Kebenaran Dirinya
Negara Sadora yang di pimpin oleh Presiden Gian itu memiliki sejarah kelam. Yang diakibatkan oleh keluarga Gian sendiri. Azzura Gianshah Putri, anak sulung yang dua tahun lalu tewas didalam kamarnya. Diduga Zura bunuh diri dengan memakai pisau yang digores pada lehernya. Namun, masih banyak pertanyaan pertanyaan yang berkeliaran dipikiran masyarakat. Tidak mungkin anak presiden yang dikenal sangat mementingkan hidupnya tiba tiba saja bunuh diri.
Kembali di dua tahun lalu. Pohon Kamboja dengan ciri khas warna putih dan tengahnya berwarna kuning itu tumbuh bermekaran di area TPU. Langkah kaki para keluarga presiden itu terasa sangat berat akan kepergian sang anak sulung itu. Para keluarga dengan baju bernuansa hitam itu berdiri di dekat makam mendiang Zura. Membaca doa untuk almarhumah Zura.
--Kenzy Gayandra Putra, laki laki yang sudah lama bersahabat dengan Zura itu masih tidak percaya akan rumor yang sudah mulai terpendam di dua tahun lalu. Ia masih mencoba mencari bukti bahwa Zura adalah korban pembunuhan. Bahwasanya Zura adalah perempuan kuat yang bisa menahan masalah hidupnya. Kenzy kenal betul Zura anaknya seperti apa.
Pagi buta dengan kacamata yang sudah terpasang dikepalanya itu. Ia kini sedang berjalan jalan di pinggir istana. Mencoba mencari kebenaran atas tewasnya Zura dua tahun lalu. Ketidak percayaannya itu membuat pikirannya yang sudah berkelana dua tahun lamanya.
"Ken, udah ikhlasin aja," ucap Farsel salah satu keluarga Zura.
"Sel, kamu nggak ada rasa aneh gitu? Zura nggak mungkin bunuh diri, Sel!" Kenzy masih keras kepala.
"Iya tau, tapi itu udah dua tahun lalu... Nggak mungkin kamu mau nyelidiki kasus yang sudah lama ditutup itu, Ken," Farsel melontarkan sebuah ucapan.
Kenzy hanya mendengus kesal. Ia masih tidak yakin akan rumor para keluarga Gian. Masalahnya, setelah kejadian itu kasus kematian Zura dibiarkan begitu saja tanpa diselidiki lebih detail. Hal itu yang membuat Kenzy merasa curiga. Barangkali ada biang kerok yang mencoba membayar orang tersebut.
Kenzy juga berpikir bahwa tidak mungkin Zura bisa menebas lehernya sendiri. Tetesan darah juga hari itu berceceran kemana mana. Walaupun hanya titik titik, tidak mungkin kan kalau darah itu sampai kemana mana dengan satu arah.
Tempat orang orang dengan memakai seragam biru tua perhiasan topi di kepalanya. Tempat dimana semua masalah masyarakat bisa diselesaikan di tempat itu sebelum ke pihak pengadilan. Ya, Kantor polisi itulah tempat dimana Kenzy bekerja. Setelah mengelilingi istana, Kenzy datang untuk ke kantornya.
Mencoba mencari pisau yang dipakai oleh Zura untuk bunuh diri, ia memang masih menyimpannya. Dirinya mencoba untuk menyelidiki lebih lanjut, namun dikarenakan tugasnya padat sekali. Hal itu selalu tertunda.
Setelah mendapatkan pisau yang ia cari. Ia pulang dan masuk ke ruangan forensik yang terdapat diruangan rumahnya. Mencoba mencari sidik jari yang ada di gagang pisaunya. Namun ternyata, banyak sekali sidik jari yang berbeda beda. Ia tahu pisau itu memang banyak dipegang oleh orang rumah.
Satu jam setelah pengamatan, Kenzy mendapatkan satu bukti dan mencoba mencari bukti lain. Namun, tiba tiba saja atasannya menelpon dan menyuruhnya ke kantor polisi sekarang. Dengan segera Kenzy pergi ke kantor polisi menemui atasannya.
"Kenzy, sampai kapan kamu menyelidiki kasus itu?" tanya Atasannya dengan mata mengintrogasi.
"Sampai saya dapat jawabannya, saya masih merasa ada yang tidak beres," jawab Kenzy dengan nada yang agak tegas.
Bapak Hune sang atasannya itu merasa iba saat melihat semangat Kenzy yang masih terbakar. Laki laki paruh baya itu hanya bisa memberi dukungan dan doa. Menepuk pundak Kenzy dan mempersilahkan Kenzy untuk pergi dari ruangan.
Hari demi hari Kenzy mengisi waktu luangnya untuk mencari kebenaran yang ada.
Hari ini Kenzy sedang diundang ke acara keluarga dengan Bapak Presiden Sadora --Gian. Duduk diantara keluarga besar Gian. Tatapannya tertuju pada semua anggota keluarga, sepertinya dia mempunyai sedikit rencana untuk mendapatkan bukti selanjutnya.
"Kak Kenzy, kamu apa kabar? Sudah lama tidak bertemu," ucap Eliza wanita berusia 20 tahun dengan rambut pendek dan badan yang langsing.
"Baik, El," jawab Kenzy dengan senyuman.
"Iya memang sudah lama, Kenzy saja masih menyelidiki hal yang sudah benar benar ditutup," ungkit Farsel secara tiba tiba.
Tatapan Kenzy terlihat datar mendengar ucapan Farsel. Laki laki berkacamata itu hanya fokus pada makanannya. Sedikit kesal akan ucapan Farsel yang tidak bisa disaring itu. Memakan makanan yang ada dihadapannya dengan lahap.
"Ken, kamu belum ikhlasin kepergian Zura?" tanya Eliza dengan mata yang sayu dan lembut.
Kenzy hanya tersenyum seraya melanjutkan makannya. Kini piring yang semula penuh dengan makanan sekarang sudah habis tidak tersisa. Kenzy meletakkan sendoknya dan melihat sekitar. Suasana masih hangat saat itu. Tiba tiba saja Farsel membisikkan ucapan untuk Kenzy.
"Udahlah Ken, kamu butuh istirahat, jangan Zura Mulu pikiranmu," ucap Farsel seraya meletakkan telapak tangannya ke pundak laki laki berkacamata itu.
Tatapan yang tidak tahu apa artinya itu terlontar pada mata Farsel. Seperti ada hal yang disembunyikan olehnya. Hal itu membuat Kenzy sedikit curiga. Dirinya berdiri dan pergi keluar dari istana berwarna putih itu. Mencoba memikirkan dengan tenang kasus yang selama ini ia cari.
Taman dengan tanah yang ditutupi dengan rumput kecil berwarna hijau. Dipinggir pinggirnya ada tanaman hias yang tersusun sangat rapi. Kupu-kupu berwarna coklat dengan paduan warna hitam itu terlihat sangat indah. Laki laki berkaca mata itu sedang menikmati suasana sore hari. Berpikir kenapa Farsel begitu ingin dirinya melupakan kasus kematian sahabatnya itu.
Perempuan berambut terurai lurus pendek dengan tubuh yang ideal ---Eliza menghampiri Kenzy dengan tatapan lembut serta membawa satu piring roti bolu kesukaan Kenzy. Mencoba menenangkan pikiran sahabat mendiang saudaranya.
"El, Kamu tahu siapa yang tidak suka sama Zura?"
"Aku nggak tahu pasti, Kak."
"Tapi--- aku hanya tahu--- kalau Zura di sekolah dibully sama temannya."
"El, tidak mungkin seorang Zura bunuh diri cuma gara gara dibully. Aku kemarin sudah menemukan sidik jari sang pembunuh, tetapi aku gak yakin kalau orang itu membunuh Zura."
Eliza hanya menatap Kenzy dengan tatapan lembut. Tidak tahu harus berbuat apa untuk Kenzy. Ia pun meminta ijin untuk pergi meninggalkannya sendiri di taman itu. Ia melihat Laki laki putih tinggi itu mengangguk lembut. Perempuan itu kini berjalan berlawanan arah dengan tempat semula.
Kenzy terdiam sejenak memikirkan cara apa lagi untuk mencari petunjuk kasus Zura. Tiba tiba saja ada sesuatu yang terlintas dikepalanya. Kejaksaan yang bisa membantunya untuk mencari petunjuk petunjuk kasus Zura. Kenapa tidak dari dulu dia memikirkan itu ---pikirnya.
Mengeluarkan benda pipih yang ada disakunya. Mencari nomor telepon yang ia kenal, kebetulan kenalannya itu adalah jaksa. Melihat layar ponsel yang kini sedang memperlihatkan bahwa Kenzo sedang menelpon seorang Jaksa.
"Pak Kim, saya butuh bantuan anda."
"Anda tahu kasus tentang almarhumah Zura putri Presiden Gian 'kan?"
"Saya minta bantuan anda untuk bertemu dengan saya nanti malam, apakah keberatan?"
Malam hari dengan suasana dingin. Tempat ramai dengan lampu lampu indah itu adalah tempat pertemuan Kenzy dengan ---Kim Taeyeeung sang Jaksa. Duduk manis di kursi yang terbuat dari kayu dengan meja bundar yang ada di depannya. Bermain ponsel seraya menunggu Kim datang.
"Maaf baru datang, ada apa, Pak Ken?" Kim Taeyeeung duduk di depan Kenzy.
"Tidak apa apa Pak Kim, saya hanya ingin minta bantuan anda untuk mencari informasi kasus kematian Zura," jawab Kenzy meletakkan ponselnya.
"Kasus yang sudah lama ditutup itu? Apakah masih ada yang janggal, Pak?" tanya balik laki laki yang merupakan orang pindahan dari Korea.
"Saya masih curiga, apalagi--- penyelidikan kematian Zura dihentikan secara tiba-tiba. Apakah itu wajar, Pak Kim?" jawab Kenzy dengan tatapan tegas.
"Saya juga berpikir seperti itu, Pak. Saya akan mencoba mencari petunjuk lain. Anda bisa mencoba mencari saksi mata yang hari itu ada di sekitar istana," balas Kim Taeyeeung merespon ucapan Kenzy.
Kini mereka berbincang serius namun tetap santai. Mereka bekerja sama untuk menyelidiki dan mencari lagi kasus tentang kematian Zura. Berbagai cara mereka gunakan untuk menjawab semua pertanyaan. Kenzy memberikan petunjuk yang kemarin sudah ia dapatkan ---sidik jari seseorang. Kim Taeyeeung merasa terbakar semangatnya mendengar ucapan Kenzy.
"Baiklah, Pak. Saya akan mencari petunjuk lain, sementara Pak Ken coba interogasi kembali keluarga Pak Gian," ucap Kim Taeyeeung seraya bangun dari duduknya.
Kota dipenuhi dengan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Istana putih tempat Pak Gian beristirahat sementara dan bekerja. Kenzy sedang bertemu dengan scurity istana itu ---Ahmad. Orang yang hampir 24 jam berkeliling istana hari itu. Namun jawaban pak Ahmad tidak membuat Kenzy percaya.
"Saya tidak ingin anda berbohong, jawab jujur!" bentak Kenzy dengan tatapan tajam.
"Saya--- disuap oleh seseorang," jawab Pak Ahmad. Pak Ahmad juga menceritakan semua yang ia ingat hari itu. Jawabannya tidak ada yang ia tutupi. Semua murni atas kejadian yang ia lihat.
Kenzy tercengang tidak percaya. Ia pun berterima kasih kepada scurity tersebut dan kembali ke kantor kejaksaan menemui Kim Taeyeeung. Memberi rekaman suara yang sudah ia rekam saat berbincang dengan Pak Ahmad. Kebetulan Kim Taeyeeung juga mendapat informasi dan petunjuk lainnya.
Beberapa hari sudah mereka lalui, Kenzy datang ke istana dengan jaksa Kim Taeyeeung. Membuat suasana istana menjadi tegang. Farsel yang hari itu sedang santai sontak menjadi tegang. Bersama Eliza dengan tatapannya yang lembut seraya menyambut kedatangan Jaksa Kim yang baru pertama kali datang ke Istana.
"Kenzy, kamu beneran membuat kasus ini diselidiki lagi?" tanya Farsel tiba tiba.
"Tenang saja, Sel, jangan tegang gitu dong," jawab Kenzy tersenyum menyembunyikan arti.
Kim Taeyeeung membacakan bukti yang sudah lama terkumpul. Suasana seisi istana menjadi tegang. Pak Gian yang mendengar itu pun menangis terkejut. Merasa bahagia telah menemukan jawaban siapa pembunuh Zura.
Di tempat pengadilan itu, Semua orang sudah merasakan ketenangan melihat pelaku sudah dihukum penjara seumur hidup. Wanita langsing berambut lurus pendek itu adalah pelaku sebenarnya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar