunya. Sebagian pula anak-anak beliau adalah guru Ufaira juga.

Setelah ayahnya berbincang dengan ust. Abdullah, akhirnya dia pulang kerumahnya dan membicarakan apa yang telah dibahas tadi bersama guru mengajinya Ufaira kepada ibtri dan anaknya.

“Jadi begitu teh*” (foot note: panggilan kakak dalam bahasa sunda)

“Oh pesantrennya a luthfi bukan yah?”

“iya, itu pesantren a luthfi”

“tapi kayaknya teteh kurang srek deh yah, soalnya teteh maunya boarding, teteh gak mau capek harus bolak-balik sekolah pesantren teteh maunya yang setempat langsung yah”

“ya sudah kalau begitu nanti ayah sama ibu cari informasi lagi ya teh, sabar dulu ya”

“iya ayah”

Adik bayi Ufaira mun menangis di tengah perbincangan mereka, karenanyalah suasana menjadi hangat dan terus terlukis senyum bahagia dibibir Ufaira. Semuanya kembali seperti semula, dia bersama-sama dengan orang tuanya, mereka berbahagia dengan kehadiran adik kecilnya dan suasana yang lebih harmonis dibandingkan sebelumnya. Dalam batinnya ia tak henti-henti untuk mengucap syukur kepada rabbnya setelah apa yang telah dialami olehnya, dan seolah menjadi mimpi buruk apabila itu terjadi kembali.

***

“Teteh sini, ibu punya sesuatu nih”

Sehabis ibu pulang dari pengajian mingguan dia memanggil Ufaira.

“iya bu, ada apa?”

“ini ibu ada brosur pesantren boarding school, dari temen ibu pas dipengajian ngobrol sama temen-temen ibu, soal ibu mau carikan pesantren buat teteh”.

Selembar brosur sudah berada di atas tangannya, seteliti mungkin dia membaca seluruh aspek yang menyangkut pesantren itu. Beberapa lama kemudian setelah dengan seksama dia membacanya.

“Ibu, teteh mau coba survei pesantren ini ya”.

“ya sudah besok kita survei pesantren ini sama ayah ya sayang”.

“Iya ibu”.

***

Pepohonan yang menjadikan penglihatan sejuk dan segar, dengan bangunan yang bernuansa hijau yang memancarkan kedamaian. Namun masih tampak sederhana dan biasa saja, di bandingkan dengan bangunan lain yang telah ia survei bersama orang tuanya. Sambutan yang sangat ramah dari para penyambut tamu yang datang kala itu, menandakan bahwa bukan hanya bangunannya yang berwarna hijau yang memancarkan kedamaian,tapi orang-orang yang ada didalamnya pun tak luput dari kedamaian itu, dari senyuman pertama kali itu memancarkan kedamaian pula didalamnya.

“Assalamualaikum ibu, bapak, maaf ibu dan bapak mau mendaftarkan putrinya?” kata salah seorang santriwati yang sedang duduk untuk menerima tamu.

Dari senyumnya pertama kali Ufaira lihat, dia merasa bahwa santriwati tersebut berwatak baik hati dan penyayang. Dengan tutur katanya yang lemah lembut, sopan santun dan sikap yang sangat ramah, mencirikan seorang santriwati sejati.

“Waalaikum salam neng, maaf ini saya mau survei dulu tentang pesantren ini, semoga cocok dengan putri saya pesantrennya ya”. Kata ayah.

“Oh iya bapak, boleh sekali ya saya akan memaparkan bagaiman program dan sistem dipesantren ini”.

Dengan panjang lebar dan sangat jelas sekali, santriwati itu menjelaskan segalanya kepada orang tua Ufaira, nampaknya mereka setuju apabila dia pesantren disini. Namun segala keputusan mereka serahkan kepada nya.

“mari ibu, bapak, saya ajak untuk melihat-lihat bangunan dan asrama putrinya”.

“oh iya iya mari”

Begitu sederhana pada saat awal mata Ufaira memandang, namun pepohonan rindanglah yang menjadikannya sedap diamata Ufaira. Ketika masuk ia disuguhkan dengan sebuah lapangan dan bangunan sekolah yang masih dua tingkat. Nampak disana teradapat tumpukkan bahan bangunan yang menandakan bahwa pesantren itu masih dalam tahap pembangunan. Kemudain dia menuju sebuah bangunan yaitu mesjid yang berada diantara rumah pak kiyai dan asrama putri. Masuklah dia kedalam asrama putri, dia melihat satu persatu kamar yang ada didalamnya, didalam kamar dia disuguhkan dengan senyuman manis para penghuni kamar tersebut, dan mereka sebagian ada yang sedang mengerjakan tugas ada yang sedang beristirahat dan berbagai kegiatan pribadi lainnya, karena kebetulan pada saat dia survei itu adalah hari minggu.

Naiklah Ufaira dan orang tuanya yang di pandu oleh santriwati tadi yang menyambutnya didepan, setiap lantai dan ruangan dia jelaskan satu persatu bersama cerita-cerita seru tentang berbagai kegiatan snatri di pesantren ini. Menuju lantai dua disana terdapat sebuah ruangan dapur dan etrdapat santriwati yang sedang memotong beberapa macam sayur.

“nah bu, pak disini sistem masaknya dipiket perkelompok, jadi tidak setiap hari’.

“oh iya iya”. Angguk ayah dan ibu Ufaira.

Menuju ke lantai tiga disana terdapat sebuah tempat untuk menejmur pakaian.

“Disini juga harus mencuci sendiri ya dek, hehe jangan di laundry ya harus belajar, atau jangan dipulangkan kerumah dicucikan sama ibu. Disini harus belajar mencuci sendiri, nah disini jemurannya”.

“oh iya kak”. Jawabnya dengan mengangguk-angguk tanda dia mengerti.

Dari lantai tiga mereka bisa melihat sekeliling pesantren tersebut yang dikelilingi oleh pesawahan hijau yang sedap dipandang. Pesantren itu terletak di pusat kecamatan Cibeber, terletak setelah alun-alun dan pasar, menuju pertigaan sebelah kiri dan 100 meter dari jalan raya, tidak jauh. Disekeliling pesantren itu adalah pesawahan dan dibelakang pesawahan adalah pasar induk, jadi mudah apabila hendak membeli kebutuhan dipesantren jikalau sudah habis.

“Jadi gimana teh, mau gak pesantren disini?” kata ayah.

“iya mau”. Jawab ufaira.

Akhirnya Ufaira menentukan keputusannya dari berbagai kibingungan untuk memilih pesantren yang tepat. Alasannya entah kenapa dari awal masuk gerbang pesantren itu dia sudah merasa betah didalamnya. Dengan kedamaian yang terpancarkan oleh pesantren itu membuat ia merasa berjodoh dengannya.

***

Sejak seminggu lalu Ufaira dan ibunya sibuk mempersiapkan perlengkapan dan kebutuhan yang akan ia bawa selama mondok di pesantren itu. Dalam seminggu itu ia bersama orang tuanya mendatangi rumah-rumah sanak saudaranya, bermaksud ingin meminta ijin atas keberangkatan putrinya menuju sebuah pesantren. Tak sedikit pula dari keluarganya ikut membekali, memberikan sedikit uang jajan kepada Ufaira, dan doa terbaik untuknya disana.

Kemudian dia meminta ijin kepda guru mengajinya ust. Abdullah, dia meminta ijin dan doa agar mendapatkan keberkahan dari sang guru untuk memulai perjalanan barunya, dan juga dunia baru untuknya.

Berbagai petuah dan nasehat diberikan oleh beliau kepada Ufaira dan orang tuanya berpamitlah ia kepada pak ustadz ibu ustj. Dan juga kepada anak-anak beliau. Ketika bersalaman dengan salah seorang putri beliau,

“kamu harus aktif ya Ufa disana, sayang lanjutkan bakat-bakatmu disana, tingkatkan dan terus raih ciat-cita kamu dengan cara kamu harus aktif disana, semangat, harus betah gak boleh cengeng”.

Memang Ufaira dekat dengan salah satu putri pak ustadz itu karena beliau sering bergabung dengan santri-santri, bercerita tentang pengalaman-pengalamannya yang menginspirasi, dan selalu memberikan motivasi kepada santri-santrinya. Tak jarang Ufaira dan teman-temannya sering bertukar cerita bersama teh Alma, putri pak ustadz. Dia bercerita perihal melanjutkan sekolah dan berbagai hal tentang pesantren. Sewaktu dia mengaji ditempatnya.

***

“Sudah siap semuanya teh?”.

“Sudah bu, semuanya udah teteh sama ayah masukkin ke box yang besar itu”

“ya sudah berarti sudah siap ya semuanya, gak ada yang ketinggalan kan, nanti susah lagi ngambilnya kalo ada yang ketinggalan”.

“Udah kok bu, tadi di cek semua sama ayah”.

Malam ini hati kecilnya berada dalam dua sisi, disis lain dia senang karena akan segera menuju pesantren dan menjadi santri seperti yang dia inginkan. Namun disisi lain ada kesedihan yang mendalam karena dia akan tinggal sendirian dipesantren. Tanpa orang tuanya, nenek, dan saudaranya yang lain. terutama dia akan begitu merindukan adik bayinya yang dalam masa-masa lucu. Tapi sepertinya hal ini tidak terlalu berat untuknya, karena tiga tahun yang lalu dia sempat memiliki pengalaman dimana ufaira tanpa kedua orang tuanya. Semua itu menjadikannya terus bersyukur. Pengalaman itu bukan hanya menjadi mimpi buruk baginya namun ada segudang hikmah didalamnya.

***

Pagi hari rumahnya sudah dipenuhi oleh sanak keluarganya, ada sebagian yang ikut mengantarkannya ke pesantren dan sebagian juga yang hanya berpamitan dan mendoakannya.

Sesampainya dipesantren itu, digerbang depan telah dipenuhi banyak orang yang sama sepertinya, yaitu akan mengikuti tes seleksi untuk masuk ke pondok itu. Ada yang sudah sembab matanya sedari tadi, ada yang jajan dengan wajah biasa saja tanpa kesedihan, dan ada pula seperti yang enggan untuk mengikuti seleksi itu. Berbagai keadaan mereka tunjukan pada pagi itu. Mungkin mereka juga adalah calon teman-temannya.

Begitu pula sama halnya dengan apa yang dirasakan Ufaira saat ini. Dia nampak tegang karna dia takut tidak lulus masuk dites itu.

“Jangan tegang ya, pasti bisa kok harus kayak ayah semuanya pasti bisa”

kata ayah ufaira yang berbadan bongsor, wajahnya sedikit sangar apabila dilihat sekilas. Namun dihadapan anaknya, dia adalah sosok ayah yang sangat penyayang, dan sangat mengayomi anak-anaknya. Sikapnya selalu lembut dan bijaksana. Tapi siapa tahu disisi penyayang itu ketika dia marah, Ufaira pun terberit-berit bersembunyi dibelakang punggung ibunya. Berbeda dengan ibunya yang bersikap bawel dan selalu tegas dalam segala hal. Sekiranya menurutnya ada sesuau yang tidak tepat pasti dia akan menegurnya, dan langsung memberikan nasihat-nashatnya. Tapi itulah orang tua, dibalik semua sikap itu, berarti mereka sangat menyayangi buah hatinya agar tetap berada pada kebaikkan.

***

Waktu menunjukkan pukul setengah delapan dimana saatnya acara pembukaan tes seleksi itu dimulai.

“Doain teteh ya ayah ibu, semuanya semoga teteh dilancarkan tes seleksinya”.

Ufaira memohon doa kepada semuanya. Langkah demi langkah dia ayunkan menuju lapangan utama untuk melaksnakan upacara pembukaan. Nampak disana seorang modertor yang sedang mengatur acara.

Dimulailah upacara pembukaan itu , dengan beberapa sambutan dari seseorang berbadan bidang, berwibawa tinggi dan memiliki kulit laki-laki sejati. Beliau menyampaikan sambutan-sambutannya dengan singkat dan jelas namun dibalik sambutan yang singkat itu terdapat banyak hal yang bisa didapat olehnya. Diantara sambutnnya adalah:

“Berjuanglah dengan mengisi soal-soal seleksi itu, jangan menyerah sebelum mendapatkan hasil, jadi berusahalah sampai kamu puas atas hasilnya,. Kecuali kalau kalian ingin kalah sedari awal”.

Beliau adalah sesepuh di pondok itu, beliau adalah ust. Munawir. Dengan kewibawaannya, beliau nampak gagah sekali.

“Assalamualaikum wr. Wb”

“Waalaikum salam wr. Wb.” Jawab hadirin secara serentak.

“Semangat pagi” sapanya.

Sambutan kedua disampaikan oleh seorang perempuan yang berwibawa pula. Namun disela-sela itu nampaklah beliau adalah seseorang yang penyayang dan sangat ceria. Dengan sambutan yang panjang lebar dan isi sambutannya juga sangat berpengaruh untuk semangat Ufaira dalam mengerjakan tes seleksi itu.

Selesailah sudah upacara itu, semua calon santri yang akan mengikuti tes digiring oleh panitia menuju rungannya masing-masing, yang telah ditentukan. Ufaira memasuki ruangan no. 3. Dia sangat tegang namun tak henti dia membaca bismillah demi kelancarannya.

“Hi, nama kamu siapa?, kenalkan nama aku Ufaira dari pagelaran, cianjur selatan”.

“oh iya hello, namaku putri dari daerah dekat sini kok, salam kenal ya”.

“oh iya putri”.

Ufaira sebangku dengan seorang anak perempuan seusinya, Ufaira adalah anak yang senang bersosialisasi pula, dimanapun pasti dia akan dengan mudah mendapatkan teman baru. Karena dia juga teringat pesan ayahnya.

“Dimanapun itu, carilah teman, perbanyaklah teman, karena memiliki teman seribu itu tidaklah cukup Ufa”

Disnalah dia diajarkan untuk pintar berkomunikasi namun harus tetap dengan etika dan kesopanan.

Nampaknya soal-soal itu sedikit sulit untuknya, karena sedari tadi dia hanya mengerjakan beberapa sola saja. Iya dia tidak mempersiapkan dirinya dengan menghafal untuk melakukan tes. Jadi dia hanya berusaha mengisi soal dengan sebisanya, dengan jantung yang berdebar-debar karen takut nilainya tidak akan masuk kedalam kriteria kelulusan. Seharusnya hal seperti itu tidak boleh terjadi karena kita harus mempersiapkan segala sesuatu dengan semaksimal mungkin

Selesailah Ufaira mengerjakan soal-soal tes tadi. Kini akhirnya dia tinggal menunggu pengumuman kelulusan.

“Gimana soal-soalnya, gampang gak?, bisa gak Ufa ngerjainnya?”.

“Bisa dong kek, Ufa bisa ngerjainnya, meskipun agak sulit soalnya Ufa gak rajin ngafalinnya kek”.

“kakek, sama nenek doain semoga hasilnya terbaik ya”.

“Aamiin” dengan serentak semuanya mengaminkan doa tersebut.

Kembali Ufaira mencium adik bayinya yang sedang dalam masa lucu-lucunya, ia menggendongnya mengajaknya main karena dia pasti akan lama tidak bertemu dengan adiknya. Dia bercengkrama pula dengan paman-paman dan bibi-bibinya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post